2
Tahun kemudian, Oktober 2016…
Aku
resmi di lamar Rendi Khan, si Pria berusia 35 Tahun ini melamarku di hotel
Hilton Kuala Lumpur, Malaysia. Pertunangan resmi itu di hadiri sahabat-sahabat
dekat Rendi dari Indonesia juga Malaysia, begitu juga dengan kerabat dekatnya,
termasuk ayah dan ibu almarhum Amanda yangjuga paman dan Tante dari Rendi, aku
saat ini sudah berhijab. Aku tak pernah lagi memakai pakaian ketat atau celana
Jeans lagi, pakaianku aku ganti menjadi sebuah gamis yangmenutupi seluruh
lekukan tubuhku dan jika terpaksa memakai celana, yangaku kenakan bukan celana
jeans tapi celana model kulot yangtak membentuk lekukan tubuhku dan kemeja yangaku
kenakan pun kemeja yang panjangnya sampai lutut.
Sekarang,
aku sudah menjadi psikolog ternama di Malaysia, aku juga salah satu bintang tamu
acara kesehatan Lets Health and Be Healthy Malaysia. Program itu dulu di rajai
oleh Rendi, tapi karena ia begitu sangat sibuk akhirnya Rendi meninggalkan
acara Talk Show tersebut.
Saat
pesta pertunanganku di Gelar, ada beberapa stasiun Televisi yang meliput
termasuk Stasiun Televisi Indonesia. Mereka menyiarkan pesta pertunanganku
dengan Rendi, secara Live dan bukan tidak mungkin Lee Jun Gi bisa melihat acara
Live di televisi ini.
Pesta
pertunangan ala India ini sanggup menyedot seluruh iklan-iklan dari Malaysia
dan Indonesia sebagai sponsor. Rendi Khan, selain menjadi dokter, ia juga
menjadi model iklan kesehatan dan model iklan sabun pembersih wajah laki-laki,
namanya memang bergaung di seantero Malaysia dan Indonesia, wajahnya yangkental
ala artis India, sanggup menambahkan uang ke rekening pribadinya sebagai model,
Bintang Iklan dan dokter.
Sesekali
Rendi masih suka mengajar, tapi tidak sering. Karena itulah, aku jarang sekali
bertemu dengannya, meskipun kita menjalin hubungan serius ke jenjang pernikahan.
Rendi
Khan, di pesta pertunangan itu menyanyikan lagu Saajaanji Ghar Ayyee, lagu
original soundtrack Film Legendaris Kuch Kuch Hota Hai. Saat Rendi menyanyikan
lagu itu, suara di aula hotel itu bergemuruh, tepuk tangan yangseakan tak
berhenti dari para tamu membuat Rendi Khan menjadi trending topic, bahkan
berita pertunangannya denganku sanggup menjadi bahan pembicaraan berita gossip
di Indonesia.
Setelah
aku resmi menjadi tunangan dari Rendi Gunadi Khan atau yang sekarang lebih di
kenal dengan nama Rendi Khan, aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Aku
akan melanjutkan study S3 ku di Universitas Padjajaran Bandung, selain itu, aku
memang di terima menjadi seorang Psikolog di Rumah Sakit Ahmad Dahlan, Bandung.
Ada harapan kecil untuk bertemu Lee Jun Gi saat itu, tapi aku urungkan niatku,
aku harus fokus pada Study S3 ku dan pekerjaanku sebagai Psikolog muda.
Pekerjaanku itu menuntut aku untuk tampil cantik dan modis, padahal dari dulu
aku tak pernah suka make Up, tapi sekarang aku di tuntut untuk belajar make Up
sendiri.
Aku
biasa menerima curhatan-curhatan orang lain atau di sebut Konseling, aku juga
merekrut karyawan di pabrik-pabrik yang ada di kota Bandung atau karyawan Rumah
Sakit di kota Bandung, aku juga menjadi dosen di tempatku kuliah dulu,
Universitas Padjajaran. Setelah hampir 6 bulan aku ada di Bandung, aku tak
pernah melihat Lee Jun Gi, aku hanya bertemu denga Tante Jae Ha di toko Roti
milik Ibu dan ayahku. Ia senang sekali ketika melihatku mengenakan hijab. Aku
juga mendapat kabar bahwa Paman Jae Joon sakit-sakita 2 bulan setelah kematian
Amanda pada Oktober 2014, Paman terus sakit-sakitan, menurut Tante Jae Ha,
Paman teringat akan Amanda dan cintanya pada Lee Jun Gi. Amanda sangat
mencintai Lee Jun Gi, tak ada yangbisa menggantikan cintanya Amanda untuk Lee
Jun Gi, Jun Gi memang tak pernah memperlihatkan kesedihannya pada Paman Jae
Joon dan Tante Jae Ha, tapi serapat-rapatnya Lee Jun Gi menutupi keadaannya,
mereka pasti tahu apa yang Jun Gi rasakan.
Tante
Jae Ha menceritakan, pernah suatu hari Lee Jun Gi hanya diam di kamar, tak
terdengar suara tangisan dari kamar Lee Jun Gi, tapi saat tante masuk ke dalam
kamar Lee Jun Gi, air matanya terus mengalir tanpa mengeluarkan suara, sakit yangterletak pada
Bathinnya tak bisa di bendung lagi, saat Tante Jae Ha memeluknya, Lee Jun Gi
kemudian berteriak untuk mengeluarkan semua emosi yang ia tahan.
