Sabtu, 04 November 2017

Suddenly I Found You Remake Part 2

2 Tahun kemudian, Oktober 2016…

Aku resmi di lamar Rendi Khan, si Pria berusia 35 Tahun ini melamarku di hotel Hilton Kuala Lumpur, Malaysia. Pertunangan resmi itu di hadiri sahabat-sahabat dekat Rendi dari Indonesia juga Malaysia, begitu juga dengan kerabat dekatnya, termasuk ayah dan ibu almarhum Amanda yangjuga paman dan Tante dari Rendi, aku saat ini sudah berhijab. Aku tak pernah lagi memakai pakaian ketat atau celana Jeans lagi, pakaianku aku ganti menjadi sebuah gamis yangmenutupi seluruh lekukan tubuhku dan jika terpaksa memakai celana, yangaku kenakan bukan celana jeans tapi celana model kulot yangtak membentuk lekukan tubuhku dan kemeja yangaku kenakan pun kemeja yang panjangnya sampai lutut.

Sekarang, aku sudah menjadi psikolog ternama di Malaysia, aku juga salah satu bintang tamu acara kesehatan Lets Health and Be Healthy Malaysia. Program itu dulu di rajai oleh Rendi, tapi karena ia begitu sangat sibuk akhirnya Rendi meninggalkan acara Talk Show tersebut. 

Saat pesta pertunanganku di Gelar, ada beberapa stasiun Televisi yang meliput termasuk Stasiun Televisi Indonesia. Mereka menyiarkan pesta pertunanganku dengan Rendi, secara Live dan bukan tidak mungkin Lee Jun Gi bisa melihat acara Live di televisi ini. 

Pesta pertunangan ala India ini sanggup menyedot seluruh iklan-iklan dari Malaysia dan Indonesia sebagai sponsor. Rendi Khan, selain menjadi dokter, ia juga menjadi model iklan kesehatan dan model iklan sabun pembersih wajah laki-laki, namanya memang bergaung di seantero Malaysia dan Indonesia, wajahnya yangkental ala artis India, sanggup menambahkan uang ke rekening pribadinya sebagai model, Bintang Iklan dan dokter. 

Sesekali Rendi masih suka mengajar, tapi tidak sering. Karena itulah, aku jarang sekali bertemu dengannya, meskipun kita menjalin hubungan serius ke jenjang pernikahan. 

Rendi Khan, di pesta pertunangan itu menyanyikan lagu Saajaanji Ghar Ayyee, lagu original soundtrack Film Legendaris Kuch Kuch Hota Hai. Saat Rendi menyanyikan lagu itu, suara di aula hotel itu bergemuruh, tepuk tangan yangseakan tak berhenti dari para tamu membuat Rendi Khan menjadi trending topic, bahkan berita pertunangannya denganku sanggup menjadi bahan pembicaraan berita gossip di Indonesia. 

Setelah aku resmi menjadi tunangan dari Rendi Gunadi Khan atau yang sekarang lebih di kenal dengan nama Rendi Khan, aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Aku akan melanjutkan study S3 ku di Universitas Padjajaran Bandung, selain itu, aku memang di terima menjadi seorang Psikolog di Rumah Sakit Ahmad Dahlan, Bandung. Ada harapan kecil untuk bertemu Lee Jun Gi saat itu, tapi aku urungkan niatku, aku harus fokus pada Study S3 ku dan pekerjaanku sebagai Psikolog muda. Pekerjaanku itu menuntut aku untuk tampil cantik dan modis, padahal dari dulu aku tak pernah suka make Up, tapi sekarang aku di tuntut untuk belajar make Up sendiri. 

Aku biasa menerima curhatan-curhatan orang lain atau di sebut Konseling, aku juga merekrut karyawan di pabrik-pabrik yang ada di kota Bandung atau karyawan Rumah Sakit di kota Bandung, aku juga menjadi dosen di tempatku kuliah dulu, Universitas Padjajaran. Setelah hampir 6 bulan aku ada di Bandung, aku tak pernah melihat Lee Jun Gi, aku hanya bertemu denga Tante Jae Ha di toko Roti milik Ibu dan ayahku. Ia senang sekali ketika melihatku mengenakan hijab. Aku juga mendapat kabar bahwa Paman Jae Joon sakit-sakita 2 bulan setelah kematian Amanda pada Oktober 2014, Paman terus sakit-sakitan, menurut Tante Jae Ha, Paman teringat akan Amanda dan cintanya pada Lee Jun Gi. Amanda sangat mencintai Lee Jun Gi, tak ada yangbisa menggantikan cintanya Amanda untuk Lee Jun Gi, Jun Gi memang tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada Paman Jae Joon dan Tante Jae Ha, tapi serapat-rapatnya Lee Jun Gi menutupi keadaannya, mereka pasti tahu apa yang Jun Gi rasakan.

Tante Jae Ha menceritakan, pernah suatu hari Lee Jun Gi hanya diam di kamar, tak terdengar suara tangisan dari kamar Lee Jun Gi, tapi saat tante masuk ke dalam kamar Lee Jun Gi, air matanya terus mengalir tanpa  mengeluarkan suara, sakit yangterletak pada Bathinnya tak bisa di bendung lagi, saat Tante Jae Ha memeluknya, Lee Jun Gi kemudian berteriak untuk mengeluarkan semua emosi yang ia tahan. 



Sejak kematian Amanda, Lee Jun Gi aktif menjadi pembalap motor, hobi barunya ini sudah di lakukan sekitar 2 tahun yanglalu, Jun Gi juga pernah mengikuti balap motor MOTOGP tahun 2015 di sirkuit Sepang Malaysia, Jun Gi terdaftar sebagai pembalap dari Indonesia, karena dia sudah menjadi WNI sejak lebih dari 15 tahun yanglalu, Tante mengira Lee Jun Gi menemuiku padahal selama 3 tahun aku di Malaysia, aku tak pernah bertemu Lee Jun Gi. 
 
 
“Tante, Aku gak pernah ketemu Jun Gi, dia juga gak menelepon atau sekedar say hai sama aku.

“mungkin dia malu Lightly. Gimanapun kamu mencintainya tapi dia memilih Amanda waktu itu.”

“kok Tante tahu? Tahu darimana?”

“Maafkan Lee Jun Gi Lightly, sebenarnya dia sangat kehilangan kamu waktu itu, bagaimana Tante tahu hal ini? tante sudah mengamati kamu Lightly, Tante tahu, kamu cinta sama Lee Jun Gi, kamu berubah drastis pada Lee Jun Gi setelah Lee Jun Gi bilang sama Tante bahwa dia menyukai Amanda, tapi sekarang kamu sudah menemukan laki-laki yangsangat mencintai kamu, Rendi laki-laki yangbaik, kamu harus menjaganya.”

Tante Jae Ha memegang tanganku dan berkata seakan ia berharap aku bahagia bersama Rendi. padahal nyatanya aku masih berharap bertemu dengan Lee Jun Gi, hanya saja aku tak pernah meluapkan tentang rasa kerinduanku pada Lee Jun Gi, mantan kakak iparku.

“Tante, cinta gak berbalas itu wajar, sangat wajar, aku gak marah kok sama Jun Gi, dia punya hak dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya.”

“Lightly, Jun Gi berbeda usia dengan kamu 10 tahun, jika dia mendengar kamu hanya menyebutnya dengan nama, dia pasti akan marah”

“Lee Jun Gi, dia kakak aku, tapi bagaimana pun kita saudara tak sekandung, aku masih berhak memanggilnya hanya dengan sebuah nama. Lagipula, kita gak sedekat dulu, aku turut berduka cita atas meninggalnya Amanda Tante, salam untuk Lee Jun Gi”

“Lightly, seandainya kamu belum bertunangan dengan Rendi”

“kalau aku belum bertunangan dengan Rendi, aku juga gak akan mau menikah dengan Lee Jun Gi, sering sih Tante, aku kangeen gitu sama Oppa. karena bagaimanapun aku pernah berharap dia mencintaiku dan aku juga mencintainya, aku cinta pada Rendi, kalau aku gak cinta sama dia, mana mungkin aku menerima lamarannya yangdi siarkan Live di Malaysia dan beritanya muncul di Indonesia, tapi aku belum bisa melupakan Oppa, rasanya tak seperti Lee Chi Hoon, setelah aku mengikhlaskannya, kenangan bersama Lee Chi Hoon masih aku ingat tapi rasa sakitnya berkurang dari waktu ke waktu, sedangkan dengan Oppa…”

“Lightly, temui Oppa mu nak, temani dia seperti dia menemanimu waktu di tinggal Lee Chi Hoon”

“Tan.. Lee Jun Gi bukan Oppa, aku kehilangan Oppa setelah dia bertemu Amanda, Oppa itu Malaikat Tanpa Sayapku, dia selalu ada untuk aku, sedangkan Lee Jun Gi, dia mencintai Amanda, Amanda adalah hidupnya dan hidupnya adalah Amanda, tante, aku gak mau ketemu Lee Jun Gi, aku gak kenal Lee Jun Gi, yangaku tahu Lee Jun Gi sudah berbahagia dengan istrinya dan ia akan terus bahagia meskipun istrinya sudah meninggal. Dan Oppa, aku masih mencintainya sampai detik ini, aku merindukannya, Oppa yang dulu sering menjemputku dari Klinik, kita makan Ice cream sama-sama, aku sering banget nitip makanan kalau dia kebetulan lagi di jalan dari kantor menuju rumah, aku suka nitip batagor, seblak, es cingcau dan kita sering banget selfie, meskipun Oppa Fashion Designer ternama kelas dunia, tapi dia gak pernah malu melakukan hal yang remeh temeh dengan aku Tante, tapi Oppa berubah menjadi Lee Jun Gi yang cuek, acuh setelah kenal, pacaran dan menikah dengan Amanda. Jun Gi bukan Oppa Tante, kalau Oppa, dia pasti mengunjungiku waktu aku ada di Malaysia.”

“bagaimana kamu bisa bertahan seperti ini Lightly?”

“aku punya hati tante, aku punya hati” 

Aku kembali menangis sesegukan, setelah sekian lama memendam rasa rindu sendirian, akhirnya aku berbagi dengan ibu Lee Jun Gi, Tante Jae Ha. Bagiku, Oppaku, malaikat tanpa sayapku dan si pemberi harapan palsu, sudah hilang ditelan bumi, aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan pujaan hatinya dan aku tak ingin menampakkan diri di hadapannya setelah kekasihnya pulang ke haribaan sang pencipta menyusul calon suamiku sekaligus adik iparnya, Lee Chi Hoon. 

Meski rasa rindu menerpaku setiap hari, aku tak ingin bertemu dengannya lagi, kenapa? Karena Oppa dan Lee Jun Gi berbeda, Oppa, ia adalah malaikat tanpa sayapku yangmenemaniku setiap hari setelah Lee Chi Hoon pergi untuk selama-lamanya, ia selalu mengantar jemput aku kemana-mana, ke makam Ibu dan Ayah juga ke makam Lee Chi Hoon.

 Oppa, selalu memberi apa yang aku mau, handphone, laptop, pakaian, uang sebersar 5 juta rupiah per bulan ke rekeningku dan makanan kesukaanku, Steak saus jamur. Bahkan sebelum aku menyantap steak, ia selalu memotongkan daging Steak untukku, setiap Oppa pulang kerja menuju rumah, aku selalu nitip camilan kesukaanku, seblak, es cingcau, es cendol, gorengan bala-bala, gehu dan lain sebagainya. Oppa juga tahu tanggal haidku setiap bulan, pernah waktu itu sekitar 4 tahun yanglalu, beberapa bulan setelah Lee Chi Hoon meninggal, aku mengikuti tes ujian masuk kerja di Klinik Kumala Bunda, pakaian yangmenjadi syarat mengikuti tes adalah kemeja berwarna hitam dan celana berwarna putih, saat itu aku sedang Haid hari ke 2, darah haidku tembus ke celanaku yang berwarna putih juga ke kursi tempat aku duduk, aku malu setengah mati saat itu, aku menelepon Oppa, aku menceritakan kejadian memalukan itu padanya, Oppa langsung bergegas menjemputku di Klinik, ia juga membawa celana jeans panjang untuk mengganti celana putihku yang terkena darah, tak lupa ia juga membawa pembalut yang biasa aku pakai. Padahal saat itu Oppa juga sedang ada meeting dengan beberapa artis dan model, ia rela meninggalkan pekerjaannya demi aku.

Aku tak melihat lagi Oppaku setelah ia berkenalan dengan Amanda Ghonshon, wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter anak, parahnya mereka bertemu saat Rendi dan aku koma di rumah sakit, perlahan-lahan Oppa berubah menjadi Lee Jun Gi, si CEO Star Multy Fashion yanggalaknya minta ampun, ia juga berubah menjadi Lee Jun Gi yangtak pernah menyapaku. Terakhir saat Almarhum Amanda mengenakan Gaun yangdi buat oleh Lee Jun Gi, itu adalah kali terakhir aku bertemu dengannya. Ini kisahku tentang Lee Jun Gi, pria yangterbiasa marah-marah dan tak pernah menyapaku, tiba-tiba ia menjadi wali resmiku, setelah itu, ia berubah menjadi Malaikat Tanpa Sayapku dan aku mencintainya sepenuh hatiku. Saat itu, aku memang masih remaja, saat aku menyatakan cintaku padanya, ia menolakku dengan halus. Aku memang masih anak kecil saat itu tapi cintaku tak pernah padam meski ia mencabik-cabik hatiku. Aku Lightly Magnolia atau orang-orang sekarang mengenalku Psikolog Lightly Rahadi Rahman, nama Magnolia, memang sengaja aku buang karena banyak yangbertanya tentang Agamaku, meski aku sudah berhijab, Magnolia bukan nama islami katanya.

Beberapa bulan kemudian…. 
               
Aku di tawari menjadi model busana muslim oleh salah satu pasienku  ia seorang perempuan asli warga Bandung bernama Karina Fahrani, nama Brand busananya adalah KAFANI, menurutnya aku cukup cantik untuk menjadi model Fashion Show, perancang busana muslim ini akan menggelar fashion show perdananya di acara Bandung Fashion Week yangakan di adakan di mall CIWALK Bandung, aku sebetulnya tak berminat tapi hatiku terus berkata “mungkin disana akan ada Oppa”, Otakku menolak bathinku, aku tak ingin bertemu Oppa, meskipun ia sekarang sudah menjadi duda mati Amanda Ghonshon, tapi keinginan hatiku jauh lebih kuat, sangat kuat. 

Kerinduan hatiku pada sosok Oppa kesayanganku mengalahkan semua logika yangada. Aku memutuskan untuk ikut acara Fashion Show tersebut. Mulanya aku hanya iseng tapi lama-kelamaan, rasa rinduku pada Oppa semakin membuncah. Baju yangdi pakaikan oleh Karina Fahrani padaku adalah pakaian gamis multi fungsi, artinya baju gamis itu bisa di kenakan kapanpun dan di manapun, bisa saat santai, saat kerja atau bahkan saat berkumpul dengan kawan-kawan. 
Tak terbiasa berlenggak-lenggok di catwalk, awalnya saat berlatih, aku terus terjatuh, apalagi aku tak pernah memakai High Heels, walhasil aku jatuh berulang kali, tapi Karina membantuku, ia melatihku dengan sabar. Semoga dengan ikutnya aku di acara Bandung Fashion Week ini, bisa menjadi jalanku untuk bertemu Lee Jun Gi, Oppaku….
Bandung Fashion Week akhirnya datang juga, aku sudah bersiap dengan bajuku yangdi jahit langsung oleh Karina Fahrani, semua model, fashion designer sampai MC mengenaliku, mereka mengingatku sebagai tunangan dokter Rendi Khan model iklan, presenter sekaligus dokter anak yangsangat terkenal di Asia. Aku menjadi bintang tamu special di acara tersebut. 
Aku sudah berkeliling di area Fashion Show tapi aku tak melihat Lee Jun Gi, aku menanyakan pada Fashion Designer yang lain, apakah Lee Jun Gi termasuk salah satu Fashion Designer yangada di acara ini? mereka bilang Lee Jun Gi tak mungkin ada di acara kelas daerah seperti ini, Lee Jun Gi itu Fashion designer kelas dunia, mustahil rasanya Lee Jun Gi ada disini. 
Kecewa, iya pasti, harapanku bertemu dengannya pupus sudah, sebetulnya bisa saja aku datang ke rumahnya yangjuga rumahku waktu itu, tapi rasanya canggung juga jika aku sengaja menemuinya. Namaku di gemakan di acara Bandung Fashion Week sebagai bintang tamu oleh MC acara tersebut.
“Mari kita sambut, psikolog sekaligus calon istri dari dokter Rendi Khan, Lightly Rahadi Rahman” 
Suara tepuk tangan bergemuruh di area Fashion show itu, aku berjalan ke       arah penonton, berlenggak lenggok bagai model catwalk sungguhan, aku menebar senyum ke seluruh penonton, melambaikan tanganku dan aku melihat sosok yangsangat aku kenal di tengah-tengah penonton, aku sangat kenal dia meski gaya rambutnya berubah dan bajunya tak serapih dulu, rambutnya dulu gaya belah tengah agak gondrong sehingga rambutnya bisa di ikat dan dulu, terakhir aku bertemu dengannya, pakaiannya juga rapih ala cowok metropolis lengkap dengan jam tangan dan kemeja yangselalu ia pakai, tapi sekarang penampilannya berbeda, rambutnya bergaya Quiff dan ia memakai celana jeans bolong-bolong di bagian lutut juga memakai jaket kulit sport bertuliskan REPSOL berwarna putih, meskipun gayanya acak-acakan, aku tetap mengenalinya. Aku tak perduli dengan acara Fashion Show itu. 
Aku turun dari atas panggung dan masih mengenakan baju yangdi rancang oleh Karina Fahrani, aku menghampirinya, aku pasti tak salah lihat, ia Oppa dengan gaya berbeda, rambut acak-acakan dan pakaian yangamburadul sekali, ia juga menenteng helm fullface di tangannya.

“Oppa..”
Ucapku

Tapi laki-laki itu, hanya memandangku tak menyapaku, ia kemudian meninggalkanku dan berjalan melewatiku. Dia Oppa, malaikat tanpa sayapku, si pemberi harapan palsu.. dia Oppaku yang berubah menjadi Lee Jun Gi, si CEO yangtampan penuh karisma dan kaya raya. Ia sama sekali tak menyapaku, ia pergi melewatiku. Jantungku kembali berdegup dengan kencang, aku menelepon Lee Ji Hoon saat itu juga, aku bertanya pada Ji Hoon, apakah laki-laki tadi adalah Lee Jun Gi, Oppaku? Dan Lee Ji Hoon menjawab iya, dia kakaknya dan dia Oppaku. Setelah Amanda meninggal Lee Jun Gi melampiaskan kesedihannya dengan melakukan balap motor. Tampilannya saat menjadi pembalap memang acak-acakan tapi ia masih tetap Lee Jun Gi yangdulu, laki-laki metropolis yang rapi, wangi dan stylish. Ia hanya berpakaian seperti itu saat menjadi pembalap.
Aku meminta maaf kepada Karina Fahira atas kejadian tadi saat di panggung catwalk, Karina Fahira memaklumi apa yangtelah terjadi meskipun ia tidak tahu apa yangmembuatku turun dari panggung. Aku menuju tempat parkir mobil, aku sekarang bisa menyetir mobil dengan baik, aku ingin mandiri salah satu yangaku lakukan adalah menyetir mobilku sendiri, aku tak lagi harus meminta antar Rendi atau Lee Jun Gi untuk bepergian kemana-mana. 
Di tempat parkir, saat aku akan menaiki mobilku, aku melihat Lee Jun Gi ada di pinggir mobilku, sepeda motornya di parkir di depan mobilku, otomatis mobilku tak bisa keluar dari tempat parkir. Lee Jun Gi hanya menatapku, menatapku tanpa henti, menatap wajahku, menyentuh hijabku, aku menepis tangannya yangakan menyentuh hijab dan kepalaku. Lee Jun Gi kemudian menunduk, ia melihat ke arah sepatu sportnya, ia mengangkat kepalanya lagi lalu tersenyum padaku, kemudian ia pergi. 
Lee Jun Gi, ia bahkan tak menanyakan kabarku, ia tak menanyakan kemana selama ini aku pergi dan ia juga tak menanyakan pertunanganku dengan Rendi. ada apa dengan Lee Jun Gi? apakah kepergian Amanda untuk selama-lamanya mengubah hidupnya? Aku sangat ingin menolongnya, mungkin jika Jun Gi mau, aku bisa membantunya untuk Theraphy atau konseling, tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi karena jarak kita yang terlalu jauh. 




Di jalan, saat aku menyetir mobil menuju Appartement yangaku sewa di jalan setiabudhi Bandung, aku mendapat telepon dari Rendi yangsedang berada di Australia, Rendi menjadi anak angkat orang tua Amanda, karena ibu Amanda adalah tante dari Rendi, setiap 2 bulan sekali, Rendi pasti terbang ke Australia, menjenguk Paman dan tantenya. 

“hallo Assallamu’alaikum”
Ucapku sambil mengangkat telefon dari Rendi.

“hai Walaikumsallam sayang, lagi dimana?”

“oh.. aku baru pulang dari acaranya temen, Bandung Fashion week di ciwalk”

Rendi terdiam sebentar, mungkin karena aku menyebutkan Bandung Fashion Week, Rendi memang sangat takut kehilanganku, baginya aku adalah buangan Lee Jun Gi, aku di buang oleh Lee Jun Gi dan Rendi yang memungutku di tempat sampah, ia membersihkanku dari kotoran-kotoran dan luka akibat di buang oleh Lee Jun Gi. 