Sejak
kematian Amanda, Lee Jun Gi aktif menjadi pembalap motor, hobi barunya ini
sudah di lakukan sekitar 2 tahun yanglalu, Jun Gi juga pernah mengikuti balap
motor MOTOGP tahun 2015 di sirkuit Sepang Malaysia, Jun Gi terdaftar
sebagai pembalap dari Indonesia, karena
dia sudah menjadi WNI sejak lebih dari 15 tahun yanglalu, Tante mengira Lee Jun
Gi menemuiku padahal selama 3 tahun aku di Malaysia, aku tak pernah bertemu Lee
Jun Gi.
“Tante,
Aku gak pernah ketemu Jun Gi, dia juga gak menelepon atau sekedar say hai sama
aku.
“mungkin
dia malu Lightly. Gimanapun kamu mencintainya tapi dia memilih Amanda waktu
itu.”
“kok
Tante tahu? Tahu darimana?”
“Maafkan
Lee Jun Gi Lightly, sebenarnya dia sangat kehilangan kamu waktu itu, bagaimana
Tante tahu hal ini? tante sudah mengamati kamu Lightly, Tante tahu, kamu cinta
sama Lee Jun Gi, kamu berubah drastis pada Lee Jun Gi setelah Lee Jun Gi bilang
sama Tante bahwa dia menyukai Amanda, tapi sekarang kamu sudah menemukan
laki-laki yangsangat mencintai kamu, Rendi laki-laki yangbaik, kamu harus
menjaganya.”
Tante
Jae Ha memegang tanganku dan berkata seakan ia berharap aku bahagia bersama
Rendi. padahal nyatanya aku masih berharap bertemu dengan Lee Jun Gi, hanya
saja aku tak pernah meluapkan tentang rasa kerinduanku pada Lee Jun Gi, mantan
kakak iparku.
“Tante,
cinta gak berbalas itu wajar, sangat wajar, aku gak marah kok sama Jun Gi, dia
punya hak dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya.”
“Lightly,
Jun Gi berbeda usia dengan kamu 10 tahun, jika dia mendengar kamu hanya
menyebutnya dengan nama, dia pasti akan marah”
“Lee
Jun Gi, dia kakak aku, tapi bagaimana pun kita saudara tak sekandung, aku masih
berhak memanggilnya hanya dengan sebuah nama. Lagipula, kita gak sedekat dulu,
aku turut berduka cita atas meninggalnya Amanda Tante, salam untuk Lee Jun Gi”
“Lightly,
seandainya kamu belum bertunangan dengan Rendi”
“kalau
aku belum bertunangan dengan Rendi, aku juga gak akan mau menikah dengan Lee
Jun Gi, sering sih Tante, aku kangeen gitu sama Oppa. karena bagaimanapun aku
pernah berharap dia mencintaiku dan aku juga mencintainya, aku cinta pada
Rendi, kalau aku gak cinta sama dia, mana mungkin aku menerima lamarannya yangdi
siarkan Live di Malaysia dan beritanya muncul di Indonesia, tapi aku belum bisa
melupakan Oppa, rasanya tak seperti Lee Chi Hoon, setelah aku mengikhlaskannya,
kenangan bersama Lee Chi Hoon masih aku ingat tapi rasa sakitnya berkurang dari
waktu ke waktu, sedangkan dengan Oppa…”
“Lightly,
temui Oppa mu nak, temani dia seperti dia menemanimu waktu di tinggal Lee Chi
Hoon”
“Tan..
Lee Jun Gi bukan Oppa, aku kehilangan Oppa setelah dia bertemu Amanda, Oppa itu
Malaikat Tanpa Sayapku, dia selalu ada untuk aku, sedangkan Lee Jun Gi, dia
mencintai Amanda, Amanda adalah hidupnya dan hidupnya adalah Amanda, tante, aku
gak mau ketemu Lee Jun Gi, aku gak kenal Lee Jun Gi, yangaku tahu Lee Jun Gi
sudah berbahagia dengan istrinya dan ia akan terus bahagia meskipun istrinya
sudah meninggal. Dan Oppa, aku masih mencintainya sampai detik ini, aku
merindukannya, Oppa yang dulu sering menjemputku dari Klinik, kita makan Ice
cream sama-sama, aku sering banget nitip makanan kalau dia kebetulan lagi di
jalan dari kantor menuju rumah, aku suka nitip batagor, seblak, es cingcau dan
kita sering banget selfie, meskipun Oppa Fashion Designer ternama kelas dunia,
tapi dia gak pernah malu melakukan hal yang remeh temeh dengan aku Tante, tapi
Oppa berubah menjadi Lee Jun Gi yang cuek, acuh setelah kenal, pacaran dan
menikah dengan Amanda. Jun Gi bukan Oppa Tante, kalau Oppa, dia pasti
mengunjungiku waktu aku ada di Malaysia.”
“bagaimana
kamu bisa bertahan seperti ini Lightly?”