“Lightly, kamu ikutan Bandung Fashion Week?”

“iya, ada seorang pasienku bernama Karina Fahira, ia adalah Fashion Designer baru, dia baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Fashion dan Design di Jakarta”

“kamu ketemu Lee Jun Gi?”

“mana mungkin aku ketemu dia, ini acara Fashion Show biasa, Lee Jun Gi itu Fashion Designer dunia, mana mungkin dia ada di sini”

“Syukurlah kalau kamu gak ketemu dia, minggu depan aku pulang dari Ausy langsung ke Indonesia”

“oke, sampai jumpa minggu depan ya”

Rendi menutup teleponnya, aku tak akan pernah bilang kalau aku tadi bertemu Lee Jun Gi, Rendi pasti akan marah besar, bahkan ia sanggup membunuh Lee Jun Gi. aku menyembunyikan rasa Rinduku pada Lee Jun Gi dari Rendi, Rendi itu Posesive jika berurusan dengan Lee Jun Gi, ia rela mati jika aku sampai bertemu dengan Lee Jun Gi, cintanya padaku tak main-main, Rendi melakukan segalanya untukku, bahkan biaya hidupku saat aku jadi mahasiswa magister Psikologi, aku tak pernah menggunakan uang  yangLee Jun Gi beri, bahkan sampai bulan kemarin, Lee Jun Gi masih mengirimi aku uang, sebesar 10 juta rupiah perbulan, naik 5 juta rupiah dari uang saku yang Jun Gi beri saat aku masih di Indonesia. Total uang yangLee Jun Gi berikan padaku sebagai tanggung jawabnya selama 3 tahun, ada sekitar 3,6 miliar rupiah dan aku tak pernah menggunakannya sepeserpun, jika aku bertemu dengannya, aku akan mengembalikan uang tersebut beserta jumlah uang yangJun Gi berikan saat aku ada di Indonesia. Plus biaya rumah sakit selama 40 hari aku koma waktu itu.  Aku tak ingin berhutang padanya, tanggung jawabnya cukup hanya sampai aku meninggalkan Indonesia, walaupun aku sangat membutuhkan uang kala itu, aku tak menggunakan uangnya, awalnya aku di beri uang bulanan oleh Rendi, bulan-bulan berikutnya, aku bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik di kota Penang, Malaysia.

Gajiku satu bulan di Rumah Sakit Ahmad Dahlan sebagai Psikolog adalah 20 juta rupiah perbulan, belum lagi jika ada seminar-seminar yangaku dan kawan-kawanku kerjakan, gaji sebagai dosen luar biasa pun cukup lumayan, total jika keseluruhan gajiku di gabung adalah sekitar 30-35 juta rupiah per bulan, maka dari itu, aku bisa membeli mobil sendiri, menyewa Appartment dan menyisihkan uangku untuk membayar hutangku pada Lee Jun Gi. 

Sampai di Appartment, aku mendapat telepon dari Lee Ji Hoon bahwa Paman sakit keras dan akan di rawat di rumah sakit. Aku menyarankan paman agar di rawat di rumah sakit Ahmad Dahlan tempat aku praktek menjadi psikolog, agar aku mudah menjenguknya dan agar Tante ada yangmenemani.
Esoknya, aku pergi ke Rumah Sakit lebih awal karena akan menjenguk Paman, biasanya aku pergi dari Appartement menuju rumah sakit pukul 09.00 tapi hari ini, aku pergi ke rumah sakit pukul 08.00, aku membelikan nasi kuning untuk  sarapan tante Jae Ha dan Lee Ji Hoon.
Paman di rawat di kelas VIP lantai 2 gedung Dewi Sartika, satu lantai dengan Ruang praktekku. 

“Assallamu’alaikum, Tante ini aku bawakan nasi kuning untuk sarapan, Ji Hoon ini nasi kuning untuk….”

Sambil menawarkan sarapan untuk Tante, Aku menatap laki-laki yangsedang duduk di sofa, laki-laki yangaku  kira Lee Ji Hoon ternyata Lee Jun Gi, Lee Jun Gi yangmenemani ayah dan ibunya di Rumah Sakit. Tante Jae Ha tak menjawab salamku karena mungkin ia tak tahu cara menjawabnya. 

“Lightly, terima kasih sudah menyempatkan datang, akhirnya kalian bertemu setelah 3 tahun kalian berpisah”

Aku hanya tersenyum mendengar Tante Jae Ha mensyukuri pertemuan kami, padahal aku sangat canggung sekali dan aku tak berani menyapanya, jangankan menyapa untuk tersenyum pun rasanya berat sekali, mimic wajahku, menunjukan isi hatiku sebenarnya, aku gugup, jantungku berdebar-debar dan rasanya aku ingin cepat keluar dari Ruangan ini, Lee Jun Gi pun tak menyapaku, ia hanya memainkan handphonenya dan mendengarkan music dengan earphone di kupingnya, suasana ini sebetulnya sangat canggung untuk kami, tapi pertemuan ini sangat tak aku duga sama sekali. Ini pertemuanku dengan Lee Jun Gi yangkedua, setelah kemarin di Ciwalk kita bertemu di acara Fashion Show Bandung Fashion Week, setelah Lee Jun Gi menungguku di area tempat parkir dan ia mencoba menyentuh kepalaku yang aku lindungi dengan hijabku.

“Tante, aku permisi ya, aku harus praktek, ruangan praktekku ada di dekat apotik khusus untuk BPJS, bisa di tanya ke satpam ruangan poli psikologi Lightly Rahadi Rahman, kalau ada apa-apa Tante tinggal telefon aku ke nomor handphoneku atau bisa dari telepon kamar ini tekan 2011 aja tante”

“iya, nak, nanti Tante berkunjung ke ruangan praktekmu, tante juga ingin melihatmu bekerja sebagai psikolog”

“baik tante, kalau tante mau berkunjung ke ruanganku, aku tunggu. Aku permisi tante”

Aku berpamitan dan mencium tangan tante, saat aku membuka pintu, Lee Jun Gi juga berpamitan pada ibunya untuk pulang dan bekerja. 

“Omma, aku juga mau pulang, jam 10 aku ada meeting sama pejabat pemerintahan kota Bandung."

 “baiklah, Jun Gi, nanti malam temani lagi Omma di sini ya, adikmu sibuk dia harus membuat persiapan konser tunggalnya di Asia tahun ini”

“baik Omma”

Lee Jun Gi kemudian mengikutiku, ia berjalan persis di belakangku, meskipun aku tak membalikan badanku, tapi aku tahu itu dia, parfumenya tak pernah berganti, dia masih menggunakan parfume yang sama seperti saat dia biasa memelukku, saat dia biasa menjemputku dan membawaku kemana-mana, parfume GEORGIO ARMANI, parfume yang melekat di kulit tubuhnya, yangmembuatku mengingat masa-masa indah dengannya dulu.

Aku tak membalikan badanku hingga aku sampai di Ruangan praktek, “brug” aku membanting pintu ruanganku, aku sedikit kesal pada Lee Jun Gi, ia tak menyapaku sejak pertama kali kita bertemu setelah 3 tahun kita berpisah, aku memang bukan siapa-siapa nya tapi kita pernah dekat, kedekatan yangmembuatku menjadi GEDE RASA padanya. Padahal jika aku ungkit, dia yangmenyebabkan semua ini. dia yangmembuatku jatuh cinta padanya hanya dalam beberapa hari setelah aku bangun dari koma, lalu setelah aku jatuh cinta padanya, aku mengungkapkan rasa cintaku dan ia menolakku, 1 minggu setelah penolakkan itu, Lee Jun Gi kemudian menikah dengan Amanda tanpa sepengetahuanku. 

Saking tak kuatnya aku bertahan dalam situasi ini, aku memilih pergi dari Indonesia ke Malaysia, aku juga kena Psikosomatisatau orang biasa menyebutnya sakit pikiran, luka yangada pada hatiku membuat sakit pada fisiku, aku terus memikirkan Lee Jun Gi yangmenyakitiku, Lee Jun Gi yangmemberiku harapan palsu dan Lee Jun Gi yangmemindahkan seluruh perhatiannya dariku pada Amanda, saat itu, aku memanggilnya Oppa atau kakak dalam bahasa korea, itu panggilan kesayanganku padanya. Hingga akhirnya aku memanggilnya Lee Jun Gi, namanya tanpa sebutan Oppa di depannya.

Aku bolak-balik berkunjung menengok Paman, sakit yang di derita paman adalah Maag Akut, berat badannya menurun drastis, lalu paman juga mengalami Pnemonia atau radang pada paru-paru akibat rokok yangtak henti-hentinya ia hisap setelah kematian Amanda. Karena kelelahan, Tante Jae Ha juga sakit, Tante sakit flu, badannya demam dan lemas, jadi dia tak bisa menunggu paman di rumah sakit, Tante Jae Ha meneleponku, ia memintaku untuk menjaga paman Jae Joon barang sehari dua hari. Aku menyanggupinya. 

Aku menunggui paman dari pulang bekerja sampai esok pagi, aku menyuapi paman makanan, tapi ia tak mau makan, paman tak berbicara sepatah katapun meski aku bertanya padanya, jika ada kata yangkeluar dari mulutnya itu pasti nama Amanda. Hanya itu yangpaman ucapkan. Jujur saja aku sedih, mungkin saat aku pergi ke Malaysia, tak ada yangmenangisiku tapi saat Amanda pergi banyak orang yangmenangisinya.

Jam di handphoneku menunjukan pukul 17.45, saatnya aku menunaikan shalat maghrib, kebetulan karena rumah sakit Ahmad Dahlan adalah rumah sakit islam, jadi di setiap ruangan di sediakan penunjuk kiblat dan aku bisa shalat tanpa harus meninggalkan paman di ruangan sendirian. Aku menunaikan ibadah shalat maghrib dengan khusyuk. 

Selesai menjalankan shalat Maghrib, aku melihat Lee Jun Gi sudah duduk di kursi sebelah tempat tidur paman, penampilannya saat ini tidak seamburadul 2 hari yanglalu, Jun Gi mengenakankemeja berwarna biru navy dan celana jeans warna senada, aku melipat mukenaku dan menghampiri paman. 

“paman, ada Lee Jun Gi di sini, Lightly pamit pulang ya”

“hhh..hhh.. disini..disini”
Ucap paman dengan nada tidak jelas dan lemas

“appa, ingin kamu tinggal di sini, kalau kamu merasa tidak nyaman, biar aku yang pulang”

Lee Jun Gi akhirnya mengajakku berbicara setelah sekian hari puasa berbicara padaku. Paman menggeleng-gelengkan kepala, ia ingin kitaberdua ada disini. 

“kalian berdua tetap di sini, temani appa” 

Karena paman memohon untuk tidak di tinggalkan olehku akhirnya dengan terpaksa aku harus tinggal di ruangan VIP ini dengan Lee Jun Gi, malaikat tanpa sayapku yangberubah wujud lagi menjadi monster tyrex yangsiap melahapku kapan saja.  aku mengambil air wudhu dan menjalankan shalat isya di masjid di seberang rumah sakit, karena ada Lee Jun Gi yangmenjaga paman, sekalian aku membeli makan untuk aku dan Lee Jun Gi, kasian dia mungkin ia belum makan karena dari kantor ia langsung ke rumah sakit. Aku membelikan pecel ikan lele, kesukaannya. 

Saat sampai di kamar VIP tempat paman di rawat, aku melihat paman sudah tertidur dan Lee Jun Gi sedang menelepon sekertarisnya untuk melakukan pekerjaannya dengan benar, Lee Jun Gi memarahi sekertarisnya itu, ia bahkan memaki-maki pekerjaan yangsudah di kerjakan oleh sekertarisnya, aku menunggu Lee Jun Gi selesai menelepon dan setelah selesai menelepon dia terlihat kaget aku ada di sebelahnya.

“heh, Lightly kamu nguping ya?”

Lee Jun Gi sangat ketus padaku, sampai-sampai air mataku mau terjatuh karena melihat sikapnya yangberubah drastis. Padahal saat kitabertemu di tempat parkir Ciwalk, Lee Jun Gi masih bisa tersenyum padaku. 

“oh maaf Jun Gi, ini nasi pecel lele, barangkali kamu belum makan”

Lee Jun Gi tak mengambil bungkusan nasi dan pecel lele yangaku berikan untuk makan malamnya. 

“taro aja di meja, kalau laper aku makan”

Ya Allah, malaikat tanpa sayapku benar-benar berubah menjadi monster Tyrex yangsiap melahapku kapan saja. aku menuruti perintahnya, aku menyimpan nasi pecel lele itu di meja makan yangdi sediakan pihak rumah sakit untuk kamar VIP yangdi huni oleh pamanku. 

Aku duduk di kursi sofa panjang, sambil setengah tiduran, tiba-tiba handphoneku berbunyi, dan nama yangmuncul di handphoneku nama Rendi Khan. Aku mengangkat telepon dari calon suamiku tanpa keluar dari kamar pasien.

“hallo, assallamu’alaikum”

“walaikumsallam lagi dimana?”

“aku lagi di rumah sakit, pamanku sakit , gak ada yangjagain, tante Jae Ha juga sakit, dia sama Lee Ji Hoon di rumah, tante Jae Ha sakit flu demam”
“oh.. kamu sabar ya sayang, mungkin ini cobaan dari Allah menjelang pernikahan kita, besok aku pulang ke Indonesia, aku percepat kepulanganku, karena aku kangen banget sama kamu”

“hahaha.. gombal banget, aku tunggu kamu pulang besok, aku juga kangen sama kamu, udah dulu ya, aku harus tidur, besok aku harus pulang ke appartement setelah shalat shubuh, ganti baju dan praktek lagi di sini”

“baiklah, aku tutup teleponnya ya sayang, I Love You”

“i love you too”

Aku menutup telepon dari Rendi dan saat itu juga Lee Jun Gi menarik tanganku dan menyuruhku keluar kamar VIP.

“ih Lee Jun Gi, ngapain sih kamu narik-narik aku? Kamu tuh gak boleh nyentuh aku, aku muslimah, aku gak boleh di sentuh sama laki-laki yangbukan muhrimku”

“heh bocah, bisa gak angkat telepon di luar kamar, berisik tahu gak?”

“bisa gak ngasih taunya baik-baik? Gak perlu tarik-tarik”

“kamu kerja di rumah sakit, masa etika kayak gitu aja kamu gak tahu? Pergi deh dari sini, ganggu tahu gak?”

Air mataku membanjiri pipiku, Lee Jun Gi mengusirku hanya karena telepon yangtak sengaja aku angkat di dalam ruangan, sambil sesegukkan aku bertanya pada Lee Jun Gi, apa sebenarnya kesalahanku sampai dia tega mengusirku dari kamar tempat ayahnya di rawat.

“hei monster Tyrex, sebetulnya apa salahku sampai kamu menarikku keluar dari kamar? Apa salahku sampai kamu tega membentakku? Kita baru ketemu setelah 3 tahun berpisah bukan?”

“jangan pura-pura gak tahu? Apa aku harus menjelaskan satu persatu kesalahanmu?”



“kalau ini tentang Amanda, aku minta maaf karena waktu itu aku sedang Stage Klinis di rumah sakit Malaysia, aku bukan orang kaya yang bisa bolak-balik Australia-Malaysia menggunakan pesawat terbang”


“pergilah, aku muak sama kamu”



Aku pergi meninggalkan paman, aku menelepon Tante karena aku tak bisa menjaga paman, aku beralasan bahwa besok aku harus mengikuti seminar di luar kota, jadi aku harus bersiap-siap membereskan semua pakaianku karena aku pergi setelah shalat shubuh.

Aku tak pernah tahu apa salahku pada Lee Jun Gi? apa dosaku padanya? Sampai dia  dengan tega hati mengusirku dari sini hanya karena aku menerima telepon dari Rendi calon suamiku.

Aku tiba di appartement, tubuhku terasa lelah, ia minta tidur untuk sekedar beristirahat. Tak lama Lee Ji Hoon meneleponku, ia bertanya kenapa aku pulang?

“Lily, kamu dimana?”

“aku di  appartement, ada apa Ji Hoon?”

“kok di appartement sih? Bukannya omma nyuruh Lily jagain Appa?”

“besok aku ada seminar di jatinangor, mendadak, Ji Hoon kamu dimana?”

“aku baru jemput temen-temenku dari B*STAR, rencananya besok lusa kita mau jenguk appa”

“oh ya baguslah, tapi ingat kalian harus menyamar, jangan bikin gaduh rumah sakit”

“iya, baiklah kita akan memakai topi, jaket dan masker”

“sampai ketemu besok lusa ya Ji Hoon, pulang seminar aku pasti ke rumah sakit lagi”

Aku menutup teleponnya, aku beristirahat sambil memikirkan anggota B*STAR yangakan  datang besok lusa, kesedihanku di bentak dan di caci maki oleh Lee Jun Gi tadi bisa reda sebentar karena memikirkan 3 anggota B*STAR yanglain, para personil B*STAR akan berkumpul di rumah sakit besok lusa, ah.. mereka sangat tampan, termasuk Lee Ji Hoon. Leader dari B*STAR, lalu anggotanya terdiri dari 4 orang, ada Kim Ryu Wan, ia adalah penyanyi jebolan ajang berbakat dari korea, ia tinggal di Incheon, sebelum terkenal seperti sekarang, Ryu Wan hanyalah seorang petani yang membantu kedua orang tuanya bekerja di perkebunan orang lain dan Ryu Wan berhasil menjadi bintang dari hasil jerih payahnya sendiri. 

Ada Park Se Jeong, Se Jeong adalah Rapper B*STAR. Pria kelahiran Hongkong ini adalah anggota B*STAR paling kaya, orangtuanya mempunyai beberapa toko di Cheongdamdong, Korea Selatan. Lalu ayahnya juga pemilik mall terbesar yan gada di China, jika yang lain pergi ke konser menaiki mobil milik Wonder Group Entertainer, Se Jeong memilih menaiki mobil mewahnya sedan PORSCHE dan tak jarang anggota B*STAR ini di isukan menjalin hubungan dengan beberapa artis dan Trainee, terakhir Se Jeong di kabarkan telah mempunyai anak dari hasil hubungan gelapnya dengan seorang model di Thailand, tapi itu tak membuat popularitas Se Jeong padam, Se Jeong makin terkenal dan ia akan di dapuk bermain drama korea dengan Park Shin Hye, aktris cantik yang berperan sebagai dokter Yoo Hye Joong di drama Doctors beberapa bulan yang lalu.

Lalu ada Daniel Choi, pria blasteran Inggris-Korea ini adalah salah satu penyanyi cilik yang di miliki Korea Selatan saat itu, Daniel terkenal dengan dance-dancenya yang lincah, meski punya nama tenar, Daniel tak kalah dengan Se Jeong yang di isukan oleh berbagai media di Korea, kabarnya Daniel adalah anak dari pejabat pemerintahan Inggris yang mempunyai affair dengan ibunya, sampai saat ini ibu Daniel tak pernah membenarkan hal itu, ibu Daniel hanya menceritakan tentang ayah Daniel yang sudah meninggal saat Daniel masih di dalam kandungan. 

Yang terakhir adalah Lee Ji Hoon, dia adalah adikku, meski bukan adik sekandung tapi aku sangat menyayanginya, Ji Hoon lahir di Indonesia tapi ia tumbuh besar bersama almarhum neneknya di Korea sampai menjadi Artis. Ketika neneknya meninggal dunia, Lee Ji Hoon terpaksa mengikuti Trainee tanpa sang nenek, padahal ia sangat ingin sekali neneknya membanggakannya sebagai seorang artis, tapi Allah berkehendak lain, nenek Lee Jun Gi, Lee Chi Hoon dan Lee Ji Hoon meninggal dunia saat Lee Ji Hoon mulai menapaki trainee sebagai artis.

Esok hari, aku bingung karena aku harus pergi praktek dan bekerja sebagai Psikolog di Rumah Sakit Ahmad Dahlan dan saat bersamaan Paman Jae Joon masih di rawat di Rumah Sakit Ahmad Dahlan juga, aku takut ketahuan karena telah berbohong pada Tante Jae Ha mengenai kepergianku untuk seminar di luar kota, tapi aku tetap memutuskan untuk bekerja seperti biasa, aku menyerahkan semua pada Allah jika aku harus ketahuan oleh Tante Jae Ha dan Ji Hoon.
Setelah jam praktekku usai, aku ingin sekali mengunjungi paman Jae Joon tapi pasti ada Lee Jun Gi, jujur aku takut dengan monster Tyrex itu, ia bisa melahapku kapan saja, bahkan Jun Gi sudah berani memakiku kali ini, tapi entahlah, betapapun hatiku terasa sakit, aku terus mencintainya, mencintai Oppa dan malaikat tanpa sayapku yangada di dalam diri Lee Jun Gi, aku sangat berharap sekali Lee Jun Gi bisa berubah menjadi Oppaku yangdulu, tapi itu mustahil akan terjadi, ia membenciku karena saat Amanda meninggal aku tak bertakziah ke Australia atau Indonesia waktu itu.

Aku kembali berkunjung ke ruangan VIP tempat paman Jae Joon di rawat. Ternyata benar, masih ada Lee Jun Gi disana, aku pura-pura tidak melihatnya dan aku menghindarinya, di sana ada Tante Jae Ha juga, tante Jae Ha memberitahuku bahwa ada 2 orang temannya yangbernama Rena dan Thalitha berkunjung dan ada satu orang staff yangmembantuku bekerja di ruangan Psikologi, Tante juga mengetahui bahwa hari ini aku berbohong. Hanya saja saat itu, Tante tak menanyakan lebih lanjut mengenai kebohonganku hari ini, karena tiba-tiba paman kejang-kejang, aku berlari ke kantor perawat, perawat dan dokter datang satu persatu, kami, aku, Lee Jun Gi dan Tante Jae Ha menunggu di luar karena dokter dan perawat melakukan observasi. Tak berapa lama mereka keluar dari kamar pasien dan dokter menyatakan bahwa paman Jae Joon meninggal dunia. Ada kemungkinan Paman Jae Joon Shock lalu kejang-kejang. Dokter menanyakan apakah ada kejadian yangmembuat Paman Jae Joon shock kemarin? 

Mungkin Paman mendengar saat Lee Jun Gi memarahiku, memaki dan meneriaki aku, bukan hal yang tidak mungkin jika Paman shock karena hal itu, Lee Jun Gi tak pernah sekasar itu padaku, bahkan saat Lee Chi Hoon masih hidup, kita hanya tak pernah bertegur sapa saat itu. Tapi kemarin malam Lee Jun Gi marah besar padaku hanya karena hal sepele. Aku diam, aku tak berkata sepatah katapun tentang kejadian kemarin malam, aku hanya fokus pada pemakaman Paman, menurut Tante Jae Ha, Paman sudah muallaf sejak Amanda meninggal dunia, hanya saja tak ada yangmembimbingnya, Paman Jae Joon punya karib seorang ustadz, awalnya paman dibimbing oleh karibnya tersebut, tapi karibnya ini juga sakit dan akhirnya meninggal dunia, sejak saat itu Paman Jae Joon hanya melaksanakan shalat wajib saja, tidak dengan sunah-sunahnya dan hanya puasa Ramadhan tidak dengan puasa sunnahnya. Paman di makamkan di sebelah makam Lee Chi Hoon, kekasihku. 

Kita pulang ke rumah dengan perasaan masih shock, Lee Ji Hoon tak henti-hentinya menangis, kawan-kawannya dari B*STAR berdatangan juga dengan wartawan dari media massa mereka berdatangan silih berganti, rumah kitamenjadi sorotan media, mereka memberitakan kematian Paman, ayah dari Leader B*STAR, Lee Ji Hoon. Aku menelepon Rendi, calon suamiku. Aku meminta dia agar setelah sampai dari Bandara, dia langsung ke Rumah keluarga Lee. Rendi mengiyakan permintaanku. 

Yang terlihat tegar hanya aku dan Lee Jun Gi, aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis di hadapan Tante Jae Ha. Karena Paman seorang muslim yangselalu menunaikan ibadah shalat di masjid dekat rumahnya, para tetangga yangmelayad menyarankan untuk mengadakan tahlilan. Tante Jae Ha menyetujuinya, hanya aku dan Lee Jun Gi yangmembereskan isi rumah, Lee Jun Gi mendadak membeli karpet dan menggelarnya di ruang tengah, akhirnya ba’da Isya kita menggelar tahlilan dengan mengundang 30 orang warga dan tetangga di sekitaran rumah kami. Lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an dan surah yassin di gemakan di rumah itu, rumah yangmayoritas orang-orangnya menyembah dewa.
Lee Jun Gi yangsaat itu duduk di sampingku terlihat menangis, aku menghapus air matanya dan menepuk punggungnya. 

“Jun Gi, jangan menangis”

“diamlah”

Lee Jun Gi masih sekasar dan sejudes itu padaku. padahal aku hanya mencoba menghiburnya. Gelaran tahlilan selesai di laksanakan. Tahlilan akan dilaksanakan sampai hari ke tujuh meninggalnya paman dan di laksanakan lagi pada hari ke 40 meninggalnya paman. Hari ke dua paman meninggal, Rendi Gunadi Khan, calon suamiku yang berdarah India-Indonesia datang ke rumah. Aku mengantar Rendi untuk bertemu dengan Tante Jae Ha di kamarnya. 

“Tante, ada Rendi” ucapku. 

“oh, nak Rendi kemari nak”

“assallamu”alaikum Tante, aku turut berduka cita atas meninggalnya paman”
“oh, ya.. terima kasih nak, ayo silahkan duduk.”

Kita berjalan dari kamar tante Jae Ha menuju ruang tamu, dan ada Lee Jun Gi di sana. Rendi menghampirinya.

“hai kak Jun Gi, aku turut berduka cita atas meninggalnya Paman.”

“oh, ya terimakasih, Rendi”

Lee Jun Gi terlihat sedang bersiap-siap ke kantor, apapun yangterjadi Lee Jun Gi adalah CEO dari SmF atau Star Multi Fashion, ia harus masuk kerja saat karyawan lain sedang libur, termasuk hari ini , hari ke 2 paman Jae Joon meninggal. Sikapnya pada Rendi calon suamiku tak ada yangistimewa, Lee Jun Gi hanya mengucapkan terimakasih pada Rendi yangtelah mengunjungi ibunya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga kecilnya.

Tapi padaku, Lee Jun Gi sangat kasar dan semena-mena meskipun itu di hadapan Rendi calon suamiku. 

“Heh, bocah, aku mau pergi ke kantor, jaga Omma baik-baik sampai aku pulang, Lee Ji Hoon dan B*STAR sedang melakukan Konfrensi Pers di hotel Djayakarta Dago, kamu gak boleh pergi sebelum aku atau Lee Ji Hoon datang, Ngerti?”

Tante Jae Ha dan Rendi menatap pada Lee Jun Gi, ia sengaja menyuruhku dan semena-mena padaku. aku tak bisa melawan Lee Jun Gi apalagi di hadapan Ibunya dan untung hari ini hari sabtu, aku libur praktek di rumah sakit tapi aku harus menjawab semua telepon dari pasien-pasienku. Kebanyakan mereka mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya ayah angkatku. 

Setelah Lee Jun Gi pergi, Rendi membantuku untuk menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan tahlilan hari ke dua, Rendi membantu menyapukan karpet-karpet yang sudah di gelar oleh Lee Jun Gi, Rendi juga mencuci piring dan mengepel lantai teras rumah. Aku hanya menemani Tante, aku membawa makanannya, menemaninya saat ia sedang sendiri. 

“Tante, ini sudah takdir Allah yang harus kita terima, jalannya sudah begini”

“Lightly, Pamanmu itu awalnya sehat, tapi setelah Amanda meninggal dunia, Pamanmu menjadi murung, tak mau berbicara, lalu ia memeluk islam dan menunaikan ibadah-ibadahnya di masjid, pernah ia menjadi kuat karena sahabatnya yang bernama Ustadz Zakaria, beliau yang membingmbing paman dalam beribadah shalat dan mengaji, tante tidak pernah melarangnya bahkan tante menyemangatinya untuk terus mengaji, shalat dan berdzikir karena Allah dan Tante juga berpikir untuk memeluk islam saat itu tapi baru niat belum tante lakukan, tiba-tiba kita mendapat kabar bahwa Ustadz Zakaria meninggal dunia tiba-tiba saat bermain badminton di lapang dekat rumahnya, ia meninggal dengan senyuman yang indah di wajahnya, itu juga yang membuat pamanmu menjadi kuat untuk memeluk Islam.”

“Tante, sabar ya, ini sudah ketentuanNYA, hanya Allah yangtahu sampai usia berapa manusia di hidupkan dan usia berapa manusia di matikan.”

Beberapa jam kemudian Lee Ji Hoon datang dengan 3 anggota B*STAR lainnya. Lee Ji Hoon menangis memeluk ibunya, ia sudah kehilangan kakak kandung, kakak ipar dan ayahnya dalam waktu berdekatan. Kim Ryu Wan mengambilkan air untuk Ji Hoon agar ia bisa lebih tenang. Anggota B*STAR yanglain mengucapkan bela sungkawa padaku dan pada Tante Jae Ha. Untunglah mereka membawa serta seorang Translater atau penerjemah bahasa jadi aku bisa dengan nyaman berbicara dengan mereka. Kim Ryu Wan dan Park Se Jeong tak bisa bahasa inggris, mereka hanya berbicara bahasa Korea, sedangkan Daniel Choi, ia bisa berbahasa Inggris dan aku sedikit mengerti, tapi tetap saja mereka juga lebih nyaman berbicara menggunakan translater denganku.

Rena dan Thalitha datang berkunjung, sahabat karibku itu mengunjungi aku dan Tante Jae Ha, mereka berbela sungkawa atas kepergian Paman Jae Joon. Rena membawa serta kekasihnya yangberwarga Negara India bernama Vikram Singh, Vic, biasa ia dipanggil, juga adalah karib Lee Jun Gi, Vic adalah senior Lee Jun Gi saat kuliah di Asian Fashion Design and Model Univercity, Singapore. 



“ Lightly, turut berduka cita atas kepergian pamanmu”

“iya, terimakasih Rena Thalitha, masuk yuk, aku kenalkan sama adikku”

Aku membawa mereka masuk ke dalam rumah, di dalam rumah, aku memperkenalkan calon suamiku Rendi Gunadi Khan yangjuga dokter anak yangdulu bekerja di klinik Kumala Bunda bersama mereka.

“Rena Thalitha, ini Rendi calon suamiku”

“Wow Lightly, aku gak nyangka kamu berjodoh sama dokter anak tampan kita”

Thalitha mengungkapkan kebahagiaanya padaku dan Rendi. Begitu juga dengan Rena dan Vic, aku senang mereka banyak mensupportku walau akhir-akhir ini kita jarang bertemu. 

“halo Rena Thalitha, hai Vikram, aku Rendi Gunadi Khan, aku calon suami Lightly”

“oh, hai Dokter, I’m Vikram just call me Vic.”

Rendi dan Vikram berkenalan, mereka berjabat tangan dan mengobrol satu sama lain. 

“dokter, aku gak nyangka Lho kalau Lightly akan berjodoh sama dokter, aku kira Lightly bakal berjodoh sama orang Korea itu, eh.. die kawin duluan”

Rena bermaksud membahas Lee Jun Gi. tanpa Rena sadari saat Rena berbicara seperti itu, Lee Jun Gi ada di belakangnya. 

“oooppss… keceplosan” lanjut Rena lagi.

Rena, memang muak pada Lee Jun Gi, Jun Gi yangmemberi harapan palsu padaku waktu itu, membuat Rena benci sekali pada Jun Gi, bahkan ia berani menyindir Jun Gi di rumahnya bahkan di hadapannya. Rena tahu rasanya di beri harapan palsu, sakit, sangat sakit, ia pernah mengalaminya, maka dari itu ia sangat muak pada Lee Jun Gi.

“maksud kamu, orang Korea itu aku?” tanya Jun Gi pada Rena.

“situ ngerasa? Gak ngerasa udah nyakitin orang?”

“eh.. yang sopan ya, aku lebih tua dari kamu, kamu seusia si bocah kan?”

“iyuuuhh.. bodo amat, mau sopan kek enggak kek, suka-suka eike”

Aku meminta Rena berhenti melakukan sindiran-sindiran pada Jun Gi, bukan apa-apa, keluarga kami masih dalam masa berkabung dan aku tak enak dengan Tante Jae Ha. 

“Ren, udah donk, malu nih”
Ucapku pada Rena

“ah… gini nih.. makanya kamu tuh tertindas terus”

Rena mencoba membelaku tapi aku merasa tak nyaman, bukan hanya itu saja, ini rumah keluarga Lee, rumah Lee Jun Gi, bukan rumahku. Setidaknya jika aku ingin membantu, Tante Jae Ha harus merasa nyaman padaku.
“Eh bocah, ikut aku”

Lee Jun Gi kembali menarik tanganku dan membawaku ke kamar. Melihat itu Rena tak diam, ia mengadu pada Rendi calon suamiku yang sedang mengobrol dengan Vic, kekasihnya.

“dokter, lihat Lightly, dia di tarik-tarik sama si Lee Jun Gi”

Sontak saja, teriakan Rena membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada aku dan Lee Jun Gi, Rendi menghampiri kami, dia heran kenapa sikap Lee Jun Gi padaku yangsangat kasar.

“hey Lee Jun Gi, kenapa kamu tarik-tarik calon istriku? Kamu bukan muhrimnya. Bisa sopan sedikit? Lightly muslim, dia punya hak untuk menolak di sentuh oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.” Ujar Rendi menjelaskan.

“lalu apa peduliku? Kamu calon suaminya? Aku walinya, sampai detik ini Lightly masih jadi tanggunganku, tanggung jawabku, jadi mau di apakan saja dia, terserah aku.”


Lee Jun Gi memang keterlaluan, ia membuat Rendi marah besar.

“kurang ajar”
Ujar Rendi sambil berjalan menghampiri Lee Jun Gi dan hampir memukulnya.

“ahhh” 

Aku Rena dan Thalitha berteriak, kami semua terkejut melihat adegan Rendi yang mau memukuli Lee Jun Gi, Lee Ji Hoon dan 3 anggota B*STAR lainnya mencoba melerai perkelahian antara Lee Jun Gi dan Rendi, calon suamiku. 

“stop..stop.. what happen to you Guys, please Respect for Lee Ji Hoon, his dad was past away”

Ucap Daniel pada mereka berdua, ya Rendi dan Lee Jun Gi benar-bebar keterlaluan, di hari berkabung seperti ini, mereka berkelahi dan hampir saling memukuli satu sama lain. Mereka tak menghargai keadaan Tante Jae Ha yangsedang bersedih. 

“kalian kenapa?”
Ucap Tante Jae Ha

“Tante, maaf dengan segala hormat Tante, Rendi sebagai calon suami Lightly gak terima kalau Lee Jun Gi memperlakukan Lightly dengan semena-mena, Lee Jun Gi menarik tangan Lightly”

“Benar begitu Lee Jun Gi?”

“omma, mereka bilang aku menyakiti Lightly, aku gak terima Omma, Lightly yang menyakiti aku, dia pergi ke Malaysia tanpa pamit sama aku, Omma ingat kan, waktu Amanda meninggal, dia gak nunjukin batang hidungnya. Terus temen-temennya bilang kalau aku yang menyakiti Lightly”

“sudah-sudah. Lee Jun Gi, Ikut Omma, Lightly dan Rendi kalian juga ikut”

Aku, Rendi dan Jun Gi, mengikuti Tante Jae Ha ke kamarnya, aku yakin aku tak salah, kenapa? Karena memang Lee Jun Gi yangmenarik tanganku dan menyuruhku untuk ikut dengannya.

“kalian berdua, Rendi dan Jun Gi duduk di sofa, sedangkan Lightly duduk di samping Tante”

Aku menuruti perkataan Tante Jae Ha begitu pula Lee Jun Gi dan Rendi.

“kalian kenapa berkelahi? Kalian tahu, makam suamiku tanahnya belum kering  dan kalian malah mau berkelahi di sini? Apa kalian gak malu, lihat ada B*STAR disana, kalian di lerai oleh Daniel, apa kata mereka kalau kakak dari Lee Ji Hoon bertengkar dengan calon suami Lightly yang notabene kakak perempuan Lee Ji Hoon dan  dia adik kamu Lee Jun Gi.” 

“maaf  Tante, Rendi gak bermaksud berkelahi dengan Kakak ipar, tapi dia menarik tangan Lightly dan marah-marah sama Lightly, Rendi gak terima, seburuk apapun Lightly, dia calon istri Rendi Tante”

“kamu, Lee Jun Gi, kenapa kamu menarik tangan Lightly?”

“Omma, aku udah bilang kan, Si Rena temennya Lightly tadi nyindirin aku, dia bilang aku nyakitin Lightly, Omma, selama ini aku melakukan yang terbaik untuk Lightly, tapi apa balasannya, dia pergi ke Malaysia tanpa pamit sama aku, saat Amanda meninggal, dia gak dateng, padahal waktu Lee Chi Hoon meninggal, aku yang nemenin dia, tiap hari aku antar jemput dia dari rumah ke tempat kerjanya dan dari tempat kerja ke rumah, apa yang Lightly inginkan, aku kabulkan, tapi lihat dia Omma, dia gak perduli sama aku.”

Wajah Rendi kembali memerah. Dari tadi Rendi menahan Emosi yangbergejolak di dadanya, Rendi tahu benar apa yangterjadi padaku 3 tahun yanglalu. Rendi tahu benar bagaimana sakit yangaku terima karena pernikahan mendadak Lee Jun Gi dan mendiang Amanda sepupu Rendi.

“apa kamu bilang? Apa aku gak salah dengar? Lightly menyakiti kamu?"
Ucap Rendi dengan wajah kesalnya. Dengan tangan yangmengepal dan siap memukuli Lee Jun Gi, juga dengan fakta bahwa aku tak pernah menyakitinya.

“Rendi, udah Ren, kamu gak boleh bertengkar lagi sama Jun Gi, gimanapun dia akan jadi kakak iparmu nantinya dan kasian Tante Jae Ha”

Aku mencoba menahan emosi Rendi yangsaat itu sudah meluap-luap dan Rendi siap untuk membanting Lee Jun Gi dari Langit ke tanah seperti yangJun Gi lakukan padaku dulu.

“sudah, cukup. Jika kalian ingin bertengkar, bertengkar di luar, jangan di sini. Kalian sama sekali tidak menghargai mendiang suamiku”

Tante Jae Ha marah besar pada anaknya dan juga Rendi, calon mantunya. Aku mendekati Rendi, aku bilang sudahlah, ini baru hari kedua Paman Jae Joon meninggal. Aku mengajak Rendi untuk keluar kamar, Rena dan Thalitha meminta maaf atas keributan yangmereka perbuat, aku memakluminya. Bagi Thalitha dan Rena, aku adalah keluarga mereka, jadi sangat wajar jika Rena marah besar pada Lee Jun Gi yang memberikan harapan palsu padaku.
Rendi mengikutiku dari belakang untuk keluar rumah. Aku bermaksud untuk memberitahu Rendi bahwa ia harus sabar menghadapi Lee Jun Gi, calon kakak iparnya. Tapi Lee Jun Gi mengikuti kami dari belakang, ia memanggilku dan bersiap memarahiku dengan muka ala anjing herder yang ia punya. 

“Lightly” Jun Gi berteriak memanggil namaku.

“Lee Jun Gi, ada apa?” tanyaku

“eh bocah, urusan kita belum selesai”

Rendi membelaku, ia menghadapi Lee Jun Gi yangterlihat sangar.

“sampai kapan kamu memanggil calon istriku ‘bocah’? dia bukan anak kecil lagi, usianya sudah 26 tahun dan ia seorang psikolog.”

Lee Jun Gi, tak memperdulikan Rendi yangmembelaku, Lee Jun Gi terus mendekatiku hingga jarak 5 centimeter. 

“Lightly, berani-beraninya kamu memanggilku dengan sebutan nama? Dulu kamu memanggilku Oppa, kamu Amnesia?”

“Lee Jun Gi, maaf sekali aku gak mau ribut ini hari kedua paman meninggal bukankah kita harus menghargai almarhum paman Jae Joon yangjuga ayah kamu. Aku juga harus menghargai Tante Jae Ha yangjuga ibumu, maaf aku harus pulang”

“Lee Jun Gi? aku sudah memberitahu kamu untuk memanggilku Oppa tapi kamu masih memanggilku Lee Jun Gi. kurang ajar, aku membiayaimu setelah Lee Chi Hoon meninggal, aku ada untuk kamu saat kamu down tapi apa yangaku dapat saat aku terpuruk karena Amanda meninggal. Apa yangkamu lakukan saat aku membutuhkanmu?”

Aku tak memperdulikan Lee Jun Gi, aku tinggalkan dia di teras sendirian, aku dan Rendi bermaksud menaiki mobil yangdi parkir di depan gerbang rumah keluarga Lee, tak lama terdengar suara Lee Jun Gi berteriak dan memakiku.
“Lightly, kamu egois, dasar kamu gak tahu diri” 

Mendengar Lee Jun Gi memakiku, Rendi yangsudah masuk ke dalam mobil, keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat setengah berlari lalu aku mendengar suara “BUK”. Kepalan tangan Rendi berhasil mendarat di pipi Lee Jun Gi. Aku berlari ke arah Lee Jun Gi, bukan ke arah Rendi. Lee Jun Gi tersungkur, bibirnya berdarah dan ada sedikit memar di pipinya. 

Kegaduhan yang di buat Rendi dan Lee Jun Gi membuat semua orang yangada di dalam rumah keluar, ada yangmembantu Lee Jun Gi berdiri, ada juga yangmenenangkan Rendi. 

“Lee Jun Gi, kamu gak apa-apa?”
Ucapku dengan khawatir. Tapi ia hanya menatapku sinis.

“kamu bilang Lightly gak tahu diri, Lightly egois?”

Rendi bersiap lagi memukul Lee Jun Gi tapi di tahan oleh Ryu Wan dan Se Jeong. Amarah Rendi sudah tak bisa di tahan, Lee Jun Gi memakiku habis-habisan, tapi entah kenapa aku membela terus si monster Tyrex ini daripada calon suamiku. Lee Ji Hoon datang dari dalam rumah, ia awalnya bertanya pada Se Jeong tentang apa yangterjadi denganku, Lee Jun Gi dan Rendi. Lalu Ji Hoon menghampiri kakaknya. Aku mendengar pembicaraan mereka karena aku ada di samping Lee Jun Gi. 

“Kak, kenapa kakak sangat jahat pada Lightly?”

“aku? Jahat? Heh Ji Hoon, apa kamu gak inget, waktu kakak iparmu meninggal dia gak datang! Sementara waktu Chi Hoon meninggal, aku selalu ada untuknya”

“kak, Lightly punya alasan kenapa dia gak bisa datang waktu itu, bukan hanya karena dia sedang magang”

“lalu apa? karena aku tolak cintanya mentah-mentah?”