“aku
punya hati tante, aku punya hati”
Aku
kembali menangis sesegukan, setelah sekian lama memendam rasa rindu sendirian,
akhirnya aku berbagi dengan ibu Lee Jun Gi, Tante Jae Ha. Bagiku, Oppaku,
malaikat tanpa sayapku dan si pemberi harapan palsu, sudah hilang ditelan bumi,
aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah ia memutuskan untuk menikah
dengan pujaan hatinya dan aku tak ingin menampakkan diri di hadapannya setelah
kekasihnya pulang ke haribaan sang pencipta menyusul calon suamiku sekaligus
adik iparnya, Lee Chi Hoon.
Meski
rasa rindu menerpaku setiap hari, aku tak ingin bertemu dengannya lagi, kenapa?
Karena Oppa dan Lee Jun Gi berbeda, Oppa, ia adalah malaikat tanpa sayapku yangmenemaniku
setiap hari setelah Lee Chi Hoon pergi untuk selama-lamanya, ia selalu
mengantar jemput aku kemana-mana, ke makam Ibu dan Ayah juga ke makam Lee Chi
Hoon.
Oppa, selalu memberi apa yang aku mau,
handphone, laptop, pakaian, uang sebersar 5 juta rupiah per bulan ke rekeningku
dan makanan kesukaanku, Steak saus jamur. Bahkan sebelum aku menyantap steak,
ia selalu memotongkan daging Steak untukku, setiap Oppa pulang kerja menuju
rumah, aku selalu nitip camilan kesukaanku, seblak, es cingcau, es cendol,
gorengan bala-bala, gehu dan lain sebagainya. Oppa juga tahu tanggal haidku
setiap bulan, pernah waktu itu sekitar 4 tahun yanglalu, beberapa bulan setelah
Lee Chi Hoon meninggal, aku mengikuti tes ujian masuk kerja di Klinik Kumala
Bunda, pakaian yangmenjadi syarat mengikuti tes adalah kemeja berwarna hitam
dan celana berwarna putih, saat itu aku sedang Haid hari ke 2, darah haidku
tembus ke celanaku yang berwarna putih juga ke kursi tempat aku duduk, aku malu
setengah mati saat itu, aku menelepon Oppa, aku menceritakan kejadian memalukan
itu padanya, Oppa langsung bergegas menjemputku di Klinik, ia juga membawa celana
jeans panjang untuk mengganti celana putihku yang terkena darah, tak lupa ia
juga membawa pembalut yang biasa aku pakai. Padahal saat itu Oppa juga sedang
ada meeting dengan beberapa artis dan model, ia rela meninggalkan pekerjaannya
demi aku.
Aku
tak melihat lagi Oppaku setelah ia berkenalan dengan Amanda Ghonshon, wanita
cantik yang berprofesi sebagai dokter anak, parahnya mereka bertemu saat Rendi
dan aku koma di rumah sakit, perlahan-lahan Oppa berubah menjadi Lee Jun Gi, si
CEO Star Multy Fashion yanggalaknya minta ampun, ia juga berubah menjadi Lee
Jun Gi yangtak pernah menyapaku. Terakhir saat Almarhum Amanda mengenakan Gaun yangdi
buat oleh Lee Jun Gi, itu adalah kali terakhir aku bertemu dengannya. Ini
kisahku tentang Lee Jun Gi, pria yangterbiasa marah-marah dan tak pernah
menyapaku, tiba-tiba ia menjadi wali resmiku, setelah itu, ia berubah menjadi
Malaikat Tanpa Sayapku dan aku mencintainya sepenuh hatiku. Saat itu, aku
memang masih remaja, saat aku menyatakan cintaku padanya, ia menolakku dengan
halus. Aku memang masih anak kecil saat itu tapi cintaku tak pernah padam meski
ia mencabik-cabik hatiku. Aku Lightly Magnolia atau orang-orang sekarang
mengenalku Psikolog Lightly Rahadi Rahman, nama Magnolia, memang sengaja aku
buang karena banyak yangbertanya tentang Agamaku, meski aku sudah berhijab,
Magnolia bukan nama islami katanya.
Beberapa
bulan kemudian….
Aku
di tawari menjadi model busana muslim oleh salah satu pasienku ia seorang perempuan asli warga Bandung
bernama Karina Fahrani, nama Brand busananya adalah KAFANI, menurutnya aku
cukup cantik untuk menjadi model Fashion Show, perancang busana muslim ini akan
menggelar fashion show perdananya di acara Bandung Fashion Week yangakan di
adakan di mall CIWALK Bandung, aku sebetulnya tak berminat tapi hatiku terus
berkata “mungkin disana akan ada Oppa”, Otakku menolak bathinku, aku tak ingin
bertemu Oppa, meskipun ia sekarang sudah menjadi duda mati Amanda Ghonshon,
tapi keinginan hatiku jauh lebih kuat, sangat kuat.
Kerinduan
hatiku pada sosok Oppa kesayanganku mengalahkan semua logika yangada. Aku
memutuskan untuk ikut acara Fashion Show tersebut. Mulanya aku hanya iseng tapi
lama-kelamaan, rasa rinduku pada Oppa semakin membuncah. Baju yangdi pakaikan
oleh Karina Fahrani padaku adalah pakaian gamis multi fungsi, artinya baju
gamis itu bisa di kenakan kapanpun dan di manapun, bisa saat santai, saat kerja
atau bahkan saat berkumpul dengan kawan-kawan.