“Kak, Abang menitipkan Lightly bukan untuk kamu sakiti, tapi harusnya kamu jaga dia baik-baik, harusnya waktu itu kamu menikahinya, meskipun kamu gak mencintainya, hutang kita pada Lightly banyak”

Aku tidak bisa diam saja melihat kakak beradik ini bertengkar. Aku mempunyai hutang yangsangat besar pada Lee Jun Gi, hutang-hutang yang tak mampu aku bayar dengan uang hasil kerja kerasku, hal yangdi ungkit Lee Jun Gi memang benar. Aku tak ada untuknya saat ia membutuhkanku. 

“Lee Ji Hoon, cukup, kamu gak boleh bertengkar dengan kakakmu, aku mohon” 

Aku memohon pada Ji Hoon agar menyudahi pertengkarannya dengan Lee Jun Gi. tapi Ji Hoon tak mendengarku, kali ini Lee Ji Hoon marah besar pada Lee Jun Gi, kakak kandungnya.

“Lily, aku sudah cukup berdiam diri membiarkan kamu sakit karena dia. Seharusnya aku memberi tahu kakak sejak dulu kak, Lightly pergi karena kamu, kamu alasan paling besar kenapa dia memutuskan pergi dengan Rendi. Lalu kamu menyalahkan dia karena dia gak datang ke pemakaman istrimu, coba kamu pikir, perempuan mana yangtahan melihat laki-laki yang sangat dia cintai bersedih untuk perempuan lain? Kalau abang bisa bangkit dari kuburnya, dia pasti membunuh kamu”

Lee Ji Hoon kemudian pergi meninggalkan Lee Jun Gi, kakaknya. Dengan seribu tanya, Lee Jun Gi harus mencerna kata-kata Lee Ji Hoon yangpaling akhir. Ya, aku sangat mencintainya hingga logikaku hilang. Perasaanku memakan Logikaku, Aku tak pernah bisa berpikir kenapa aku sangat mencintai Lee Jun Gi?
Aku pergi meninggalkan Lee Jun Gi dan Rendi mengantarku ke Appartement. Ingin rasanya aku beristirahat tapi yangmerasa lelah hanya tubuhku, hatiku dan pikiranku selalu tertuju pada Lee Jun Gi, aku mengingat lagi masa-masa suram karena di tinggalkan Lee Chi Hoon yangberubah menjadi masa-masa indah karena hidup dengan Lee Jun Gi atau biasa aku memanggilnya Oppa. Masa itu, masa-masa aku jatuh cinta padanya, masa dimana aku bersandar terus di bahunya, masa dimana kesedihan tentang Lee Chi Hoon berubah menjadi kekuatan yang diberikan oleh Oppa. Dia malaikat tanpa sayapku, laki-laki yang selalu menuruti semua keinginanku, laki-laki yangmencium keningku tanpa permisi dan dia Oppa, begitu aku memanggilnya membuatku percaya dan jatuh cinta padanya.



 

Air mataku jatuh lagi, tetes demi tetes hingga mengalir deras tanpa henti. Aku merindukan Oppa dan malaikat tanpa sayapku, aku merindukannya, merindukan kehadiran dan perhatiannya padaku. aku ingin di cintai lagi olehnya, meskipun menurutnya itu bukan cinta. Cintaku yangbertepuk sebelah tangan dan aku masih menginginkannya kembali. Oppa, malaikat tanpa sayapku hilang di telan bumi setelah ia mengenal cinta dari Amanda, wanita cantik yangpintar dan berprofesi sebagai seorang dokter. Ia menggadaikan cintaku demi kecantikan yangdi miliki Amanda dan Ia melempar cintaku tanpa melihat betapa aku mempunyai TULUS dalam cintaku. 

Rendi melarangku berkunjung lagi ke rumah keluarga Lee untuk beberapa saat, Rendi hanya ingin Tante Jae Ha tenang dulu dan tidak lagi membebaninya.
Peretengkarannya dengan Lee Jun Gi di hari ke dua Paman meninggal pasti meninggalkan sakit yangdalam bagi Tante Jae Ha dan Rendi sangat memikirkannya. 

Sejak pertengkarannya dengan mantan Kakak Iparku hari itu, Lee Jun Gi menjadi musuh bebuyutan bagi Rendi. Iklan pakaian Kemeja Laki-laki yangbaru di Launching oleh SmF langsung di tolak oleh Rendi, ia tak mau lagi berurusan dengan Lee Jun Gi kecuali dengan satu hal, surat pernyataan Lee Jun Gi yangdi tujukan kepada hakim. Surat itu di perlukan sebagai tanda Lee Jun Gi setuju akan pernikahanku dengan Rendi dan meminta hakim  menikahkanku dengan Rendi lalu memindahkan status waliku pada Rendi. Untuk memiliki surat pernyataan itu, Rendi harus membujuk Lee Jun Gi habis-habisan, apalagi setelah kejadian pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.

Tante Jae Ha meneleponku, katanya ini sudah hari ke 29 paman meninggal dan aku belum muncul lagi di hadapannya. Menurutnya, aku tak perlu khawatir akan Lee Jun Gi, ia sudah jinak sekarang meskipun aku yakin sih dia masih memebenciku dengan alasan yangsama. Karena aku tak hadir di pemakaman Amanda dan karena aku tak ada di sampingnya saat hari-hari sulit yangJun Gi lewati tanpa Amanda. 

Padahal benar apa yangLee Ji Hoon katakan waktu itu, saat Lee Jun Gi di pukuli oleh Rendi, aku tak akan sanggup melihat laki-laki yangaku cintai menangisi perempuan lain. Aku tak bisa melihat Lee Jun Gi menangisi Amanda, bagaimana rasanya jika Lee Jun Gi menjadi aku? Pasti ia juga tak akan kuat melihat perempuan yangia cintai menangisi pria lain.

Aku mengunjungi Tante Jae Ha setelah beberapa jam ia menelaponku, aku membawa martabak asin untuk suguhan tahlilan yangtidak berhenti dari hari pertama Paman meninggal sampai hari ke 29 hari ini. 

Aku sangat bersyukur pada warga komplek Buah Batu Indah Regency, tempat keluarga Lee tinggal karena mereka sangat memperhatikan keluarga angkatku. Mereka secara bergantian memasak untuk makan ibu angkatku dan kedua saudara angkatku juga memasak untuk menjamu tamu-tamu yangdatang berbela sungkawa pada Tante Jae Ha atas kepergian Paman Jae Joon. 

Aku kehilangan Pamanku, paman yangsudah aku anggap sebagai ayahku sendiri, Paman yangselalu ada untukku. Bahkan saat aku akan pergi ke Malaysia, Paman masih memberiku uang saku, katanya ini untuk jajanku di sana, jumlahnya tak besar hanya saja aku tak bisa melupakan moment terakhirku bertemu dengannya sebelum ia sakit dan meninggal dunia.

Aku bertemu Lee Jun Gi, ia tak membahas lagi ketidak hadiranku di pemakaman Amanda dan ketidak hadiranku saat ia down karena di tinggal mati istinya, dokter spesialis anak Amanda Verenial Ghonshon. Tapi muka garangnya masih ia tunjukan padaku. ia juga tak menegurku dan akupun sama. Jika di pikir memakai logika, betapa sakit hatinya aku saat Lee Jun Gi menyebutku perempuan tidak tahu diri tapi lagi-lagi perasaan membunuh logikaku, hatiku masih berdegup dengan kencang sama seperti ketika aku pertama kali menyadari bahwa aku mencintainya 3 tahun lalu.  

Seperti halnya malam ini saat kami membagikan hidangan kepada warga yangmenghadiri tahlilan Paman Jae Joon di hari ke 31. Ia tak menerima hidangan yangaku estafetkan padanya, ia menghindari hidangan yangaku estafetkan dan menerima hidangan yangdi estafetkan oleh Kim Ryu Wan.
Oke, baiklah aku salah karena tak menghadiri pemakaman Amanda, istrinya. Aku juga tidak ada saat Lee Jun Gi menghadapi hari-hari beratnya tanpa Amanda. Sedangkan ia selalu ada saat aku di tinggalkan oleh adiknya, calon suamiku saat itu, Lee Chi Hoon. Tapi jika aku menagih hal yangsama padanya akankah dia menerima? Kemana Lee Jun Gi saat aku jatuh cinta padanya? Apa yangLee Jun Gi lakukan ketika Amanda merebut posisiku? Di mana Lee Jun Gi saat hatiku remuk berkeping-keping olehnya?

Dia muak padaku? aku juga sama, aku muak padanya. Tapi aku tak bisa menunjukannya, aku masih punya cinta yangtulus untuknya. Yang lagi-lagi meredam semua emosiku. Aku tak bisa seperti Lee Jun Gi yangmenunjukan kemuakannya padaku karena ada cinta di hatiku yangmenahannya.
Lee Jun Gi tak cinta padaku? aku tahu, tak perlu dia menggembor-gemborkan pada semua orang dan membuat orang-orang mengasihaniku. Aku marah pada Lee Jun Gi, marah sekali. Ia seperti tidak ikhlash membiayaiku setelah Lee Chi Hoon meninggal. Padahal aku tak pernah meminta dia untuk menjadi waliku. Aku juga tak pernah meminta dia untuk mencintaiku dan aku juga tak pernah membalas semua hal yangia lakukan untuk menyakitiku.

Aku selalu ingat kisah nabi Muhammad S.A.W, ia tak pernah marah jika ada orang yangmembencinya bahkan ketika orang itu melemparkan batu dan kotoran yangmembuat sebagian tubuhNYA luka dan kotor. Nabi Muhammad malah merasa kehilangan ketika orang yahudi yangmelemparinya batu dan kotoran itu tidak ada. Beliau bertanya, kemanakah orang yangselalu melempariku batu dan kotoran? Kemudian yanglain berkata orang itu sedang sakit dan Nabi Muhammad menjenguknya. Kisah inspiratif yangbisa aku contoh dari Nabiku.
Aku memang tidak semulia nabi Muhammad S.A.W tapi aku mencoba untuk meniru pola hidupnya yangsyarat akan makna dan ilmu bagi muslimah yangbelum bisa mengamalkan apapun seperti aku. Begitu pun dengan kejadian Lee Jun Gi yangtiba-tiba marah padaku, alasannya memang bukan alasan sepele tapi bukankah dia bisa menanyakannya dengan baik-baik? Bukan marah-marah seperti ini. 

Melihat sikap janggal yangaku terima dari Lee Jun Gi, Tante Jae Ha memanggil aku dan Lee Jun Gi untuk memperjelas masalah ini. Ia memintaku duduk di meja makan beserta Lee Jun Gi. kami bertiga berbicara hal-hal aneh yangaku terima dari Lee Jun Gi sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

“Jun Gi, omma mau bertanya, kenapa sikap kamu kasar sekali pada Lightly?”
Tante Jae Ha memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang ia ajukan untuk Lee Jun Gi, anaknya.

“Omma, aku ga terima jika aku di tuding menyakiti Lightly, dia yangpergi meninggalkanku waktu aku baru menikah dengan Amanda dan dia gak datang waktu Amanda meninggal. Jika alasannya Lightly sedang magang aku bisa ngerti, tapi gak bisakah dia izin untuk menjenguk saudaranya yangmeninggal? Atau minimal datanglah saat dia libur kuliah, kalau gak bisa datang ke Australia datanglah ke Indonesia. Tapi dia ga nunjukin batang hidungnya. Dia baru muncul setelah 2 tahun Amanda meninggal.”

“Lightly, apa alasan kamu tidak datang saat Amanda meninggal? Tante juga kepingin tahu alasannya”

“Jun Gi dan Tante Jae Ha. Maaf kalau aku ga datang saat Amanda meninggal. Aku hanya gak tega melihat kalian bersedih itu aja”

“Lightly, kamu yakin hanya itu alasannya? Ga ada yang lain?”

“ada sih Tante, tapi aku gak mau bicara disini.”

“gak apa, bicara saja Lightly, Tante ingin dengar”

“hmm.. saat itu aku masih punya rasa yang special sama Oppa, jadi aku gak bisa lihat dia sedih. Aku pasti marah sama diriku sendiri kalau aku membiarkan Oppa menangis. Lagipula, ada atau gak ada aku kan sama aja Tante”

Aku terdiam setelah menjelaskan perasaanku yangmenghalangi kedatanganku ke pemakaman Amanda, Tante Jae Ha dan Lee Jun Gi pun sama. Air mataku kembali berjatuhan tapi tak deras seperti kemarin. Aku menyusut air mataku dengan tanganku, Tante Jae Ha mengusap bahuku. Sakit yangaku rasa 3 tahun yanglalu muncul lagi. Dan ini pertama kalinya aku menangis di hadapan Lee Jun Gi. Tak berapa lama Rendi Gunadi Khan, calon suamiku datang dan melihatku menyusut air mata.

“Assallamu’alaikum, Lightly, Tante”

Rendi masuk ke dalam rumah dan menghampiri kami yangada di ruang makan. Aku memang menyuruhnya menjemputku karena aku tak membawa mobil, mobilku sedang di service di bengkel dan aku menggunakan Taxi dari Rumah Sakit menuju rumah Keluarga Lee.

“oh, nak Rendi mari masuk dan duduk di sini”

Sahut Tante Jae Ha, menyuruh Rendi untuk duduk bersama aku dan Lee Jun Gi. Tempat duduk kami berhadap-hadapan. B*STAR juga ikut bergabung duduk bersama kami. Mereka bertanya kenapa aku menangis lagi. 

“Lightly, kamu menangis? Kenapa?”

Sahut Rendi padaku, ia melihatku menangis lagi setelah 2 tahun aku menghentikan tangisanku di hadapannya. Selama 2 tahun di Malaysia, aku tak pernah meneteskan air mata di hadapan Rendi. Aku juga tak pernah menyebut nama Lee Jun Gi di hadapan Rendi, semuanya aku lakukan demi menghargai Rendi yangmencintaiku dengan tulus. 

“ah. Aku Cuma sedih inget sama Paman Jae Joon”

“Bohong, Lily menangis karena Kakak”
Ucap Lee Ji Hoon.

“Benar Lightly?”

Rendi bertanya padaku, tapi aku tak menjawabnya aku hanya diam. Hanya diam yang bisa aku lakukan sampai Rendi menanyai semua orang yang ada di sekitarnya.

“ada apa dengan calon istriku? Kenapa dia menangis lagi?”

“nak Rendi, ini bisa di jelaskan baik-baik. Anak Tante yang salah. Biar Tante yang menghukumnya”

“karena Lee Jun Gi lagi? Calon istriku menangis lagi karena dia? Hey Lee Jun Gi, belum puaskah kamu menyakitinya waktu itu? Sekarang kamu sakiti dia lagi”

“hhh.. coba jelaskan apa salahku pada Lightly? Rendi kamu calon suaminya, kamu tahu siapa yangmembiayai Lightly setelah adikku meninggal? Aku. Aku yang membiayainya dan aku selalu ada untuknya. Sekarang sebutkan apa salahku pada Lightly?”
Sembari sinis, Lee Jun Gi mencoba membela diri di hadapan Rendi. 

“ Fine, kamu membayar semua kebutuhan Lightly sejak Lee Chi Hoon meninggal hingga Lightly berada di Malaysia bersamaku. Tapi tahukah kamu, Lightly gak pernah menggunakan uang darimu sepeserpun. Sejak kamu menyakitinya dengan cara menikahi Amanda tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Kamu menikahi Amanda 1 minggu setelah Lightly menyatakan cintanya dan kamu tolak cintanya mentah-mentah. Kamu bilang Lightly masih kecil hingga kamu gak bisa menikahinya. Lalu jika bukan kamu, siapa penyebab Lightly menderita Psikosomatis selama 1 tahun lamanya?” 

Lee Jun Gi terperangah mendengar penjelasan Rendi calon suamiku. Rupanya ia baru tahu jika aku mengidap Psikosomatisyangbaru hilang setelah aku mengalaminya selama 1 tahun. Aku hanya diam tak berkomentar apapun. Biarlah, biar Lee Jun Gi tahu bagaimana aku menghadapi cinta bertepuk sebelah tangan yangia berikan untukku dengan cara memberiku harapan-harapan palsu.

“nak Rendi, apa Tante gak salah dengar? Lee Jun Gi menikah tanpa memberitahu Lightly? tapi waktu itu Jun Gi bilang dia sudah memberitahu semuanya termasuk Lightly. Tante gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi? Lightly menyatakan cinta pada anak Tante? Begitu maksudnya?”

“iya Tante, Lightly pernah menyatakan cintanya pada Lee Jun Gi 1 minggu sebelum pengumuman pernikahan Lee Jun Gi dan Amanda muncul di media massa dan media social. Lightly gak tahu apa-apa. Waktu itu, Lightly sedang bekerja denganku di klinik. Setelah cintanya di tolak, tubuhnya gak mau menerima makanan apapun. Lalu satu minggu setelah cintanya di tolak, Lee Jun Gi mengumumkan pernikahannya dengan sepupuku Amanda. Dan setelah itu Lightly mengidap Psikosomatis atau penyakit pikiran. Setiap Lightly memikirkan Lee Jun Gi dan sakit hatinya terulang kembali, Lightly pasti sesak nafas. Saksi Lightly mengidap sakit Psikosomatis  adalah Lee Ji Hoon. Dan kenapa Lightly jatuh cinta pada Lee Jun Gi? karena Lee Jun Gi memberi  harapan palsu pada Lightly dan apa penyebab Lightly pergi dari sini? karena Lightly juga gak mau satu rumah dengan Amanda”

Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari Versi aku dan Rendi 3 tahun lalu. Tante Jae Ha memukuli Lee Jun Gi dengan kedua tangannya. Tak cukup dengan itu, Tante Jae Ha juga berteriak dan mengancam membunuh Lee Jun Gi. Melihat Tante Jae Ha memarahi Lee Jun Gi habis-habisan, aku tak bisa diam begitu saja. Aku tak mau hanya karena aku, keluarga ini jadi pecah belah.

“kurang ajar kamu Jun Gi, dasar bedabah. Kamu pikir kamu siapa? sampai hati kamu menolak cinta Lightly. Andai Omma tahu waktu itu Lightly menyatakan cintanya sama kamu, Omma gak akan merestui pernikahan kamu dengan Amanda. Omma pikir Lightly hanya memendam rasa cinta biasa yang gak pernah dia ungkapkan sama kamu. Jun Gi, memangnya kamu bisa seperti ini karena siapa? Kamu memang mendapat beasiswa dari Asian Fashion Design and Model Univercity Singapore. Tapi disana kamu gak punya tempat tinggal. Ibu Lightly yang mengusahakan agar kamu dapat tinggal di Appartement milik sahabatnya dengan biaya murah. Kamu pikir dari mana Omma dan Appa bisa mengirimi kamu uang untuk hidup disana selama hampir 3 tahun? Ibu Lightly yang membantu Omma dan Appa. Kalau bukan karena dia kamu gak akan bisa jadi seperti ini Lee Jun Gi.”

Tante Jae Ha menangis, ia mengingat jasa ibuku. Lalu Tante Jae Ha memukuli Lee Jun Gi lagi, kali ini dia malah melempar vas bunga kecil pada anaknya. Tapi aku berhasil menghalanginya, menghalangi lemparan vas bunga kecil itu mengenai tubuh Lee Jun Gi,  aku menghalangi lemparan vas bunga itu dengan badanku. Aku berhasil melindungi Lee Jun Gi dari amukan ibunya sendiri dan vas bunga itu mengenai tubuhku lalu pecah jatuh ke lantai.

“aww.. Tante sakit”

“Lightly minggir, biar Tante bunuh dia, dasar anak kurang ajar”

“Tante cukup, jangan pukulin Jun Gi lagi. Dia anak Tante. Lagipula aku juga salah Tante, bukan salah Jun Gi sepenuhnya.”

“sampai kapan kamu mau membela dia terus Lightly, dia anak kurang ajar”

“Tante cukup. Aku mohon cukup. Aku yangsalah Tante, aku yangsalah, jangan pukulin  lagi Lee Jun Gi Tante aku mohon”

Aku menangis sejadi-jadinya, aku sedih. Sedih karena hanya Tante Jae Ha, Lee Jun Gi dan Lee Ji Hoon satu-satunya keluarga aku di dunia saat ini. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Akan runyam jadinya jika mereka bermusuhan satu sama lain hanya karena Aku.

Tante Jae Ha pingsan, ia di angkat oleh Rendi dan Kim Ryu Wan ke kamar. Sedangkan Lee Ji Hoon, Se Jeong dan Daniel menenangkanku dan Lee Jun Gi. Aku mengusulkan agar Tante Jae Ha di rawat di rumah sakit karena beban yangsatu persatu muncul, dia harus banyak istirahat.

“Ji Hoon, bawa saja Tante ke Rumah Sakit. biar dia istirahat di sana. Dan jangan ada lagi yangmembahas tentang aku dan Oppa 3 tahun yang lalu di hadapan Tante.”
Saranku pada Ji Hoon

“iya Lily, akupun berpikir seperti itu”

Lee Ji Hoon setuju jika ibunya di rawat di rumah sakit sesuai saranku. Aku memanggil 2 orang biang kerok pingsannya Tante Jae Ha. Rendi dan Lee Jun Gi.

“Rendi, Lee Jun Gi ikut aku” 

Aku meminta mereka mengikutiku. Aku marah besar pada Lee Jun Gi juga Rendi, calon suamiku. Aku membawa mereka ke kamar yangaku huni dulu. Kamar yangmenjadi saksi sakitnya aku karena Lee Jun Gi. kamar yangsekarang sudah berubah fungsi menjadi Gudang. Tempat barang-barang yang tak terpakai di simpan.

“Puas kalian membuat ibu angkatku pingsan? Lihat apa yang kalian lakukan?”

Aku memarahi mereka. Aku memarahi dokter spesialis anak terbaik di Asia dan aku memarahi Fashion Designer terbaik dunia. 

“Lightly, aku hanya kesal pada Lee Jun Gi. maksudku, aku hanya memberitahu Lee Jun Gi, apa yang terjadi waktu itu”
Bela Rendi pada dirinya sendiri.

“kamu, Lee Jun Gi, puas bikin ibu kamu pingsan kayak gini?”

“Lightly, ini semua Rendi yang buat, kalau dia bermasalah sama aku, cukup kasih tahu aku secara pribadi gak perlu di depan Omma”

Aku menghela nafasku, mereka si biang kerok tak ada yang mau di salahkan dan mereka membela diri mereka masing-masing. 

“jangan pernah ada lagi yangmembahas kisah cinta aku sama Oppa 3 tahun lalu di depan Tante Jae Ha. Kalau sampai salah satu dari kalian ada yang membahas lagi tentang aku dan Oppa di depan Tante Jae Ha, aku bunuh kalian. Ngerti!”

Lee Jun Gi dan Rendi seperti shock melihat aku marah-marah. Siapa yangberani marah-marah sama mereka selain aku? Aku tak pernah meluapkan emosiku seperti tadi, sekalipun itu hal yangmembuatku sakit. Aku sangat kesal pada mereka berdua. Hal yangharusnya bisa aku redam akhirnya meluap juga. Kali ini aku gagal meniru Nabiku, Nabi Muhammad S.A.W dalam mengelola amarah. Ada penyesalan setelah amarahku meluap, menyesal karena aku tak bisa mengendalikan emosiku dan menyesal karena aku memarahi Lee Jun Gi  kakak angkatku dan Rendi, calon suamiku.

Tante Jae Ha di bawa ke Rumah Sakit Ahmad Dahlan. Ia di rawat di kelas VIP ruang Dewi Sartika. Sebetulnya Tante Jae Ha menolak untuk di rawat apalagi di rawat di rumah sakit tempat suaminya, Paman Jae Joon meninggal. Tapi kita tidak punya pilihan lain. 

Rumah Sakit paling dekat dari rumah adalah Rumah Sakit Ahmad Dahlan dan di Rumah Sakit itu aku praktek sebagai psikolog. Jadi akan memudahkan bagiku untuk menjenguk Tante Jae Ha bergantian dengan Jun Gi dan Ji Hoon.
Aku berpamitan pulang pada Tante Jae Ha, Ji Hoon dan Jun Gi. Aku akan pulang ke Appartementku di antar oleh Rendi. Tapi Tante Jae Ha memintaku untuk tinggal di sana beberapa saat lagi. Aku menolak karena besok aku harus mengantar Rendi ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Rendi akan pulang ke Malaysia. Dia akan praktek lagi di sana sebagai dokter Anak di Rumah Sakit Penang, Malaysia. 

“Lightly, tinggalah beberapa saat lagi di sini. Tante ingin di temani sama kamu”
Ucap Tante Jae Ha.

“Tante, aku ingin sekali menemani Tante di sini, tapi besok pagi-pagi sekali aku harus mengantar Rendi ke Bandara. Waktu cuti Rendi sudah habis, dia harus kembali praktek di Malaysia.”

“oh, baiklah. Tapi kamu janji ya, pulang dari Bandara ke sini lagi.”

“iya Tante, aku janji.”

Aku pun pergi meninggalkan Tante Jae Ha dengan dua anak laki-lakinya di rumah sakit. Dan ada yangberbeda dari Lee Jun Gi, saat aku pamit padanya, ia tersenyum manis padaku. Sangat manis, sampai jantungku tak berhenti bergetar. Ah.. aku harus sadar, aku punya Rendi Gunadi Khan, si dokter Anak yang sangat pintar dan kaya raya karena 3 pekerjaannya sekaligus. Aku yakin Rendi punya rasa cinta yang lebih dari Oppa padaku. Meski kita jarang bertemu.

“Lightly, kamu yakin, mau balik lagi ke Rumah Sakit besok?”

“iya lah Ren, besok lusa aku praktek seperti biasa di sana, lagipula Tante Jae Ha di rawat di Rumah Sakit Ahmad Dahlan, masa iya aku gak jenguk”

“tapi Lightly, di sana ada Lee Jun Gi”

“terus kenapa?”

Rendi menepikan mobilnya ke pinggir jalan, kebetulan jalan Pelajar Pejuang, tak macet seperti biasanya. 

“Rendi, kok berhenti?”

“Lightly, aku gak bisa pura-pura gak tahu kalau Lee Jun Gi itu Oppa. Dia Malaikat tanpa sayapmu”

“Ren, Lee Jun Gi ya Lee Jun Gi, Oppa ya Oppa. Aku udah bilang sama kamu dari dulu, dari sejak kita selesai tunangan. Oppa udah gak ada, dia udah mati. Bagiku dia sudah mati di telan bumi setelah kenal dengan sepupumu, Amanda”
“Lightly, tapi aku gak bisa nerima kamu terus ketemu Lee Jun Gi, ikutlah denganku lagi ke Malaysia. Pindahkan praktekmu ke Rumah Sakit Penang, Malaysia. Kuliah S3 mu juga pindahkan ke Sana.”

“Ren, aku ke sini bukan untuk Lee Jun Gi, aku kesini untuk ibu angkatku. sudah satu bulan pamanku meninggal. Dan sekarang Tante Jae Ha di rawat di Rumah Sakit. Kamu pikir, kenapa Tante Jae Ha bisa di rawat di rumah sakit? itu karena kamu! Bukankah kamu berjanji gak akan membahas lagi masalah ini ke permukaan. Lihat apa yang kamu lakukan pada ibu angkatku? Dan karena kamu juga Lee Jun Gi jadi tahu gimana sakitnya aku waktu itu.”

“ok, Lightly, aku minta maaf soal itu. Tapi aku gak rela kamu bertemu dengan Lee Jun Gi lagi”

“terus aku harus gimana? Ibu angkatku adalah ibu Lee Jun Gi. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menutup mata dan menghindari kenyataan bahwa Lee Jun Gi adalah Oppa yang menyakitiku. Dia malaikat tanpa sayapku. Maaf Ren, aku melakukan ini semua demi ibu angkatku. Aku gak bisa ikut kamu”

“udah aku duga, kamu pasti gak bisa ninggalin Lee Jun Gi. pelan-pelan kamu pasti jatuh cinta lagi sama dia”

“Ren..!! aku tunangan kamu, 3 bulan
lagi kita menikah. sekarang sudah bulan desember. Kita menikah bulan maret. Plase percaya sama aku”

“baiklah, aku akan tetap ke Malaysia. Di sana aku akan meneleponmu sehari 3 kali. Dan aku akan mengurus perpindahan praktekku dari Malaysia ke Indonesia. Dan jangan coba-coba jatuh cinta pada Lee Jun Gi, kalau kamu berani jatuh cinta lagi padanya. Lee Jun Gi taruhannya.”

Aku menghentikan perdebatan panjang ini dengan cara mengiyakan semua keinginan Rendi. termasuk keinginannya meneleponku sehari 3 kali. Rendi berubah total, ia menjadi posesive setelah dia tahu aku bertemu lagi dengan Lee Jun Gi. Seperti hari ini, Rendi mencoba mengaturku untuk tidak lagi bertemu Lee Jun Gi dengan memintaku untuk kembali pindah ke Malaysia. Jujur, aku tak ingin meninggalkan Indonesia saat ini. Yang aku khawatirkan hanyalah Tante Jae Ha. Ia baru kehilangan suaminya lalu ia sakit dan terbaring di Rumah Sakit.
Esoknya, Rendi pergi ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan jasa travel. Entahlah mungkin dia marah karena aku harus bolak-balik Rumah Sakit menjenguk Tante Jae Ha dan pasti bertemu Lee Jun Gi. Aku menyelesaikan Praktekku dulu baru mengunjungi Tante Jae Ha. 

Saat aku membesuk Tante Jae Ha sore hari, Lee Jun Gi masih berada di sana. Dia setia menemani ibunya. Lee Jun Gi hanya pulang untuk berganti pakaian dan kembali lagi ke rumah sakit. Tante Jae Ha sedang tidur saat aku datang.
Lee Jun Gi, ia menyambutku dengan senyuman hangat dan sapaan yang tak pernah Aku lihat selama 3 tahun belakangan ini. Senyuman itu mengingatkanku pada Oppa, Malaikat Tanpa Sayapku. Sekuat apapun aku menghindar dari kenyataan, aku tak bisa berbohong pada hatiku. Lee Jun Gi adalah cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Ia adalah harapan kosong yang menyelimutiku dengan keyakinan bahwa Ia mencintaiku. Ia malaikat tanpa sayapku. Sekarang ia ada di hadapanku.

“Lightly, kamu udah datang.”

Sapa Jun Gi padaku.

“oh, ya Jun Gi, Gimana keadaan Tante Jae Ha?”

“Omma baik-baik aja, kalau sakit kepalanya udah berhenti, Omma boleh pulang besok” 

“ Allhamdullillah, mudah-mudahan Tante Jae Ha segera pulih lagi”

“Amiin, Lightly aku mau bicara sebentar sama kamu boleh?”

“oh, tentu boleh ada apa?”

“soal kemarin maaf aku gak tahu kalau kamu pergi ke Malaysia karena aku”

“ah.. gak apa-apa Jun Gi, itu masa lalu. gak perlu di bahas lagi”

“Aku menonton acara pertunanganmu dengan Rendi. selamat ya”

“oh iya. Iya terimakasih”

“maaf tapi kenapa kamu gak memanggilku Oppa? Dulu Kamu selalu memanggilku Oppa.”

“ah aku minta maaf, aku gak bisa manggil kamu dengan sebutan itu lagi. Rendi akan marah besar kalau aku memanggil kamu dengan sebutan itu. Jadi mohon pengertiannya.”

“oh ya gak apa-apa Lightly, aku ngerti.”

“terima kasih Jun Gi”

Aku mulai terbiasa memanggil dia hanya dengan sebutan nama. Selama Tante Jae Ha sakit hampir setiap hari aku bertemu Jun Gi di rumah maupun di rumah sakit. Dan di setiap pertemuan, hampir selalu ada pembicaraan. Termasuk pembicaraan tentang perasaanku padanya 3 tahun lalu. Sebisa mungkin aku menghindarinya. Tapi pertanyaan itu selalu muncul kalau aku sedang bersama Lee Jun Gi di manapun kita berada. 

“Lightly, Tante ingin sekali jalan-jalan sama kamu”
Ujar Tante Jae Ha padaku.

“iya Tante, kalau Tante mau Lightly bisa antar Tante ke manapun Tante mau pergi”

“Lightly, bagaimana kalau kita ke Lembang, Lee Jun Gi punya villa di sana. Tante ingin sekali memetik buah harum manis yang di tanam di sana. Udah sekitar 2 tahun Tante gak ke sana Lightly. Sejak Amanda meninggal”

Tante Jae Ha memintaku untuk pergi ke Villa milik Lee Jun Gi yang ada di Lembang. Dulu, aku juga pernah ke sana. Setelah bangun dari koma. Ya. Aku ingat, dulu pertama kali aku jatuh cinta pada Lee Jun Gi di Villa itu. Di Villa itu juga Lee Jun Gi menelepon lagi Amanda dan rasanya hatiku sakit. Rasa yang dulu aku elak, kini datang lagi. Ahh.. aku bingung bagaimana mungkin aku menolak ajakan Tante Jae Ha. Meski agak berat hati, aku iyakan saja ajakannya.
Kita tak akan pernah tahu usia manusia, aku menerima ajakan Tante Jae Ha karena pertimbangan itu. Jodoh, Mati, Rezeki itu hak Allah. DIA yang memberikan semua itu tanpa campur tangan manusia. Begitu juga dengan usiaku atau dengan usia Tante Jae Ha, aku tak tahu apakah ini permintaan terakhirnya? Jadi aku iyakan saja ajakannya. Karena bagaimanapun Tante Jae Ha adalah ibuku. Aku harus menomor satukan keinginannya. 

Seperti yang di ucapkan Nabi Muhammad pada seseorang yang bertanya “kepada siapakah kita harus berbakti?” dan Nabi Muhammad berkata “yang pertama kita harus berbakti kepada Ibu, yang kedua berbakti kepada Ibu dan yan gketiga berbakti kepada Ibu. Setelah itu baru berbakti pada Ayah”  

Nabi Muhammad menomor satukan seorang ibu. Dan itu yang aku lakukan saat ini pada Tante Jae Ha. Meskipun Tante Jae Ha bukan ibu kandungku, tapi ia segalanya bagiku. Aku harus menomor satukan beliau di atas segala-galanya. Dan ia akan tetap menjadi ibuku meskipun aku tidak menikah dengan Anaknya.
Aku Whats App Lee Jun Gi, ini pertama kalinya aku menghubungi dia setelah bertahun-tahun aku tak menelepon dan tak berkirim Whats App dengannya.

“Jun Gi, Tante Jae Ha ingin liburan ke Villa Lembang. Gimana?”

Tapi Whats App itu hanya di Read tak di balas. Aku juga mengirim pesan Whats App pada Lee Ji Hoon. Pesan yang sama seperti yang aku kirimkan pada Lee Jun Gi dan Lee Ji Hoon membalasnya. 

“aku siap kok Lily, B*STAR gak ada Tour bulan ini. ini akhir tahun. Kita gak terima Job tahun baru”

Begitu isi pesan Lee Ji Hoon padaku. Tapi Lee Jun Gi, sudah 3 jam aku menunggu pesan whats app ku di balas. Tapi pesan itu hanya di Read.  Jengkel karena aku harus memberi tahu keputusan Lee Jun Gi pada Tante Jae Ha. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Lee Jun Gi.

“hallo Lightly”

“hallo Jun Gi, kenapa sih aku Whats App gak di bales. Di Read doang. Aku harus ngasih tahu Tante Jae Ha soal liburannya ke Villa. Kamu kan yang punya Villa itu.”

Lee Jun Gi terkekeh-kekeh. Aku mendengarnya dengan jelas dia tertawa. 

“Lightly, aku kangen kamu ngomel-ngomel. Dunia aku tuh sepi banget tanpa omelan kamu”

“eh Jun Gi, jangan macem-macem. Aku bisa laporin ini sama Rendi, tiap hari Rendi neleponin aku. Kalau aku bilang kamu godain aku, bisa mati kamu di tangan dia”

“coba aja kamu laporin sama dia. Aku rela mati kok demi kamu.”

“iiihhh.. Lee Jun Gi, awas ya kalau ketemu aku bejek-bejek kamu nanti.”

Lee Jun Gi terus menggodaku. Dia seakan lupa dosa apa yang ia buat padaku. sakit apa yang dia beri untukku. Aku tak pernah membahas kesalahannya dan rasa sakitku. Aku terus berpikir asalkan dia bahagia aku rela jadi bahan olokannya. Ya.. mungkin aku masih mencintainya, masih ingin memilikinya. Meski rasanya itu tak mungkin. Tak mungkin karena pernikahanku dengan Rendi Gunadi Khan, calon suamiku akan segera di gelar. Meski Lee Jun Gi akhirnya jatuh cinta kepadaku, aku tak akan pernah bisa memilikinya.
Jatuh cinta? Rasanya Lee Jun Gi tak mungkin jatuh cinta padaku. Karena tetap saja standar perempuan yang ia sukai adalah mendiang istrinya. Amanda Verenial Ghonshon. Yang  aku dengar dari Tante Jae Ha, ada banyak perempuan yang mendekati Lee Jun Gi dari gadis hingga janda. Memang sepeninggal Amanda, Lee Jun Gi jadi incaran nomor satu bagi perempuan-perempuan di dunia. Siapa yang tak mau bersanding dengan Lee Jun Gi. Pemilik Perusahaan Star Multy Fashion yang ada di 5 negara. Fashion Designer ternama dunia yang membuat khusus baju-baju panggung para artis dunia seperti Lady Gaga, Taylor Swift, AgnezMo hingga Justin Bieber. Itu belum seberapa, Lee Jun Gi meluncurkan produk baru dari mulai pakaian anak-anak, pakaian Laki-laki seperti kemeja dan Pakaian wanita. Dari mulai pakaian anak-anak ABG, dewasa sampai ibu hamil. 

Brand pakaian itu berlabel SmF, Brand yang telah mendunia dan outletnya menyebar di penjuru asia. Iklan Brand SmF untuk pakaian laki-laki, ditawarkan pada calon suamiku. Rendi Gunadi Khan. Tapi Rendi menolak mentah-mentah tawaran itu meskipun bayarannya lumayan.

Rendi tak mungkin mau bekerja sama dengan Lee Jun Gi, musuh bebuyutan Rendi adalah Lee Jun Gi. Meskipun setelah aku dan Rendi menikah nanti dan Lee Jun Gi menjadi kakak iparnya, akan ada kemungkinan Rendi tak akan menganggapnya. Rendi tahu benar rasa sakit yang aku rasakan saat itu dan dia tahu bagaimana usaha kerasku untuk move on dari Lee Jun Gi. Aku menerima pinangan Rendi tanpa berpacaran, kami melakukan Ta”aruf. Selama di Malaysia, aku jarang bertemu Rendi karena kesibukannya sebagai dokter dan artis. Ia harus bolak-balik Malaysia dan Indonesia. Kadang ia juga harus bolak-balik Malaysia-Australia untuk menjenguk Paman dan Tantenya yang juga orangtua dari Amanda. 

Dalam 1 bulan, aku hanya bisa bertemu dengan Rendi 1 kali. Karena itulah kita tak pernah berpacaran. Setelah Lee Jun Gi menyakitiku, aku tak pernah jatuh cinta pada pria lain termasuk pada Rendi. Rendi mengungkapkan keinginannya untuk meminangku setelah gelar profesornya ia raih dengan nilai cumlaude. 



Aku menyetujui pinangannya karena satu hal, Rendi pria yang baik dan ia menjalankan perintah Allah dengan shalat 5 waktu, mengaji, puasa, Umrah dan Berhaji. Aku yakin cinta pasti mengikuti jika kita sudah hidup bersama. Itu keyakinanku saat itu, saat aku belum bertemu Lee Jun Gi malaikat tanpa sayapku.

Tapi sekarang keadaannya berubah. Aku bertemu lagi dengan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Aku bertemu dengan malaikat tanpa sayapku. Dan kita sudah bisa berkomunikasi lagi dengan baik.
Tanggal yang di setujui oleh Lee Jun Gi untuk berlibur bersama ibunya adalah tanggal 28 Desember 2016. Tiga hari setelah perayaan natal. Lee Ji Hoon dan anggota B*STAR lainnya juga ikut berlibur bersama kita.
Aku menagambil cuti tahunanku 2 hari dari 12 hari. Hari rabu tanggal 28 desember 2016 aku masih bekerja. Pikirku aku akan pulang dulu ke Appartement untuk membereskan semua barang-barangku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan kerjaku. 

“tok..tok..tok”

“iya masuk, Lho Jun Gi?”

“Lightly, ayo kita pergi ke Lembang.”

“Lho aku kan janjian sama Ji Hoon”

“Ji Hoon  pergi sama B*STAR dan Omma”

“aku kok gak di ajak?”

“kamu ikut sama aku, kita pergi pake motor”

“tapi aku harus ke Appartement dulu. Ada mobilku kok, pakai mobil aja, aku gak biasa pake motor”

“pake motor aja. Aku tunggu di luar ya.”

Antara bingung dan senang. Akhirnya setelah 3 tahun tak bertemu dan tak pernah pergi bersama, Lee Jun Gi, malaikat tanpa sayapku menjemputku. Ah tapi aku tak mau GR dulu. Aku tak mau berharap dan di beri harapan palsu lagi oleh Lee Jun Gi.

Aku kira, Lee Jun Gi hanya bercanda tapi ternyata Lee Jun Gi benar-benar membawa motor ke Rumah Sakit. Motor balap merk Honda RC213V. 


“Jun Gi, aku bawa mobil. Pakai mobilku aja ya?”

Ucapku membujuk Jun Gi untuk memakai mobil saja ke Lembang. Karena jujur aku tak biasa memakai motor apalagi perjalanan jauh.
Terlebih aku akan pergi dengan Lee Jun Gi yangbukan muhrimku. Dengan Rendi saja aku belum pernah bepergian menggunakan motor. 

“Ke Appartement kamu dulu kan? Aku ngikutin dari belakang”
Ucapnya.

Akhirnya aku menyetujuinya, Lee Jun Gi akan mengunjungi Appartementku untuk pertama kalinya. Ketika sampai di Appartement, aku meminta Lee Jun Gi untuk menungguku di Lobby. Aku takut terjadi Fitnah jika Lee Jun Gi ikut masuk ke Appartemenku. Entahlah, aku tak bisa menolak ajakannya untuk pergi ke Lembang menggunakan motor, rasanya jantung ini berdegup dengan kencang. Lee Jun Gi, dia Oppa dan dia malaikat tanpa sayapku. Sekarang dia sedang menungguku di Lobby Appartement.
Aku turun ke bawah, aku menemui Lee Jun Gi dan masih membujuknya untuk menggunakan mobilku.

“Jun Gi, pakai mobil aja.”

“gak perlu, kita pergi pakai motor aja.” 

Dia melemparkan helmnya untuk aku pakai. Sekali lagi aku tak bisa menolak ajakannya. Akhirnya aku dan Lee Jun Gi pergi menggunakan motor. Di parkiran, aku mencoba naik motor tanpa memegang pada Lee Jun Gi, umumnya orang yangdi bonceng berpegangan pada pinggang sopir yang menjalankan motornya. Tapi aku tak melakukannya. Tanganku tak berani menyentuh bagian tubuh Lee Jun Gi.