Tak
terbiasa berlenggak-lenggok di catwalk, awalnya saat berlatih, aku terus
terjatuh, apalagi aku tak pernah memakai High Heels, walhasil aku jatuh
berulang kali, tapi Karina membantuku, ia melatihku dengan sabar. Semoga dengan
ikutnya aku di acara Bandung Fashion Week ini, bisa menjadi jalanku untuk
bertemu Lee Jun Gi, Oppaku….
Bandung
Fashion Week akhirnya datang juga, aku sudah bersiap dengan bajuku yangdi jahit
langsung oleh Karina Fahrani, semua model, fashion designer sampai MC
mengenaliku, mereka mengingatku sebagai tunangan dokter Rendi Khan model iklan,
presenter sekaligus dokter anak yangsangat terkenal di Asia. Aku menjadi
bintang tamu special di acara tersebut.
Aku
sudah berkeliling di area Fashion Show tapi aku tak melihat Lee Jun Gi, aku
menanyakan pada Fashion Designer yang lain, apakah Lee Jun Gi termasuk salah
satu Fashion Designer yangada di acara ini? mereka bilang Lee Jun Gi tak
mungkin ada di acara kelas daerah seperti ini, Lee Jun Gi itu Fashion designer
kelas dunia, mustahil rasanya Lee Jun Gi ada disini.
Kecewa,
iya pasti, harapanku bertemu dengannya pupus sudah, sebetulnya bisa saja aku
datang ke rumahnya yangjuga rumahku waktu itu, tapi rasanya canggung juga jika
aku sengaja menemuinya. Namaku di gemakan di acara Bandung Fashion Week sebagai
bintang tamu oleh MC acara tersebut.
“Mari
kita sambut, psikolog sekaligus calon istri dari dokter Rendi Khan, Lightly
Rahadi Rahman”
Suara
tepuk tangan bergemuruh di area Fashion show itu, aku berjalan ke arah penonton, berlenggak lenggok bagai
model catwalk sungguhan, aku menebar senyum ke seluruh penonton, melambaikan
tanganku dan aku melihat sosok yangsangat aku kenal di tengah-tengah penonton,
aku sangat kenal dia meski gaya rambutnya berubah dan bajunya tak serapih dulu,
rambutnya dulu gaya belah tengah agak gondrong sehingga rambutnya bisa di ikat
dan dulu, terakhir aku bertemu dengannya, pakaiannya juga rapih ala cowok
metropolis lengkap dengan jam tangan dan kemeja yangselalu ia pakai, tapi
sekarang penampilannya berbeda, rambutnya bergaya Quiff dan ia memakai celana
jeans bolong-bolong di bagian lutut juga memakai jaket kulit sport bertuliskan
REPSOL berwarna putih, meskipun gayanya acak-acakan, aku tetap mengenalinya.
Aku tak perduli dengan acara Fashion Show itu.
Aku
turun dari atas panggung dan masih mengenakan baju yangdi rancang oleh Karina
Fahrani, aku menghampirinya, aku pasti tak salah lihat, ia Oppa dengan gaya
berbeda, rambut acak-acakan dan pakaian yangamburadul sekali, ia juga menenteng
helm fullface di tangannya.
“Oppa..”
Ucapku
Tapi
laki-laki itu, hanya memandangku tak menyapaku, ia kemudian meninggalkanku dan
berjalan melewatiku. Dia Oppa, malaikat tanpa sayapku, si pemberi harapan
palsu.. dia Oppaku yang berubah menjadi Lee Jun Gi, si CEO yangtampan penuh
karisma dan kaya raya. Ia sama sekali tak menyapaku, ia pergi melewatiku.
Jantungku kembali berdegup dengan kencang, aku menelepon Lee Ji Hoon saat itu
juga, aku bertanya pada Ji Hoon, apakah laki-laki tadi adalah Lee Jun Gi,
Oppaku? Dan Lee Ji Hoon menjawab iya, dia kakaknya dan dia Oppaku. Setelah
Amanda meninggal Lee Jun Gi melampiaskan kesedihannya dengan melakukan balap
motor. Tampilannya saat menjadi pembalap memang acak-acakan tapi ia masih tetap
Lee Jun Gi yangdulu, laki-laki metropolis yang rapi, wangi dan stylish. Ia hanya
berpakaian seperti itu saat menjadi pembalap.
Aku
meminta maaf kepada Karina Fahira atas kejadian tadi saat di panggung catwalk,
Karina Fahira memaklumi apa yangtelah terjadi meskipun ia tidak tahu apa yangmembuatku
turun dari panggung. Aku menuju tempat parkir mobil, aku sekarang bisa menyetir
mobil dengan baik, aku ingin mandiri salah satu yangaku lakukan adalah menyetir
mobilku sendiri, aku tak lagi harus meminta antar Rendi atau Lee Jun Gi untuk
bepergian kemana-mana.
Di
tempat parkir, saat aku akan menaiki mobilku, aku melihat Lee Jun Gi ada di
pinggir mobilku, sepeda motornya di parkir di depan mobilku, otomatis mobilku
tak bisa keluar dari tempat parkir. Lee Jun Gi hanya menatapku, menatapku tanpa
henti, menatap wajahku, menyentuh hijabku, aku menepis tangannya yangakan
menyentuh hijab dan kepalaku. Lee Jun Gi kemudian menunduk, ia melihat ke arah
sepatu sportnya, ia mengangkat kepalanya lagi lalu tersenyum padaku, kemudian
ia pergi.
Lee
Jun Gi, ia bahkan tak menanyakan kabarku, ia tak menanyakan kemana selama ini
aku pergi dan ia juga tak menanyakan pertunanganku dengan Rendi. ada apa dengan
Lee Jun Gi? apakah kepergian Amanda untuk selama-lamanya mengubah hidupnya? Aku
sangat ingin menolongnya, mungkin jika Jun Gi mau, aku bisa membantunya untuk
Theraphy atau konseling, tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi karena jarak
kita yang terlalu jauh.
Bersambung ke part 3
Di
jalan, saat aku menyetir mobil menuju Appartement yangaku sewa di jalan
setiabudhi Bandung, aku mendapat telepon dari Rendi yangsedang berada di
Australia, Rendi menjadi anak angkat orang tua Amanda, karena ibu Amanda adalah
tante dari Rendi, setiap 2 bulan sekali, Rendi pasti terbang ke Australia,
menjenguk Paman dan tantenya.
“hallo
Assallamu’alaikum”
Ucapku
sambil mengangkat telefon dari Rendi.
“hai
Walaikumsallam sayang, lagi dimana?”
“oh..
aku baru pulang dari acaranya temen, Bandung Fashion week di ciwalk”
Rendi
terdiam sebentar, mungkin karena aku menyebutkan Bandung Fashion Week, Rendi
memang sangat takut kehilanganku, baginya aku adalah buangan Lee Jun Gi, aku di
buang oleh Lee Jun Gi dan Rendi yang memungutku di tempat sampah, ia
membersihkanku dari kotoran-kotoran dan luka akibat di buang oleh Lee Jun Gi.
“Lightly,
kamu ikutan Bandung Fashion Week?”
“iya,
ada seorang pasienku bernama Karina Fahira, ia adalah Fashion Designer baru,
dia baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Fashion dan Design di Jakarta”
“kamu
ketemu Lee Jun Gi?”
“mana
mungkin aku ketemu dia, ini acara Fashion Show biasa, Lee Jun Gi itu Fashion
Designer dunia, mana mungkin dia ada di sini”
“Syukurlah
kalau kamu gak ketemu dia, minggu depan aku pulang dari Ausy langsung ke
Indonesia”
“oke,
sampai jumpa minggu depan ya”
Rendi
menutup teleponnya, aku tak akan pernah bilang kalau aku tadi bertemu Lee Jun
Gi, Rendi pasti akan marah besar, bahkan ia sanggup membunuh Lee Jun Gi. aku
menyembunyikan rasa Rinduku pada Lee Jun Gi dari Rendi, Rendi itu Posesive jika
berurusan dengan Lee Jun Gi, ia rela mati jika aku sampai bertemu dengan Lee
Jun Gi, cintanya padaku tak main-main, Rendi melakukan segalanya untukku,
bahkan biaya hidupku saat aku jadi mahasiswa magister Psikologi, aku tak pernah
menggunakan uang yangLee Jun Gi beri,
bahkan sampai bulan kemarin, Lee Jun Gi masih mengirimi aku uang, sebesar 10
juta rupiah perbulan, naik 5 juta rupiah dari uang saku yang Jun Gi beri saat
aku masih di Indonesia. Total uang yangLee Jun Gi berikan padaku sebagai
tanggung jawabnya selama 3 tahun, ada sekitar 3,6 miliar rupiah dan aku tak
pernah menggunakannya sepeserpun, jika aku bertemu dengannya, aku akan
mengembalikan uang tersebut beserta jumlah uang yangJun Gi berikan saat aku ada
di Indonesia. Plus biaya rumah sakit selama 40 hari aku koma waktu itu. Aku tak ingin berhutang padanya, tanggung
jawabnya cukup hanya sampai aku meninggalkan Indonesia, walaupun aku sangat
membutuhkan uang kala itu, aku tak menggunakan uangnya, awalnya aku di beri
uang bulanan oleh Rendi, bulan-bulan berikutnya, aku bekerja paruh waktu di
sebuah toko elektronik di kota Penang, Malaysia.
Gajiku
satu bulan di Rumah Sakit Ahmad Dahlan sebagai Psikolog adalah 20 juta rupiah
perbulan, belum lagi jika ada seminar-seminar yangaku dan kawan-kawanku
kerjakan, gaji sebagai dosen luar biasa pun cukup lumayan, total jika
keseluruhan gajiku di gabung adalah sekitar 30-35 juta rupiah per bulan, maka
dari itu, aku bisa membeli mobil sendiri, menyewa Appartment dan menyisihkan
uangku untuk membayar hutangku pada Lee Jun Gi.
Sampai
di Appartment, aku mendapat telepon dari Lee Ji Hoon bahwa Paman sakit keras
dan akan di rawat di rumah sakit. Aku menyarankan paman agar di rawat di rumah
sakit Ahmad Dahlan tempat aku praktek menjadi psikolog, agar aku mudah
menjenguknya dan agar Tante ada yangmenemani.