“Lightly, kamu harus pegangan nanti kamu jatuh”

“aku gak bisa pegang kamu, kamu bukan muhrimku”
 
“Lightly, ini untuk keselamatan”

Lee Jun Gi memegang tanganku dan melingkarkannya ke bagian pinggangnya. Aku memegang bagian tubuh Lee Jun Gi. ah.. ini mengingatkanku pada 3 tahun yang lalu. Setiap kita pergi jalan-jalan ke Mall atau hanya untuk sekedar makan di Restoran, Lee Jun Gi selalu memegang tanganku. Menggenggamnya dengan erat hingga aku tak bisa melepaskannya. Aku hanya bisa melepaskannya jika aku memintanya, itu pun jika aku ingin ke toilet. Jika bukan ke toilet, Lee Jun Gi tak akan melepaskan genggamannya. Begitupun jika kita sedang menonton film di bioskop. Matanya melihat ke layar lebar itu tapi tangannya tetap menggenggamku. Jun Gi seolah ingin berkata “jangan jauh-jauh dariku”.
Tapi kali ini aku tak akan tertipu lagi, aku tak mau salah paham lagi. Aku melepaskan tanganku yangmelingkar di sekitar pinggangnya dan Lee Jun Gi masih melaju kencang dengan motornya. Hingga kita menghabiskan waktu satu jam perjalanan dan kita sampai di Villa milik Lee Jun Gi. aku di sambut sapaan ceria dari 2 anggota B*STAR Se Jeong dan Daniel juga penterjemah bahasa yang mereka sewa, mereka sedang berjalan-jalan di sekitar area halaman Villa.  
“hai Lightly”
Ucap Daniel

“hai Daniel, Se Jeong. Mana Lee Ji Hoon?”

“ Ji Hoon ada di belakang. Sedang memerah susu sapi”

Ucap Se Jeong dengan bahasa korea yangdi translate oleh penterjemahnya.
Aku menuju tempat memerah susu sapi yangdi miliki oleh pabrik susu pasteurisasi di Lembang, dulu aku juga sempat memerah susu sapi di sini. Tapi itu dulu, sebelum Amanda datang dalam kehidupan Lee Jun Gi. 

Villa ini mengingatkanku pada semua kenangan yang aku punya bersama Lee Jun Gi, meskipun waktu itu aku hanya menghabiskan waktu 2 malam 3 hari, tapi itu sangat berkesan untukku. Kolam berenang, tempat aku dulu dan Jun Gi berenang tanpa membahas Amanda. Aku bermain dengan kuda peliharaan Lee Jun Gi yangbernama Jigly. Lalu aku memerah susu sapi bersama Jun Gi. Itu dulu, dulu sekali. Tanpa terasa air mataku berjatuhan. Terus berjatuhan karena sakit  yang aku simpan dalam-dalam akhirnya muncul lagi. Setelah lelah berkeliling dan lelah mengenang masa lalu, aku memasuki kamarku. Kamar yangdulu pernah aku huni saat Jun Gi belum jatuh ke pelukan Amanda.
Rendi Gunadi Khan, calon suamiku. Membuktikan perkataannya tentang telepon sehari 3 kali. Macam obat anti biotic yangharus aku makan sampai habis, telepon Rendi pun harus aku angkat tanpa peduli aku sedang sibuk atau tidak. Aku menyembunyikan air mataku dan tidak memberitahu Rendi tentang keberadaanku di Villa bersama B*STAR dan Lee Jun Gi. 

“Hallo Assallamu’alaikum Lightly”
Ucapnya.

“ Walaikum salam Ren, apa kabar?”
 
“aku baik Lightly, kamu sehat? Lagi dimana?”

“aku sehat, aku lagi nemenin Tante Jae Ha jalan-jalan”
 
“sama Lee Jun Gi?”

“enggak, berdua aja”

“oh ya syukurlah. Aku sedang mengurus perpindahan praktekku dari Malaysia ke Indonesia, bagaimana menurutmu?”

“oh, baguslah. Kita jadi bisa sering ketemu untuk diskusi tentang pernikahan. Ren, aku pergi dulu ya nanti aku telepon lagi”

Aku menutup telepon dari Rendi. aku beralasan jika aku sedang pergi keluar dengan Tante Jae Ha. Padahal aku belum bertemu dengan Tante Jae Ha sejak aku datang ke Vila ini.
Jam menunjukkan pukul 17.45 dan adzan magrib berkumandang. Aku bersiap untuk shalat magrib. Aku melakukan ibadahku dan berdo’a dalam luapan emosi dan cucuran air mata. Air mata yangtak bisa lagi aku bendung karena sakitnya hati tak bisa aku sembunyikan lagi. 

“Ya Allah ya Tuhanku yangMaha dari segala Maha. Aku memohon padamu Ya Allah, jika Lee Jun Gi itu bukan jodohku jauhkanlah aku darinya Ya Allah. Jika Lee Jun Gi bukan jodohku, hentikanlah debaran di hatiku jika aku bertemu dengannya. Aku Mohon Ya Allah, dengar do’a ku. Amin Ya Rabbal A’lamiin”
 Saat aku melipat-lipat mukena yangtadi aku gunakan untuk shalat. Tiba-tiba ada yangmengetuk pintu kamarku dan memanggil namaku.

“Lightly.. Lightly.. ayo makan”

Suaranya suara Lee Jun Gi, orang yangtadi aku sebut namanya dalam do’a.         Aku membuka pintu kamarku. Dan benar saja, dia Lee Jun Gi.
“oh..  Jun Gi ada apa?”

“Lightly, kamu nangis? Kamu kenapa?”

“oh gak apa-apa kok, tadi aku baru beres shalat dan berdo’a makanya aku nangis”

“kamu berdo’a apa?”

“berdo’a apa ya? Hehe ada deh”

“hmm.. ayolah turun. Juru masaknya udah dateng dan makanannya udah siap. Kamu harus makan malam ya”

“oh. Baiklah. Sebentar lagi aku turun”

Aku menutup pintu kamarku dan bersiap untuk turun ke bawah. Karena cuaca Lembang hari ini sangat dingin. Aku menggunakan Sweaterku. Sweater yang di belikan Rendi. Sweater berwarna Pink muda dan kerudung warna putih untuk menutupi rambutku.
Saat turun ke bawah, B*STAR sudah menungguku di meja makan begitu juga dengan Tante Jae Ha, mereka menunggu makanan di antarkan oleh juru masak yangdi sewa oleh Lee Jun Gi.
Wangi tumisan bawang merah dan bawang putih ini menusuk indra penciumanku. Dari aromanya saja sudah wangi sekali. Apalagi makanannya. Sambil menunggu makanan itu datang, aku mengobrol dengan Daniel sementara Ji Hoon ngobrol dengan ibunya, Tante Jae Ha. Kim Ryu Wan dan Se Jeong sedang asik dengan gadgetnya. Yangtak aku lihat hanya Lee Jun Gi. entahlah dia ada dimana? Sejak dia turun dari kamarku. Aku tak melihatnya lagi.

“Lily, Ji Hoon sering menceritakan tentangmu”

Ujar Daniel padaku dengan menggunakan bahasa Inggris yang di Translate oleh penterjemah yang mereka sewa.

“oh ya? Ngobrol apa?”

“banyak, salah satunya tentang kamu yang memacari kakak  Ji Hoon”

“oh, Lee Chi Hoon. Iya, aku pernah pacaran sama Chi Hoon. Tapi takdir berkehendak lain. Chi Hoon meninggal karena tabrakan beberapa hari sebelum pernikahan kita. Karena aku juga gak punya siapa-siapa akhirnya ibunya Lee Chi Hoon yang juga ibu dari Ji Hoon mengangkatku sebagai anaknya”
Ucapku, menjelaskan pada Daniel.

“tapi yang aku dengar dari beberapa media, yang kamu pacari itu bukan Lee Chi Hoon tapi Lee Jun Gi. Fashion Designer kita”

“ah.. masa sih? Aku gak pernah pacaran sama Lee Jun Gi”

Semua tiba-tiba menjadi hening. Entah siapa yang menyebarkan gossip tentang aku dan Lee Jun Gi berpacaran. Karena aku tak pernah berpacaran dengan Lee Jun Gi. meskipun aku sangat menyukainya. Bahkan sangat mencintainya. Aku tak mungkin bisa menjadi Amanda, wanita yangdi cintai Lee Jun Gi.

“Lightly, gak pernah pacaran sama Lee Jun Gi, tapi dia naksir berat sama Lee Jun Gi, bener kan Lily?”
Celetuk Lee Ji Hoon. 

“oh.. itu dulu, sekarang aku udah punya Rendi, aku mau nikah sama Rendi bulan maret 2017 nanti. Kalian datang ya”
Ucapku.

 “tapi, sampai saat ini kamu masih punya rasa padanya kan?” 
Ujar Se Jeong, pertanyaannya sungguh membuat aku mengingat lagi masa-masa indahku dengan Lee Jun Gi dulu.

“iya dulu sih, 3 tahun yang lalu. Aku pernah menyukainya. Bahkan sangat menyukainya. Aku berharap padanya. Harapan ingin menjadi kekasihnya. Aku biasa memanggilnya Oppa..Oppa. Dia malaikat tanpa sayapku. Dia baik banget. Semua yang aku mau dia pasti kabulkan. Dia menjadi wali resmiku, menggantikan Lee Chi Hoon, adiknya sekaligus calon suamiku. Oppa, memberikan semua yang dia punya. Termasuk perhatian dan rasa sayangnya sama aku. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Kemana-mana, aku selalu sama dia. Jalan-jalan, nonton ke bioskop, makan di café. Oppa tahu tanggal aku datang bulan, Oppa juga tahu merk pembalut yang sering aku gunakan. Aku sangat suka Steak saus jamur, tapi aku payah dalam memotong steak dan sebelum aku makan steak, Oppa pasti motong-motong dulu steak yang mau aku makan. Dan kemanapun kita pergi dia selalu memegang erat tanganku. Semua yang dia lakukan membuat aku yakin, bahwa dia juga mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Nyatanya, Duniaku berhenti saat aku tahu ternyata Oppa mencintai perempuan lain yang bukan aku. Hatiku hancur berkeping-keping. Saking hancurnya aku sampai mengidap Psikosomatis. Aku pasti sesak nafas jika mengingat kejadian itu. Dalam hal ini, aku yang salah. Semua salahku. Aku gak berkaca, siapa aku? Sampai aku berani jatuh cinta sama dia. Iya siapa aku? Aku gak secantik Amanda, aku juga gak sepintar Amanda. Tapi aku punya tulus di dalam cinta yang mati-matian aku pendam. Amanda seorang dokter, dia juga pintar memasak. Dia tahu makanan kesukaan Oppa dan dia juga tahu club bola favoritnya Oppa, Barcelona. Hal yang selama ini aku gak tahu tentang Lee Jun Gi, Amanda tahu semuanya.”

Aku kembali menangis sesegukkan dan Lee Ji Hoon menghampiriku, ia membawakan aku tissue untuk menghapus air mataku. Lalu Se Jeong, ia mengambilkanku air minum. Tante Jae Ha mengusap punggungku. 

“Lightly, ini bukan kesalahanmu”
Ucap Tante Jae Ha padaku

“ini salahku Tante, andai waktu itu aku tahu diri. Gak akan kayak gini jadinya Tante, tapi sudahlah. Bagiku Oppa sudah meninggal. Ia hanya hidup di hatiku bersama dengan kenangan-kenangan indah. Bagiku Lee Jun Gi sekarang bukan Oppa. Itulah kenapa Rendi sangat benci sama Lee Jun Gi. dia tahu bagaimana aku mencintai Lee Jun Gi. Rendi juga tahu gimana susahnya aku move on dari Lee Jun Gi. Tapi satu hal yang Rendi gak tahu. Rendi gak tahu kalau aku sangat menyayangi Lee Jun Gi hingga saat ini. Saat ini aku Cuma bisa menutup mata, menutup mata dan menganggap Lee Jun Gi bukan Oppa. Dia bukan malaikat tanpa sayapku. Dia Lee Jun Gi, si Monster tyrex yang bisa memakanku kapan aja. Aku menyimpan uang yang dia transfer untukku selama aku di Malaysia dan aku juga sudah mengganti biaya perawatanku selama aku koma di rumah sakit. Aku menyimpan uang itu dan akan mengembalikannya nanti setelah aku menerima gajiku bulan depan”

Air mataku deras keluar dari pelupuk mata tak ada yangbisa menghentikannya dan Tante Jae Ha memelukku.

“maafkan anakku Lightly. Dia memang kurang ajar”

“Jun Gi gak salah Tante. Aku yang salah.”

Saat aku masih menangis, Makanan di antarkan ke atas meja. Makanan yang siap di santap oleh aku, Tante Jae Ha dan B*STAR.  Menunya adalah nasi putih, sayur capcay, oseng tempe dengan cabai hijau, ayam goreng, lalaban, sambal terasi dan air teh manis yang di sediakan oleh pelayan di Villa itu.
Aku menghapus air mataku, aku tak mau Lee Jun Gi melihat pipiku yang basah oleh air mata. Para pelayan membagikan piring kepada 4 anggota B*STAR dan Tante Jae Ha. Aku tak di beri piring oleh pelayan.
 
“pak, maaf piring punya Aku mana?”

“maaf neng, makanan punya neng Lightly di masak dan di antarkan langsung oleh tuan Lee”

Hah, makananku di masak dan di antar oleh Lee Jun Gi? tak mungkin. Lee Jun Gi bukan type orang yang mau melayani orang lain, tak lama Lee Jun Gi datang dengan baki yang di atasnya terdapat satu buah hotplate. 

“Lightly ini makananmu, Steak Saus Jamur”

“wow Oppa terimakasih”

Saking senangnya, aku menyebut Lee Jun Gi dengan sebutan Oppa. Semua orang melihat ke arahku. Ya aku tak menyadari bahwa aku memanggilnya dengan sebutan Oppa. Kata yang tak pernah aku sebut selama 3 tahun. Dan aku melihat ke arah Lee Jun Gi. 

Lee Jun Gi bukan type orang yang cengeng. Ia sangat tegar dan tak pernah berputus asa terhadap apapun. Aku akan mudah menebak jika Lee Jun Gi sudah menangis. Seperti malam ini, saat ia mengantar makanan favoritku Steak Saus Jamur, mata sipitnya sembab dan bagian putih matanya berwarna merah. Pipi putih mulusnya berubah warna menjadi agak pink dan dahinya terdapat banyak keringat yang mengucur ke bagian wajahnya.

“Lee Jun Gi, terimakasih sudah mau masakin aku  Steak”

Ucapku sambil memakan Steak Saus Jamur buatan Lee Jun Gi yang sudah ia potong-potong.

“sama-sama Lightly, dulu Amanda memasak untukku. Katanya makanan yang kita masak itu menunjukan rasa cinta kita pada seseorang yang siap memakan hasil masakan kita. Apapun rasanya, akan terasa enak jika kita memasaknya memakai cinta. Itu juga yang di lakukan Amanda padaku selama ia menjadi Istriku, selagi ia sehat, Amanda terus memasak untukku. Alasannya simple dia menunjukan rasa cintanya padaku melalui masakannya. Dan hari ini aku melakukannya untuk kamu Lightly.”

Garpu dan pisau yang sedang aku pegang jatuh seketika ke dalam hot plate yang panas itu. Kata-katanya bermakna dia mencintaiku. Ah tak mungkin, aku pasti salah dengar. Ya aku pasti salah dengar. Jantungku berdebar dengan hebatnya. Rasanya seperti akan copot dari bagian dalam tubuhku. Aku mengingat semua kenanganku dengan Lee Jun Gi dulu. Saat pertama kali aku jatuh cinta padanya di Villa ini, saat aku berharap cintaku berbalas dan saat hatiku pecah karena luka yang Jun Gi berikan padaku, aku mengingat cintaku yang dulu bertepuk sebelah tangan. 

Aku mengingat Amanda, bidadari yang turun dari surga untuk mengambil malaikat tanpa sayapku dari kehidupanku. Aku mengingat semua yang Lee Jun Gi lakukan padaku. Harapan kosong yang Jun Gi berikan membuatku jatuh cinta padanya. Dan aku mengingat saat ia menolak cintaku karena alasan usia yang jauh berbeda lalu satu minggu kemudian, Lee Jun Gi menikahi Amanda. Aku ingat semuanya. 

Sakit, hatiku kembali sakit, pisau berkarat itu menghujam jantungku. Rasa tak nyaman menerpaku. Psikosomatisku kambuh setelah satu tahun lamanya aku tak mengalami hal itu. Aku sesak nafas, sangat sesak. Dadaku menyempit rasanya. 

“Lee Ji Hoon.. Ventolin.. ambilkan aku Ventolin”

Semua panik melihatku “ngap-ngapan” seperti ikan yang lompat ke darat. Nafasku terengah-engah. Terdengar bunyi “Ngik-ngik-ngik” dalam nafasku. Lee Ji Hoon berlari ke kamarku, ia mencari Ventolin. Tante Jae Ha berteriak 

“Ji Hoon cepat ambil obatnya” 

dan Lee Jun Gi, ia memegang tanganku, ia duduk di sebelahku. 

“Lightly, kamu kenapa?”
ucap Lee Jun Gi.

ini pertama kalinya sesak nafasku kambuh di hadapan Lee Jun Gi setelah dua tahun aku menyembunyikannya.
Ji Hoon datang dengan berelari-lari dari lantai 1 ke Lantai dasar.  Ji Hoon tak menemukan Ventolin yang setiap hari aku bawa meskipun Psikosomatisku sudah tak kambuh sejak satu tahun yang lalu. Ji Hoon menyarankan agar aku di bawa ke rumah sakit terdekat di Lembang. 

“Lily, kamu harus ke rumah sakit, Kakak bawa Lily ke Rumah Sakit”
Pinta Ji Hoon pada Lee Jun Gi.

“Lightly, ikut Oppa ke rumah sakit ya”

Aku menolak, aku tak mau di bawa ke rumah sakit. Ini bukan sakit fisik. Ini sakit hati yang menjalar pada Fisik. Aku meminta Lee Jun Gi pergi, tapi dia tak mau dengar. 

“Lee Jun Gi, pergi dari sini”
Aku memohon agar dia pergi.

“Lightly, aku gak bisa ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini. ayo ikut Oppa ke rumah sakit”

Dia terus membujuku agar aku ikut dengannya. Aku sudah memintanya pergi berulang kali tapi Jun Gi tak mau mendengarkan permintaanku.
“Lee Jun Gi, aku mohon pergi. Jangan muncul lagi di hadapanku”
Aku berteriak pada Lee Jun Gi, emosiku meluap. Amarah yang aku tahan bertahun-tahun akhirnya muncul ke permukaan, Aku tak mengingat lagi kisah nabi Muhammad S.A.W tentang cerita kesabarannya .

“Ji Hoon antarkan aku pulang ke Appartement sekarang”
 
“Lily, ini udah malem. Banyak begal di jalan Raya.”
Ucap Ji Hoon. 

Tante Jae Ha menyuruhku untuk duduk di kursi sofa di ruang tamu. Aku duduk di sana. Badanku, aku baringkan di sofa itu. Tante Jae Ha memijit-mijit kakiku. Ia menangis, air matanya keluar sembari memijit kakiku. Lee Jun Gi, ia membawakan aku air minum. Tapi aku tak menyambutnya, air minum itu aku tolak. 

“Lightly, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Tanya Lee Jun Gi padaku. aku tak menjawabnya. Aku hanya diam seribu bahasa. Aku marah, sangat marah pada Lee Jun Gi.

“Psikosomatis Lily kambuh Kak, jika dia sesak nafas berarti dia sedang kecewa, marah dan merasa tidak nyaman dengan kehadiran kamu di sini”
Ji Hoon menjelaskan penyakit pikiranku. 

Aku bangun dan berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarku di lantai satu. Lee Jun Gi mengikutiku. Aku membanting pintu tepat di hadapannya. Lee Jun Gi kemudian membuka pintu itu. Aku duduk di kursi sofa yang ada di kamarku. Dan Lee Jun Gi berlutut di depanku. 

“Lightly, aku minta maaf. Aku gak tahu kalau kamu sakit hati karena pernikahanku dengan Amanda. Aku gak tahu kalau kepergianmu ke Malaysia karena aku. Berulang kali aku bertanya sama kamu waktu itu, apakah kamu baik-baik saja? tapi Kamu gak pernah jawab pertanyaan itu. Lightly, bunuh aku jika kamu mau. Aku gak tahu kamu sesakit ini”

“benarkah kamu gak tahu? Kamu ingat, satu minggu sebelum kamu menikahi Amanda, aku menyatakan cintaku sama kamu. Hari itu malam-malam bahkan larut malam, aku menunggu kamu yang sedang berkencan dengan Amanda. Kamu bilang aku masih anak kecil. Kamu gak mungkin menerima cintaku karena aku masih kecil. Tapi satu hal yang kamu gak tahu, aku punya tulus dalam cinta yang aku pendam bertahun-tahun.”

Aku menceritakan perasaanku yang sebenarnya pada Lee Jun Gi dengan nada rendah dan perasaan yang sakit lagi. Aku menangis sejadi-jadinya, menangis di depan orang yang menyakitiku. 

“Lightly maafkan aku. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membalas sakit yang aku buat untuk kamu. Aku akan melakukannya”

“aku Cuma mau tanya satu hal, sebelum Amanda datang dalam hidupmu, apa arti aku untuk kamu?”