Esoknya,
aku pergi ke Rumah Sakit lebih awal karena akan menjenguk Paman, biasanya aku
pergi dari Appartement menuju rumah sakit pukul 09.00 tapi hari ini, aku pergi
ke rumah sakit pukul 08.00, aku membelikan nasi kuning untuk sarapan tante Jae Ha dan Lee Ji Hoon.
Paman
di rawat di kelas VIP lantai 2 gedung Dewi Sartika, satu lantai dengan Ruang
praktekku.
“Assallamu’alaikum,
Tante ini aku bawakan nasi kuning untuk sarapan, Ji Hoon ini nasi kuning
untuk….”
Sambil
menawarkan sarapan untuk Tante, Aku menatap laki-laki yangsedang duduk di sofa,
laki-laki yangaku kira Lee Ji Hoon
ternyata Lee Jun Gi, Lee Jun Gi yangmenemani ayah dan ibunya di Rumah Sakit.
Tante Jae Ha tak menjawab salamku karena mungkin ia tak tahu cara menjawabnya.
“Lightly,
terima kasih sudah menyempatkan datang, akhirnya kalian bertemu setelah 3 tahun
kalian berpisah”
Aku
hanya tersenyum mendengar Tante Jae Ha mensyukuri pertemuan kami, padahal aku
sangat canggung sekali dan aku tak berani menyapanya, jangankan menyapa untuk
tersenyum pun rasanya berat sekali, mimic wajahku, menunjukan isi hatiku
sebenarnya, aku gugup, jantungku berdebar-debar dan rasanya aku ingin cepat
keluar dari Ruangan ini, Lee Jun Gi pun tak menyapaku, ia hanya memainkan
handphonenya dan mendengarkan music dengan earphone di kupingnya, suasana ini
sebetulnya sangat canggung untuk kami, tapi pertemuan ini sangat tak aku duga
sama sekali. Ini pertemuanku dengan Lee Jun Gi yangkedua, setelah kemarin di
Ciwalk kita bertemu di acara Fashion Show Bandung Fashion Week, setelah Lee Jun
Gi menungguku di area tempat parkir dan ia mencoba menyentuh kepalaku yang aku
lindungi dengan hijabku.
“Tante,
aku permisi ya, aku harus praktek, ruangan praktekku ada di dekat apotik khusus
untuk BPJS, bisa di tanya ke satpam ruangan poli psikologi Lightly Rahadi
Rahman, kalau ada apa-apa Tante tinggal telefon aku ke nomor handphoneku atau
bisa dari telepon kamar ini tekan 2011 aja tante”
“iya,
nak, nanti Tante berkunjung ke ruangan praktekmu, tante juga ingin melihatmu
bekerja sebagai psikolog”
“baik
tante, kalau tante mau berkunjung ke ruanganku, aku tunggu. Aku permisi tante”
Aku
berpamitan dan mencium tangan tante, saat aku membuka pintu, Lee Jun Gi juga
berpamitan pada ibunya untuk pulang dan bekerja.
“Omma,
aku juga mau pulang, jam 10 aku ada meeting sama pejabat pemerintahan kota
Bandung."
“baiklah, Jun Gi, nanti malam temani lagi Omma
di sini ya, adikmu sibuk dia harus membuat persiapan konser tunggalnya di Asia
tahun ini”
“baik
Omma”
Lee
Jun Gi kemudian mengikutiku, ia berjalan persis di belakangku, meskipun aku tak
membalikan badanku, tapi aku tahu itu dia, parfumenya tak pernah berganti, dia
masih menggunakan parfume yang sama seperti saat dia biasa memelukku, saat dia
biasa menjemputku dan membawaku kemana-mana, parfume GEORGIO ARMANI, parfume yang
melekat di kulit tubuhnya, yangmembuatku mengingat masa-masa indah dengannya
dulu.
Aku
tak membalikan badanku hingga aku sampai di Ruangan praktek, “brug” aku membanting
pintu ruanganku, aku sedikit kesal pada Lee Jun Gi, ia tak menyapaku sejak
pertama kali kita bertemu setelah 3 tahun kita berpisah, aku memang bukan
siapa-siapa nya tapi kita pernah dekat, kedekatan yangmembuatku menjadi GEDE
RASA padanya. Padahal jika aku ungkit, dia yangmenyebabkan semua ini. dia yangmembuatku
jatuh cinta padanya hanya dalam beberapa hari setelah aku bangun dari koma,
lalu setelah aku jatuh cinta padanya, aku mengungkapkan rasa cintaku dan ia
menolakku, 1 minggu setelah penolakkan itu, Lee Jun Gi kemudian menikah dengan
Amanda tanpa sepengetahuanku.
Saking
tak kuatnya aku bertahan dalam situasi ini, aku memilih pergi dari Indonesia ke
Malaysia, aku juga kena Psikosomatisatau orang biasa menyebutnya sakit pikiran,
luka yangada pada hatiku membuat sakit pada fisiku, aku terus memikirkan Lee
Jun Gi yangmenyakitiku, Lee Jun Gi yangmemberiku harapan palsu dan Lee Jun Gi yangmemindahkan
seluruh perhatiannya dariku pada Amanda, saat itu, aku memanggilnya Oppa atau
kakak dalam bahasa korea, itu panggilan kesayanganku padanya. Hingga akhirnya
aku memanggilnya Lee Jun Gi, namanya tanpa sebutan Oppa di depannya.
Aku
bolak-balik berkunjung menengok Paman, sakit yang di derita paman adalah Maag
Akut, berat badannya menurun drastis, lalu paman juga mengalami Pnemonia atau
radang pada paru-paru akibat rokok yangtak henti-hentinya ia hisap setelah
kematian Amanda. Karena kelelahan, Tante Jae Ha juga sakit, Tante sakit flu,
badannya demam dan lemas, jadi dia tak bisa menunggu paman di rumah sakit, Tante
Jae Ha meneleponku, ia memintaku untuk menjaga paman Jae Joon barang sehari dua
hari. Aku menyanggupinya.
Aku
menunggui paman dari pulang bekerja sampai esok pagi, aku menyuapi paman
makanan, tapi ia tak mau makan, paman tak berbicara sepatah katapun meski aku
bertanya padanya, jika ada kata yangkeluar dari mulutnya itu pasti nama Amanda.
Hanya itu yangpaman ucapkan. Jujur saja aku sedih, mungkin saat aku pergi ke
Malaysia, tak ada yangmenangisiku tapi saat Amanda pergi banyak orang yangmenangisinya.
Jam
di handphoneku menunjukan pukul 17.45, saatnya aku menunaikan shalat maghrib,
kebetulan karena rumah sakit Ahmad Dahlan adalah rumah sakit islam, jadi di
setiap ruangan di sediakan penunjuk kiblat dan aku bisa shalat tanpa harus
meninggalkan paman di ruangan sendirian. Aku menunaikan ibadah shalat maghrib
dengan khusyuk.
Selesai
menjalankan shalat Maghrib, aku melihat Lee Jun Gi sudah duduk di kursi sebelah
tempat tidur paman, penampilannya saat ini tidak seamburadul 2 hari yanglalu,
Jun Gi mengenakankemeja berwarna biru navy dan celana jeans warna senada, aku
melipat mukenaku dan menghampiri paman.
“paman,
ada Lee Jun Gi di sini, Lightly pamit pulang ya”
“hhh..hhh..
disini..disini”
Ucap
paman dengan nada tidak jelas dan lemas
“appa,
ingin kamu tinggal di sini, kalau kamu merasa tidak nyaman, biar aku yang pulang”
Lee
Jun Gi akhirnya mengajakku berbicara setelah sekian hari puasa berbicara
padaku. Paman menggeleng-gelengkan kepala, ia ingin kitaberdua ada disini.
“kalian
berdua tetap di sini, temani appa”
Karena
paman memohon untuk tidak di tinggalkan olehku akhirnya dengan terpaksa aku
harus tinggal di ruangan VIP ini dengan Lee Jun Gi, malaikat tanpa sayapku yangberubah
wujud lagi menjadi monster tyrex yangsiap melahapku kapan saja. aku mengambil air wudhu dan menjalankan
shalat isya di masjid di seberang rumah sakit, karena ada Lee Jun Gi yangmenjaga
paman, sekalian aku membeli makan untuk aku dan Lee Jun Gi, kasian dia mungkin
ia belum makan karena dari kantor ia langsung ke rumah sakit. Aku membelikan
pecel ikan lele, kesukaannya.
Saat
sampai di kamar VIP tempat paman di rawat, aku melihat paman sudah tertidur dan
Lee Jun Gi sedang menelepon sekertarisnya untuk melakukan pekerjaannya dengan
benar, Lee Jun Gi memarahi sekertarisnya itu, ia bahkan memaki-maki pekerjaan yangsudah
di kerjakan oleh sekertarisnya, aku menunggu Lee Jun Gi selesai menelepon dan
setelah selesai menelepon dia terlihat kaget aku ada di sebelahnya.
“heh,
Lightly kamu nguping ya?”
Lee
Jun Gi sangat ketus padaku, sampai-sampai air mataku mau terjatuh karena
melihat sikapnya yangberubah drastis. Padahal saat kitabertemu di tempat parkir
Ciwalk, Lee Jun Gi masih bisa tersenyum padaku.
“oh
maaf Jun Gi, ini nasi pecel lele, barangkali kamu belum makan”
Lee
Jun Gi tak mengambil bungkusan nasi dan pecel lele yangaku berikan untuk makan
malamnya.
“taro
aja di meja, kalau laper aku makan”
Ya
Allah, malaikat tanpa sayapku benar-benar berubah menjadi monster Tyrex yangsiap
melahapku kapan saja. aku menuruti perintahnya, aku menyimpan nasi pecel lele
itu di meja makan yangdi sediakan pihak rumah sakit untuk kamar VIP yangdi huni
oleh pamanku.
Aku
duduk di kursi sofa panjang, sambil setengah tiduran, tiba-tiba handphoneku
berbunyi, dan nama yangmuncul di handphoneku nama Rendi Khan. Aku mengangkat
telepon dari calon suamiku tanpa keluar dari kamar pasien.
“hallo,
assallamu’alaikum”
“walaikumsallam
lagi dimana?”