“Lightly, kamu sangat berarti buat aku. Sangat Lightly”

“bohong, kamu bohong. Bagi kamu, aku hanya seorang anak kecil bukan? Bocah. Anak ingusan yang jatuh cinta pada pria dewasa seperti kamu. Kamu bohong, jika aku sangat berarti buat kamu, Amanda gak akan begitu mudahnya masuk dalam kehidupanmu. Kamu memberiku harapan palsu. Kamu buat aku jatuh cinta. Lalu setelah kamu tahu aku memiliki rasa, kamu pergi dengan perempuan lain. Mencampakkanku. Kamu memperlakukanku seperti seorang kekasih. Kamu kabulkan semua yang aku inginkan, kamu genggam tanganku setiap kita pergi, kamu tahu tanggal haidku dan merk pembalut yang biasa aku pakai. Kamu datang tepat waktu saat aku benar-benar membutuhkanmu. Lalu tiba-tiba kamu bilang, kamu mencintai Amanda! Saat itu hatiku hancur. Kamu bawa perempuan lain ke rumah tanpa menjelaskan perlakuan apa yang kamu lakukan padaku. Sebelum Amanda datang dalam hidupmu, aku seperti ratu yang ada di hatimu. Aku satu-satunya perempuan yang kamu perlakukan special. Tapi Amanda datang tanpa permisi, dia merebut kamu dariku. Kamu memperlakukannya seperti kamu memperlakukanku dulu. Kamu kabulkan semua keinginannya, kamu ajak dia jalan-jalan, nonton, makan, belanja. Semuanya. Dan kamu membuangku. Aku pergi ke Malaysia karna aku gak tahan harus hidup serumah sama kalian. Aku akan mentransfer uang sejumlah 4,2 milyar rupiah ke rekeningmu. Uang itu adalah uang yang kamu transfer selama aku ada di Malaysia. Aku juga mengganti uang perawatanku selama aku koma di Rumah Sakit. Sekarang aku gak punya hutang apa-apa lagi sama kamu”

Lee Jun Gi menangis, baru kali ini aku melihatnya menangis secara LIVE. Saat Lee Chi Hoon meninggal, dia tak mengeluarkan air mata setetespun. Lalu saat ayahnya meningal, Jun Gi hanya sesekali menangis. Dan sekarang saat aku menyebut satu persatu kesalahannya, ia terisak. Menangis, air matanya membanjiri pipinya. 

Ia menghapus air matanya perlahan-lahan dengan kedua tangannya. Lee Jun Gi terus menerus meminta maaf padaku. Aku memaafkannya. Tapi berat bagiku untuk menerimanya kembali dalam hidupku, walaupun statusnya hanya sebagai Kakak angkat.

Aku meminta di antar pulang pada Lee Ji Hoon saat itu juga. Tante Jae Ha kemudian berteriak pada Lee Jun Gi.

“Jun Gi, Lightly mau pergi. Cepat susul dia”

Aku mendengar suara hentakan kaki dari lantai atas. Lee Jun Gi menyusulku ke luar, tepatnya ke halaman depan Villa. 

“Lightly tunggu”
Ucap Jun Gi. 

Aku berhenti sejenak. 

“ada apa lagi”
Ujarku ketus.


“aku gak bermaksud nyakitin kamu. Aku gak tahu kalau kamu benar-benar cinta sama aku. Lightly, aku sayang sama kamu”

“sayang? Kamu sayang sama aku? Sayang seperti apa? sayang yang bagaimana? Aku sudah di lamar Rendi dan tiga bulan lagi kami menikah. lalu dengan mudahnya kamu bilang kamu sayang sama aku? Ya kamu pasti sayang sama aku, aku adikmu. Aku calon istri dari adik kandungmu yang meninggal. Aku calon Istri Lee Chi Hoon. Aku adik iparmu. Mana mungkin kamu gak sayang sama aku!”




“Lightly, aku sayang sama kamu sebagai seorang wanita. Aku cinta sama kamu. Maaf karena aku baru menyadarinya. Aku minta maaf karena aku lebih memilih Amanda waktu itu.”

Lee Jun Gi, si monster tyrex ini mengucurkan air mata saat ia menyatakan cintanya padaku. Lee Jun Gi mencintaiku. Akhirnya cintaku bersambut. Malaikat tanpa sayapku akhirnya mengambil cintaku yang aku pendam dalam-dalam. Tapi itu sungguh tak berguna. Rasa sayangnya tak akan mempengaruhi rencana pernikahanku dengan Rendi. 

“kamu cinta aku?”

“iya Lightly, aku mencintaimu. Aku gak pernah ngasih kamu harapan palsu. Saat itu aku memang menganggapmu special. Kamu cinta pertamaku Lightly. Aku sudah menyukaimu sejak usiaku 17 tahun. Waktu itu usiamu masih 7 atau 8 tahun. Kamu cantik sekali. Lucu. Imut-imut. Tapi kamu lebih memilih bermain dengan Lee Chi Hoon, adikku. Cintaku berkembang seiring dengan pertumbuhan kamu dari anak kecil yang lucu imut, menjadi gadis cantik. Tapi sekali lagi kamu lebih memilih Lee Chi Hoon.” 

Benarkah, Lee Jun Gi mencintaiku saat aku masih berusia 7 tahun? Sebetulnya apa maunya? Dia menyatakan cintanya yang ia pendam sejak SMA kelas 3 padaku. Dia menyatakan cintanya padaku yang 3 bulan lagi dinikahi laki-laki lain.

“apa kamu bilang? Kamu menyukaiku sejak aku berusia 7tahun? Pembohong. Aku lebih memilih bermain dengan Chi Hoon karena usianya tak terlampau jauh denganku. Perbedaan usia kita hanya 2 tahun. Saat usiaku 7 tahun, usia Lee Chi Hoon 9 tahun. Jangan mengada-ada Lee Jun Gi. Kalaupun benar, cintamu itu ada untukku. Itu gak akan berpengaruh padaku. Aku akan menikah dengan Rendi Gunadi Khan, sepupu mendiang istrimu.”

“Lightly, saksinya adalah ibumu, dia tahu bagaimana aku naksir sama kamu yang masih kecil waktu itu. Tak terasa bukan, waktu yang membuktikan jika kamu tak berjodoh dengan adikku. Tiba-tiba dia meninggal dan kesempatan aku mendapatkanmu terbuka lebar. Jika kamu merasa kamu adalah satu-satunya di hatiku 3 tahun yang lalu, itu benar Lightly. Jika kamu merasa kamu sangat special untukku, itu benar Lightly. Dan jika kamu merasa aku sayang sama kamu waktu itu, itu benar Lightly. Aku menyayangimu. Aku memanfaatkan kematian adikku untuk mendapatkanmu. Tapi di tengah jalan, Amanda datang. Dia menemaniku saat kamu koma. Dia juga mencintaiku Lightly. aku tergoda oleh Amanda. Jujur, memang kecantikan Amanda yang memikatku pertama kali. Aku melupakanmu saat aku mengenal Amanda dan itu salahku. Itu salahku Lightly. Maaf jika waktu itu aku gak milih kamu, aku gak tahu kamu cinta sama aku. Aku juga gak tahu kalau kamu sakit hati saat aku menikahi Amanda. Bukankah waktu itu aku bertanya sama kamu berulang kali. Apa kamu marah sama aku? Kamu jawab enggak. Dan aku percaya itu Lightly. aku percaya bahwa kamu baik-baik saja. Perhatikan dengan seksama wajahku. Aku mirip dengan mendiang kekasihmu bukan? Aku mirip Lee Chi Hoon kan? Aku mengira kamu jatuh cinta sama aku karena hal itu.” 

Ah.. aku menangis sejadi-jadinya. Aku sudah tak mau lagi melihat Lee Jun Gi lagi. Ya Allah tolong aku. Keluarkan aku dari situasi ini.

“ Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus melihat kalian bermesraan di hadapanku setiap hari? Waktu itu aku gak punya pilihan lain selain menjawab ‘tidak apa-apa’. Aku gak punya pilihan lain selain berkata ‘aku baik-baik saja’, pilihanku saat itu hanya satu. Pergi ke Malaysia bersama Rendi. Lee Jun Gi, pergilah. Pergi dari hidupku. Aku akan menikah dengan Rendi. 3 bulan lagi aku akan menjadi istrinya. Percuma jika kamu masih menyatakan perasaanmu. Aku gak bisa menerima Amanda sebagai kakak iparku. Aku juga gak bisa menerima kamu mencintai Amanda waktu itu. Tapi aku harap, kamu bisa menerima Rendi sebagai keluarga karena aku gak punya keluarga lagi selain kalian.”

Aku pergi dengan air mata yang bercucuran. Aku keluar dari halaman Villa itu, aku menaiki ojek pangkalan untuk sampai ke jalan raya dan bisa menaiki taxi disana. Aku pulang menuju Appartementku yang berada di jalan Setiabudhi Bandung. Aku meninggalkan barang-barang milikku. Termasuk handphone yang tertinggal di kamar villa. Biarlah, paling hanya Rendi yang akan mengomeliku.
Rasa sakit itu akhirnya muncul lagi. Aku mengenang perjalanan cintaku bersama Lee Chi Hoon. Pria yang aku cintai sejak aku duduk di bangku SMP dan cinta itu bersambut, aku menjadi kekasih Lee Chi Hoon saat duduk di kelas 2 SMA. Sampai akhirnya dia melamarku di hadapan orang tuanya. 

Bahagia sekali rasanya. Tapi kebahagiaan itu berakhir dengan duka. Lee Chi Hoon meninggalkanku untuk selamanya. Dia terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil truck yang menabraknya tiba-tiba dari arah yang berseberangan.
Hidupku menjadi runyam, hampa dan tak tahu arah ketika Lee Chi Hoon pergi. Kehadiran Lee Jun Gi di dalam hidupku memang menjadi rasa yang tak bisa aku lupakan. Lee Jun Gi mantan kakak iparku, ia menjagaku, merawatku dan ia bisa menjadi Malaikat tanpa sayapku. Aku mencintai Lee Jun Gi, sejak aku pertama kali bangun dari koma. Aku mendengar dari beberapa suster yang merawatku, bahwa Lee Jun Gi menemaniku setiap saat. Ia menungguku setiap pagi, siang dan malam. Kantornya, tiba-tiba pindah ke ruang VIP tempat aku di rawat. Dan saat itu pula Lee Jun Gi jatuh cinta pada Amanda. Amanda si bidadari yang turun dari surga. Aku patah hati di saat yang bersamaan. Aku patah hati dan jatuh cinta pada Lee Jun Gi, di saat bersamaan. 

Lee Jun Gi kemudian menikahi Amanda, selang satu minggu setelah aku menyatakan cintaku padanya. Lalu Lee Jun Gi membawa Amanda pulang. Hancur, hanya kata itu yang bisa mengungkapkan perasaanku saat aku tahu Lee Jun Gi menikahi Amanda dan membawanya pulang ke Rumah.
Aku kemudian memutuskan untuk ikut dengan Rendi, laki-laki yang pernah bertemu denganku di dunia NoName dan Rendi juga menyakitiku tapi rasanya tak sesakit ini. Keputusanku saat itu tak bisa di ganggu gugat. Aku mengikuti program S2 di Malaysia Medical Univercity. 2 tahun tinggal di sana, aku tak pernah melihat Lee Jun Gi mengunjungiku. Hanya Lee Ji Hoon, adik angkatku yang biasa mengunjungiku. Aku dilamar Rendi Gunadi Khan, laki-laki yang belakangan menaruh rasa cinta padaku. Aku menerima lamarannya karena mempertimbangkan beberapa hal. Salah satunya, Agama Rendi, ia beragama muslim dan menjalankan perintah-perintah Allah. Aku tak pernah ragu untuk menerima lamarannya meskipun aku jarang bertemu dengannya.
Lalu aku pulang ke Indonesia setelah 2 tahun mengenyam Ilmu di sana. Aku memutuskan untuk mengikuti program S3 di Universitas Padjajaran dan program itu di buka bulan Juni 2017. 

Aku mendaftarkan diriku dulu di program S3 itu di bulan November 2016. Lalu tiba-tiba aku bertemu Lee Jun Gi. Awalnya dia marah-marah karena aku tak menghadiri pemakaman Amanda, istrinya.
 Tapi setelah Rendi membuka alasanku pergi ke Malaysia, karena Jun Gi. Tiba-tiba di menjadi laki-laki baik. Dia berubah menjadi malaikat tanpa sayapku. Dan tiba-tiba dia menyatakan cintanya padaku. Dia menyatakan cinta pada calon istri orang lain. Dia menyatakan cintanya saat pernikahanku hanya tinggal hitungan hari. Lalu apa yang harus aku lakukan? Malaikat tanpa sayapku menyatakan cintanya pada upik abu macam diriku.

Sudah lima hari sejak aku berdebat dengan Lee Jun Gi tentang perasaan cinta yang tiba-tiba muncul di hatinya untukku. Aku tak pernah menghubunginya sejak saat itu, terlebih, karena handphoneku tertinggal di villa waktu itu dan sampai sekarang Lee Jun Gi belum mengembalikannya padaku. aku lalui hari-hariku setelah Lee Jun Gi menyatakan cintanya padaku dengan haru biru, tak jarang aku menangis tiba-tiba. Aku menjalankan praktek seperti biasa di Rumah Sakit Ahmad Dahlan. Hari itu itu ada seorang ibu muda yang sedang konsultasi denganku mengenai  anaknya berusia 3 tahun yang hyperaktif.
 Ada yang mengetuk pintu ruangan Praktekku, Aku permisi kepada pasienku untuk membuka pintu. Dan setelah aku membuka pintu, ternyata Rena yang datang untuk menemuiku.

“Rena, tunggu ya. Aku lagi ada pasien”

“oh. Ok aku tunggu di luar”
Ucap Rena.

Tak biasanya Rena datang mengunjungiku di Rumah Sakit. Dia juga tak memberi kabar tentang kedatangannya mengunjungiku. Pasien ibu muda yang bernama Lisa, aku persilahkan pulang karena aku sudah memberikan solusi untuk anaknya yang  hyperaktif

“Rena, ayo masuk”

Aku menyuruh Rena masuk ke dalam Ruangan. 

“Rena, tumben-tumbenan datang ke Rumah Sakit”

“iya nih, aku mau ngembaliin ini”

Rena mengeluarkan handphoneku yang tiba-tiba ada di tangannya. 

“kok handphoneku bisa ada di tangan kamu Ren?”

“iya, 3 hari yang lalu Lee Jun Gi mampir ke Klinik, dia nitipin ini sama aku, dia juga ketemu sama Vic. Kita banyak ngobrol sih pas ketemuan kemaren.”

Aku mengambil handphoneku, aku cek semua panggilan yang masuk, sms, whatsapp dan Instagram.

“Lho, tumben banget kamu mau ngobrol sama dia? Kamu kan kekih banget sama dia”

“iya sih, dulu aku kekih banget sama Lee Jun Gi, tapi sekarang aku kasian sama dia”

“kasian? Kenapa? Dia udah gede, udah mapan. Dia tinggal cari pengganti Amanda, beres kan”

“kalau kamu yang jadi pengganti Amanda, Gimana?”

“eh, gak mungkinlah.. aku udah di lamar sama Rendi. Gak mungkin aku mau di lamar orang lain”

“Rendi belum mengucapkan ijab Kabul dan kamu masih sayang kan sama Lee Jun Gi?”

Pernyataan Rena membuat aku menghentikan aktivitasku yang sedang mengisi status pasien Lisa. 

“Ren, kalaupun aku masih punya rasa sama Lee Jun Gi, itu gak akan menghentikan aku untuk menikah dengan Rendi. Dia bilang apa aja sama kamu?”

“Ly, jujur ya. Dulu waktu aku ngeliat kamu nangis-nangis sama Lee Jun Gi, aku tuh benci banget sama dia. Tapi kemarin waktu dia ketemu sama aku di Klinik. Dia tuh berubah banget Ly, dia wise banget. Beda sama Lee Jun Gi yang aku lihat pas ayahnya meninggal. Ly, aku tahu kamu masih nyimpen rasa sama dia kan? Kasian lho Ly, dia kehilangan istrinya dan dia juga kehilangan kamu”

“terus?”

Aku hanya menjawabnya singkat. 
                                                                      
“Ly, kamu boleh bohongin semua orang tentang perasaan kamu sama dia. Tapi kamu ga bisa bohongin diri kamu sendiri. Pake logika deh, kamu cinta sama Lee Jun Gi, tapi kamu menikah dengan Rendi. kalau Lee Jun Gi nya gak merasa Cinta sama kamu sih gak apa-apa. Tapi dia udah punya rasa sama kamu sekarang. Apa kamu gak pengen cinta kamu berbalas?”

“Ren, aku gak bisa nerima Lee Jun Gi. sekalipun dia cinta sama aku. Aku gak bisa nerima dia mencintaiku sekarang. Aku senang, cintaku berbalas sekarang. Tapi apa gunanya? Aku akan menikah dengan Rendi 3 bulan lagi. Pernikahanku udah di depan mata.”

“Lightly, tapi gimana sama perasaan kamu? Kamu gak bisa terus-terusan bohong sama diri kamu sendiri. Lama kelamaan Rendi pasti tahu isi hati kamu”
“Rena. Sejak kapan Lee Jun Gi perduli sama perasaanku? Sejak Amanda meninggal? Aku gak pernah minta dia ngebales cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan kan? Terus kenapa kemarin dia ribut nyatain cintanya sama aku? Waktu dia kenal Amanda, pernah gak dia inget sama aku?” 

“Lightly, Aku tahu itu. Coba sekarang jujur deh sama aku. Pernah gak kamu ngerasa Lee Jun Gi gak akan tergantikan sama yang lain? Pernah gak kamu ngerasa kangen banget sama dia?”

Tiba-tiba suasana jadi hening. Aku diam, semua pertanyaan Rena, aku merasakannya. Merasakan Rindu yang tak pernah ada ujungnya. Dan Rendi tak pernah bisa menggantikan Lee Jun Gi.

“Ren, aku harus gimana? Liat cincin ini. Rendi sudah melamarku. Pernikahan kita akan di gelar 3 bulan lagi Rena.. Terus tiba-tiba Lee Jun Gi datang. Dia datang di saat yang gak tepat. Dia bilang, Dia cinta sama aku. Dia sayang sama aku. Terus aku harus gimana? Waktu aku mau mempertaruhkan segala yang aku punya demi dia, Dia pergi sama Amanda.”

“Lightly, kalau aku jadi kamu. Aku akan terima Lee Jun Gi apapun resikonya.”

“ Aku gak mungkin bisa berbuat seperti itu. Kalau Lee Jun Gi benar-benar cinta sama aku, dia akan buktikan semuanya Ren. Lagipula Lee Jun Gi beragama Budha. Dia gak akan bisa bawa aku ke Jenjang pernikahan. Dan kenapa aku memilih Rendi? Rendi seorang muslim yang taat. Dia menjalankan shalat 5 waktunya. Ia juga mengerjakan puasa ramadhan beserta sunnah-sunnahnya. Aku gak cinta sama Rendi, tapi ia satu aqidah denganku. Cinta bisa menyusul kemudian Rena. Aku yakin, Rendi akan membawaku ke JannahNYA. Kita akan beribadah sama-sama dengan cara membina rumah tangga dan menuju surga yangdi Ridhoi Allah. Aku muslimmah, agamaku Islam. Aku dilarang keras menikahi pria non muslim”

“Aku tahu, tapi Lee Jun Gi cinta sama kamu sekarang yang penting itu dulu Lightly. Dia cinta sama kamu. Kalau aku jadi kamu aku pasti terima Lee Jun Gi apa adanya”

“dalam surah Al-Baqarah ayat 221. Di sana Allah menerangkan ‘ Dan Janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Mereka mengajak ke neraka sedangkan ALLAH mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-NYA. (ALLAH) menerangkan ayat-ayatNYA kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran’. Kurang lebih begitu dalil qur’annya. Itulah alasan aku gak berani menjawab cinta Lee Jun Gi. Aku takut berhadapan dengan Allah jika aku berta’aruf atau menikah dengannya. Lagipula dulu Lee Jun Gi pernah menolakku karena kehadiran Amanda dan Rendi pasti membunuh Lee Jun Gi jika dia tahu, Jun Gi punya hati sama aku Ren”

“Lightly, Lee Jun Gi sudah menganut islam. Dia muslim Lightly, Lee Jun Gi muslim. Dia menganut Islam sejak ayahnya meninggal. Tapi dia belum tahu apa itu Islam. Saat Lee Jun Gi marah-marah sama kamu waktu itu, Lee Jun Gi sudah memeluk islam. Tapi dia masih di taraf belajar.”

Aku shock. Aku tak tahu Lee Jun Gi sudah memeluk islam. Dia tak pernah berkata apapun tentang agamanya. Bahkan saat kita dalam situasi sengit di Villa waktu itu. Pertengkaran sengit itu berakhir karena aku memutuskan pergi dari Villa menuju Appartement. 

“Ren, kamu jangan bercanda soal agama. Lee Jun Gi gak mungkin menganut Islam. Aku tahu agamanya Buddha. Dia gak mungkin masuk Islam Rena”

“Lightly, Lee Jun Gi. Dia memeluk islam karena dia melihat sendiri jenazah adik kandungnya Lee Chi Hoon yang juga calon suami kamu waktu itu, Jenazah Chi Hoon tersenyum. seperti menandakan bahagia. Lalu Gaza Lee, dia melihat jenazah ayahnya dan ia juga melihat senyuman yang bahagia dalam raut wajah ayahnya yang sudah memeluk islam. Lalu dia banyak bertanya pada ustadz-ustadz di daerah rumahnya. Dia juga bertanya pada karyawannya yang memeluk islam. Cita-citanya dia ingin meninggal dalam keadaan tersenyum. Lalu Vikram, mengenalkan Lee Jun Gi pada seorang ustadz yang mau mengajarinya shalat, mengaji dan puasa.”


“Lalu jika Lee Jun Gi muslim, apa aku tetap harus menerima cintanya yang mendadak datang setelah Amanda meninggal? Aku cinta sama Lee Jun Gi, aku sayang sama dia sejak 3 tahun lalu sampai hari ini. Sejak aku bangun dari koma dan sampai detik ini. Rasanya sama sekali gak berubah Meskipun Lee Jun Gi berkali-kali nyakitin aku Rena. Tapi apa karena dia sekarang seorang muslim jadi aku harus melupakan sakitnya di khianati sama dia? Aku bersyukur, Lee Jun Gi seorang mualaf sekarang tapi itu gak berarti aku bisa nerima cintanya Ren”

 Aku menangis lagi. Allah memberiku lagi cobaan. Bagiku cinta Lee Jun Gi yang datang padaku dengan tiba-tiba itu musibah. Musibah bagi rencana pernikahanku dengan Rendi. Aku berpamitan pada Rena, aku harus pulang. Aku harus mencari souvenir untuk pesta pernikahanku nanti. Di perjalanan aku menangis sambil menyetir mobilku. Aku sedang di perjalanan menuju Jalan Cibadak, tempat toko-toko aneka souvenir pernikahan di jual.

Aku memarkirkan mobil di Jalan Cibadak. Lalu aku menyusuri jalan-jalan yang menjajakan souvenir pernikahan, seperti kipas, gelas, gantungan kunci, boneka sampai squishy huruf alphabet. Andai aku menikah dengan Lee Jun Gi, aku pasti bahagia sekali, aku pasti bisa bahagia seumur hidupku. Andai aku menikah dengan Lee Jun Gi, aku tak akan menderita seperti ini lagi. Andai aku menikah dengan Lee Jun Gi, cintaku yang aku simpan diam-diam akan berkembang pada orang yang benar.
 Andai-andai…. Aku terus berandai-andai. Andai Lee Jun Gi memilihku waktu itu. Aku tak akan sesakit ini. ah… Andai cintanya padaku saat itu kuat, mungkin Lee Jun Gi tak akan mudah tergoda oleh kecantikan Amanda. 

Aku menghapus air mataku ketika aku membeli souvenir unuk pesta pernikahanku dengan Rendi Gunadi Khan. Aku memilih Gelas bertuliskan namaku dan nama Rendi, aku membeli sebanyak 800 buah sesuai dengan undangan yang di persiapkan oleh Rendi dan Aku.  Hatiku semakin sakit ketika aku menyadari bahwa aku hanya ingin menikah dengan Lee Jun Gi. laki-laki yang menyakitiku habis-habisan. Aku ingin menjadi bidadari bagi malaikat tanpa sayapku. Aku tetap mencintainya meskipun dia berubah menjadi Anjing Herder yg siap memangsaku. Aku tetap menyayanginya meskipun dia meninggalkanku sendirian dan pergi bersama Amanda. Keinginanku semakin kuat setelah tahu Lee Jun Gi memeluk agama Islam, keyakinan yang sama denganku. Mengagungkan ALLAH dan Rassul Nabi Muhammad SAW.

Hati kecilku memberontak keinginanku untuk menikah dengan Lee Jun Gi, hati kecilku terus mengeluarkan suara aneh. Suara yang terus menggenderangkan kejahatan Lee Jun Gi padaku. Hati kecilku rasanya ingin kembali pada saat 3 tahun yang lalu. yang sangat menginginkan Lee Jun Gi tanpa halangan apapun kecuali Amanda. Ya, rasa sakit ini memang sudah tak bisa di sembunyikan. Kali ini air mataku tak mengalir. Aku hanya ingin hatiku berbalik, berbalik arah dari condong kepada Lee Jun Gi menjadi condong ke Rendi. Hanya Allah yang maha membolak-balikan hati. Aku harus lebih giat lagi berdo’a agar Allah membalikkan hatiku pada Rendi Gunadi Khan.
Sesampainya di Appartement, Rendi meneleponku. Ya seperti biasa, dia meneleponku sehari tiga kali, macam obat anti biotic yang setiap hari harus aku minum untuk menghilangkan bakteri yang ada di tubuhku.

“Assallamu’alaikum Lightly, Apa kabar? Gimana aktivitasmu hari ini?”

“walaikumsallam Rendi, Allhamdullillah aku baik. Kamu gimana? Hari ini ya biasa aja, masuk kerja seperti biasa” 

“Lightly, aku mau tanya. Kamu tinggal serumah dengan Lee Jun Gi? maksudku, kamu pindah ke rumahmu yang lama?”

“enggak kok Ren, kenapa?”

“beberapa hari yang lalu, aku telepon kamu ke nomor yang ini, tapi yang angkat Lee Ji Hoon”

“oh, ia hp ku ketinggalan waktu aku jenguk tante Jae Ha”

“kamu jenguk Tante Jae Ha di Villa?”

“hah? Oh, iya kebetulan Tante Jae Ha lagi liburan di sana, aku di anterin sama Lee Ji Hoon ke sana pake mobil. Bolak balik sih, siang dateng ke sana, malamnya pulang lagi”

“kalau Lee Ji Hoon ada di Villa, berarti Lee Jun Gi juga ada di sana? Mana mungkin Lee Jun Gi gak ada, dia pemilik Villa paling mewah di Lembang itu kan?”

“Ren, udah deh. Aku gak mau bahas lagi Lee Jun Gi”

“siapa yang bahas? Aku Cuma tanya, waktu kamu ke Villa ada Lee Jun Gi?”

“gak ada, puas?”

“aku percaya kamu Lightly, tapi kalau kamu bohong, Lee Jun Gi taruhannya”

“aku gak ngerti kenapa kamu bisa se posesive ini Rendi”

“aku Cuma gak mau kehilangan kamu Lightly, aku gak bisa tutup mata kalau Lee Jun Gi masuk lagi ke kehidupan kamu.”

“Rendi, aku gak bodoh. Lee Jun Gi sudah menghancurkan aku berkali-kali. Aku gak mungkin lari dari kamu apalagi tujuannya Lee Jun Gi. percayalah.”

“aku percaya kamu Lightly, tapi jika kamu berani jatuh cinta sama Lee Jun Gi lagi dan jika Lee Jun Gi berani menyatakan cintanya sama kamu, Aku akan bunuh Lee Jun Gi. Tanpa segan-segan Lightly”

Firasatku tentang Rendi Khan benar, ia sudah berani mengancamku. Keputusanku untuk tidak menceritakan pada Rendi tentang pernyataan cinta Lee Jun Gi padaku memang benar. Rendi, calon suamiku berani mengancamku. Tujuannya, agar Lee Jun Gi tak merebutku darinya. Agar Lee Jun Gi tak memberikanku lagi harapan palsu.  Aku mengerti maksudnya tapi aku yakin masih ada cara lain untuk mengingatkanku tentang Lee Jun Gi, aku tak akan semudah itu bagi Lee Jun Gi.

Hari-hariku mulai kembali seperti biasa tanpa kehadiran Lee Jun Gi, tak ada telepon darinya, tak ada Whatsapp, BBM dan SMS. Hari ini tanggal 5 januari 2017. Pergantian tahun sudah aku lewati selama lima hari dan selama itu pula aku tak mendengar lagi kabar dari Lee Jun Gi. Rindu? Aku sangat merindukannya, sangat. Amat Sangat.

Aku sudah memilih dan mengunjungi Wedding Orginaizer yang akan kita pakai untuk mempersiapkan dan melaksanakan pernikahanku dengan Rendi Gunadi Khan. Sang Dokter muda yang sangat tampan berwajah bagai actor India ini yang akan menjadi suamiku pada bulan maret nanti. Saat aku berdiskusi dengan owner Wedding Orginaier tersebut tentang tema pernikahanku, Tante Jae Ha meneleponku. Ia minta di temani di rumah karena Lee Ji Hoon sedang latihan dance di Jakarta bersama B*STAR dan Lee Jun Gi, tak ada di rumah. Sudah berhari-hari Jun Gi tak pulang.

“Tante, Lee Jun Gi kemana? Kok tante sendirian di rumah?”

“Lightly, nanti tante akan ceritakan. Tapi temani tante dulu di rumah. Bisa?”

“bisa Tante, tenang aja. Pulang dari Wedding Orginaier aku kesana”

“baiklah, Tante tunggu ya Lightly”

Aku memutar balikan mobilku dari rumah sakit menuju Komplek Buah Batu Indah Regency. Tempatku tinggal dulu saat aku berusia 19 tahun sampai usia 22 tahun. Sebelum aku terbang ke Malaysia untuk menghindari Lee Jun Gi dan mendiang istrinya, Amanda Verenial Ghonshon dengan alasan Study Beasiswa S2 Ilmu Psikologi.  

Ketika aku sampai ke rumah, Tante Jae Ha menyambutku di teras halaman sambil menyirami tanaman. Aku mencium tangannya, hal yang biasa aku lakukan sejak aku masih berusia 5 tahun. Hal yang di ajarkan oleh ibuku tentang sopan santun dan menghormati orang yang lebih tua. 

“Lightly, kamu sudah sampai?”

“iya tante, di rumah ada siapa?”

“gak ada siapa-siapa Lightly. Ji Hoon sedang ke Jakarta dan Jun Gi sedang ke kota Garut”

“Garut? Lee Jun Gi ke Garut?”

“iya Lightly, Jun Gi pergi ke Garut untuk pesantren. Ia mondok di Pesantren milik kawannya semasa SMA. Kamu ingat, dulu Lee Jun Gi sekolah di Bandung International High School. Sekolah yang menerima orang-orang asing macam kami waktu itu. Di sana Lee Jun Gi bertemu Akhmad Syahrul, Syahrul adalah anak dari Kiyai Haji Amir Hafinudin. Yang punya pesantren Darul Ikhsan di Garut. Syahrul itu dulu nakal sekali. Lee Jun Gi pernah di tawari narkoba dan rokok-rokok oleh Syahrul. Sampai akhirnya Syahrul di pindahkan ke Garut. Ke Pesantren milik Ayahnya. Beberapa tahun kemudian Lee Jun Gi bertemu lagi dengan Syahrul, Syahrul sekarang sudah menjadi hafidz Qur’an. Ia juga berdakwah di mana-mana. Lee Jun Gi, ingin seperti Syahrul. Mualaf yang bisa menjadi Hafidz. Lee Jun Gi sekarang seorang muallaf Lightly. ia memeluk islam sejak Pamanmu meninggal. Satu hal yang ia mau. Ia ingin meninggal dalam kondisi tersenyum” 

Lee Jun Gi, malaikat tanpa sayapku. Sebetulnya ia mempunyai kesempatan besar untuk menikahiku. Ia Mualaf. Mualaf yang benar-benar mualaf. Menjalankan ibadah seperti muslim yang lahir dengan agama Islam. Lee Jun Gi atau sekarang namanya berganti menjadi Gaza Lee, ia menjadi seorang santri di salah satu pondok pesantren di Garut, Jawa Barat. Aku senang dan bahagia. Andai Lee Jun Gi masuk islam 3 tahun yang lalu. ah.. tapi jika Jun Gi masuk Islam waktu itu, dia tetap akan mencintai Amanda, rasanya pasti sama saja
.
“Lightly, kok kamu melamun terus?”

“ah.. gak apa-apa Tante”
 
“Lightly, diminum Teh nya, mumpung masih hangat.”

“iya Tante, makasih banyak. Jadi repotin”

“ah tak apa Lightly. oh iya. Lightly, temani Tante disini ya. Tante kesepian, biasanya kamu yang nemenin Tante”

“Tan, aku akan usahakan untuk setiap hari mengunjungi tante.”

“menginaplah di sini Lightly. Tante akan senang jika kamu tinggal lagi di rumah ini”

Tanpa berpikir panjang. Aku langsung menyetujui permintaan Tante Jae Ha. Aku membawa pakaianku dari Appartement, make Up dan alat mandi. Hampir semuanya aku bawa. Macam orang pindahan rumah. Aku membawa separuh barang-barangku. Karena kamarku berubah fungsi jadi gudang. Akhirnya Tante Jae Ha menyuruhku untuk istirahat di kamar Lee Jun Gi. Kamar di rumah itu memang hanya ada tiga. Kamar Tante Jae Ha dan mendiang Paman Jae Joon. Kamar yang di huni Lee Jun Gi saat ini, sebetulnya itu kamar Lee Chi Hoon juga. Sebelum aku pindah rumah ke rumah ini, kamar Lee Chi Hoon adalah kamarku. Lee Ji Hoon, ia tak mempunya kamar sendiri karena dulu ia menetap di Korea. Jika Lee Ji Hoon pulang, ia lebih senang tidur di kursi sofa ruang tv yang berada tepat di depan kamarku. Dan sekarang, aku tidur di kamar Lee Jun Gi, kamar mewah yang dulu sempat menjadi saksi bagaimana Lee Jun Gi memperlakukanku seperti bidadarinya sebelum Amanda datang. Dulu aku lebih sering menonton tv di kamarnya karena nyaman. Sebelum Amanda datang, aku malah sering tidur berdua dengan Lee Jun Gi di kasur ukuran King Size ini. Kenangan itu muncul lagi, ketika aku masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang mewah ini, kini di hiasi dengan foto pernikahan Amanda dengan Lee Jun Gi. Foto itu menggantikan fotoku yang sedang mencium bunga mawar putih favoritku. Foto yang di ambil Lee Chi Hoon di taman Bunga Bougenvile Lembang. Ya, aku tahu. Aku sudah tak berarti baginya. Perkataannya tentang aku yang sangat berarti baginya itu ‘BULLSHIT’.

Sangat jelas, Amanda memang wanita satu-satunya yang di cintai Lee Jun Gi. Pernyataan cintanya padaku itu hanya omong kosong. Iya omong kosong. Ia hanya memberiku harapan palsu lagi. Ia hanya mengangkatku ke atas awan lalu ia siap membantingku ke tanah. Lee Jun Gi, ia tak berubah sedikitpun. Ia masih mempermainkanku layaknya anak kecil yang sedang di beri kotak hadiah yang bagus dan isinya katak yang siap melompat ke wajahku.
Lee Jun Gi, haruskah aku marah padamu? Haruskah aku memberimu pelajaran? Haruskah aku meninggalkanmu lagi? Haruskah aku membalas semuanya? Sekuat apapun aku marah padamu, Lee Jun Gi. Hatiku tetap berkata ‘aku mencintaimu’. Lagipula aku memahami Al-Qur’an tentang wajibnya saling memaafkan. Meskipun aku sempat marah-marah pada Lee Jun Gi kala itu. Aku selalu ingat, Allah Subhanahu Wata’ala mengajarkanku tentang wajibnya memaafkan seperti yangtertulis di ayat suci Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199 yang menyebutkan “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengajarkan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Ya, aku memaafkannya demi Agamaku. Aku memaafkannya karena aku patuh pada Allah. Sekalipun hawa nafsuku berkata ‘balaslah perbuatannya, agar ia merasakan apa yang kamu rasakan.’ 

Tapi aku tak memperdulikannya. Aku hanya patuh pada apa yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an. Sekalipun Iblis mengelilingiku untuk membalas dendam pada Lee Jun Gi, Iblis akan kalah dengan kalimat Astaghfirullahal’adzim yang selalu aku bacakan jika aku sedang memendam amarah pada Lee Jun Gi.
Hari-hariku, aku habiskan untuk menemani Tante Jae Ha di rumah. Kadang aku menemaninya berbelanja kebutuhan sehari-harinya dan berbelanja bahan membuat roti. Toko ChocoLee Bakery masih melayani pelanggannya. Toko itu hanya tutup satu minggu setelah Paman Jae Joon meninggal. Jika ada waktu luang aku membantu Tante Jae Ha untuk membuat roti.

 Ini sudah akhir bulan Januari tepatnya tanggal 20. Tapi Lee Jun Gi belum memperlihatkan dirinya di hadapanku. Rendi meneleponku, kali ini dia menggunakan Video Call. Saat itu aku sedang makan dengan kawan-kawanku di sebuah Restoran khas makanan Sunda. Saat aku menerima Video Call darinya, aku di suraki oleh kawan-kawanku. Mereka menyurakiku hingga terdengar jelas oleh Rendi. Aku hanya tersenyum pada mereka. Seperti biasa Rendi menanyakan kabarku yang hampir setiap hari pasti di tanyakan olehnya. Sebetulnya aku bosan. Bosan terus-terusan di telepon oleh Rendi, meskipun ia calon suamiku. Tak seperti calon pengantin wanita lainnya yang bahagia di saat-saat akhir masa lajangnya, aku malah cenderung bersedih karena sebentar lagi Rendi akan mempersuntingku. 

Seharusnya aku meminta pada Allah dengan melaksanakan Shalat Istikharah. Memilih antara Lee Jun Gi laki-laki yang sebetulnya aku cintai meskipun ia berkali-kali menghancurkanku ataukah Rendi Gunadi Khan yang sepertinya ia sangat mencintaiku. Kadang ragu itu menghampiriku, terlebih setelah aku tahu Lee Jun Gi memeluk Islam dan namanya berganti menjadi Muhammad Gaza Lee Al-Thafariz. Tapi aku terlanjur sakit hati oleh Lee Jun Gi. Aku hanya ingin membuktikan padanya bahwa akupun bisa mendapatkan Laki-laki yang lebih baik darinya. Layaknya dia mendapatkan Amanda waktu itu.
Rendi sebetulnya hanya memberitahuku tentang keluarganya dari India yang ingin bertemu dengan keluargaku. Karena aku tak punya keluarga selain Tante Jae Ha, Lee Jun Gi dan Lee Ji Hoon akhirnya aku memberitahukan berita ini pada Tante Jae Ha. Dari Restoran Khas Sunda itu, aku langsung pulang ke rumah. Harusnya aku mengunjungi rumah sakit dulu untuk absensi pulang tapi karena terlanjur malas akhirnya aku memilih pulang ke rumah.
Saat aku pulang, aku melihat Lee Jun Gi. Ia sedang duduk di kursi sofa dan sedang memegang Al-Qur’an. Lee Jun Gi sedang membaca Al-Qur’an. Pakaiannya pun berubah. Dulu ia sering memakai kaos jika di rumah tapi saat ini, aku melihat Lee Jun Gi memakai baju kemeja koko. Baju koko yang sedang hits di Indonesia. Ia pun memakai kopiah, Lee Jun Gi yang aku lihat sekarang bukan Lee Jun Gi yang aku lihat saat aku bertengkar dengannya di Villa Lembang. 

“Lee Jun Gi”
Gumamku. 

“Assallamu’alaikum Lightly”

“walaikum sallam Lee Jun Gi. oh Tante Jae Ha mana?”

“Omma lagi pergi ke Toko Roti Lightly, Omma tadi aku antar ke Braga katanya dia mau melayani pelanggan”

Lee Jun Gi, berbicara sangat lemah lembut padaku. Lebih lemah lembut dari saat dia menjadi malaikat tanpa sayapku. Ah.. caranya berbicara membuat hatiku meleleh. 
 
“Lightly, ada apa?”
“oh.. ya, ehm.. Jun Gi, karena kamu waliku. Aku bicara sama kamu aja ya”

“oh ya boleh, ada apa?”

“ keluarga Rendi dari India akan datang berkunjung ke Indonesia. Mereka ingin berkenalan dengan keluargaku. Aku hanya punya Tante Jae Ha yang sudah aku anggap sebagai ibuku. Kamu sudah aku anggap sebagai kakak kandungku  dan Lee Ji Hoon, dia adikku. Aku gak punya keluarga lain selain kalian jadi Keluarga Rendi akan mengunjungi kalian, bisa kan?”

Lee Jun Gi, ia menunduk setelah aku menceritakan keinginan keluarga Rendi yang akan berkunjung ke Indonesia. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan aku melihat matanya berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh dan ia  mengucapkan:

“iya, tentu boleh Lightly” 

“terima kasih Lee Jun Gi”

Lee Jun Gi kemudian masuk ke kamarnya yang juga kamarku. Aku berpikir untuk pindah lagi ke Appartement karena Tante Jae Ha sudah ada yang menemani. Entah apa yang Lee Jun Gi rasakan saat aku memberitahunya bahwa keluarga Rendi dari India akan mengunjungi keluargaku di Indonesia. Air mata seperti ia tahan untuk keluar dari pelupuk matanya. Aku mengetuk pintu kamar Lee Jun Gi karena barang-barangku ada di kamar itu. Aku bermaksud untuk berganti pakaian. Dengan pakaian yang biasa aku pakai di rumah. 

“tok..tok..tok Jun Gi, maaf aku mau masuk bisa? ada pakaianku di sana”

Lee Jun Gi kemudian membuka pintunya. 

“oh iya Lightly, silahkan masuk dan berganti pakaian aku akan menunggu adzan Maghrib di ruang tv”

Aku memasuki kamar itu dan berganti pakaian. Tak lama adzan maghrib berkumandang. Aku membuka pintu kamarku dan melihat Lee Jun Gi sedang berdiri sambil mengangkat tangannya. Ia berdo’a. Berdo’a seperti ummat muslim lainnya. 

“Jun Gi, apa yg sedang kamu lakukan?”
Tanyaku.

“aku sedang berdo’a, do’a yg di panjatkan setelah adzan dan sebelum iqamah berkumandang itu lebih di dengar dan lebih di ijabah oleh Allah”

“oh.. kamu berdo’a apa?
Jujur aku kepo atau banyak ingin tahu tentang do’anya.







Bersambung ke part 3

Suddenly I Found You Remake Part 2

2 Tahun kemudian, Oktober 2016… Aku resmi di lamar Rendi Khan, si Pria berusia 35 Tahun ini melamarku di hotel Hilton Kuala Lumpu...