“aku
lagi di rumah sakit, pamanku sakit , gak ada yangjagain, tante Jae Ha juga
sakit, dia sama Lee Ji Hoon di rumah, tante Jae Ha sakit flu demam”
“oh..
kamu sabar ya sayang, mungkin ini cobaan dari Allah menjelang pernikahan kita,
besok aku pulang ke Indonesia, aku percepat kepulanganku, karena aku kangen
banget sama kamu”
“hahaha..
gombal banget, aku tunggu kamu pulang besok, aku juga kangen sama kamu, udah
dulu ya, aku harus tidur, besok aku harus pulang ke appartement setelah shalat
shubuh, ganti baju dan praktek lagi di sini”
“baiklah,
aku tutup teleponnya ya sayang, I Love You”
“i
love you too”
Aku
menutup telepon dari Rendi dan saat itu juga Lee Jun Gi menarik tanganku dan
menyuruhku keluar kamar VIP.
“ih
Lee Jun Gi, ngapain sih kamu narik-narik aku? Kamu tuh gak boleh nyentuh aku,
aku muslimah, aku gak boleh di sentuh sama laki-laki yangbukan muhrimku”
“heh
bocah, bisa gak angkat telepon di luar kamar, berisik tahu gak?”
“bisa
gak ngasih taunya baik-baik? Gak perlu tarik-tarik”
“kamu
kerja di rumah sakit, masa etika kayak gitu aja kamu gak tahu? Pergi deh dari
sini, ganggu tahu gak?”
Air
mataku membanjiri pipiku, Lee Jun Gi mengusirku hanya karena telepon yangtak
sengaja aku angkat di dalam ruangan, sambil sesegukkan aku bertanya pada Lee
Jun Gi, apa sebenarnya kesalahanku sampai dia tega mengusirku dari kamar tempat
ayahnya di rawat.
“hei
monster Tyrex, sebetulnya apa salahku sampai kamu menarikku keluar dari kamar?
Apa salahku sampai kamu tega membentakku? Kita baru ketemu setelah 3 tahun
berpisah bukan?”
“jangan
pura-pura gak tahu? Apa aku harus menjelaskan satu persatu kesalahanmu?”
“kalau
ini tentang Amanda, aku minta maaf karena waktu itu aku sedang Stage Klinis di
rumah sakit Malaysia, aku bukan orang kaya yang bisa bolak-balik Australia-Malaysia
menggunakan pesawat terbang”
“pergilah,
aku muak sama kamu”
Aku
pergi meninggalkan paman, aku menelepon Tante karena aku tak bisa menjaga
paman, aku beralasan bahwa besok aku harus mengikuti seminar di luar kota, jadi
aku harus bersiap-siap membereskan semua pakaianku karena aku pergi setelah
shalat shubuh.
Aku
tak pernah tahu apa salahku pada Lee Jun Gi? apa dosaku padanya? Sampai dia dengan tega hati mengusirku dari sini hanya
karena aku menerima telepon dari Rendi calon suamiku.
Aku
tiba di appartement, tubuhku terasa lelah, ia minta tidur untuk sekedar
beristirahat. Tak lama Lee Ji Hoon meneleponku, ia bertanya kenapa aku pulang?
“Lily,
kamu dimana?”
“aku
di appartement, ada apa Ji Hoon?”
“kok
di appartement sih? Bukannya omma nyuruh Lily jagain Appa?”
“besok
aku ada seminar di jatinangor, mendadak, Ji Hoon kamu dimana?”
“aku
baru jemput temen-temenku dari B*STAR, rencananya besok lusa kita mau jenguk
appa”
“oh
ya baguslah, tapi ingat kalian harus menyamar, jangan bikin gaduh rumah sakit”
“iya,
baiklah kita akan memakai topi, jaket dan masker”
“sampai
ketemu besok lusa ya Ji Hoon, pulang seminar aku pasti ke rumah sakit lagi”
Aku
menutup teleponnya, aku beristirahat sambil memikirkan anggota B*STAR yangakan datang besok lusa, kesedihanku di bentak dan
di caci maki oleh Lee Jun Gi tadi bisa reda sebentar karena memikirkan 3
anggota B*STAR yanglain, para personil B*STAR akan berkumpul di rumah sakit
besok lusa, ah.. mereka sangat tampan, termasuk Lee Ji Hoon. Leader dari B*STAR,
lalu anggotanya terdiri dari 4 orang, ada Kim Ryu Wan, ia adalah penyanyi
jebolan ajang berbakat dari korea, ia tinggal di Incheon, sebelum terkenal
seperti sekarang, Ryu Wan hanyalah seorang petani yang membantu kedua orang
tuanya bekerja di perkebunan orang lain dan Ryu Wan berhasil menjadi bintang
dari hasil jerih payahnya sendiri.
Ada
Park Se Jeong, Se Jeong adalah Rapper B*STAR. Pria kelahiran Hongkong ini
adalah anggota B*STAR paling kaya, orangtuanya mempunyai beberapa toko di Cheongdamdong,
Korea Selatan. Lalu ayahnya juga pemilik mall terbesar yan gada di China, jika yang
lain pergi ke konser menaiki mobil milik Wonder Group Entertainer, Se Jeong
memilih menaiki mobil mewahnya sedan PORSCHE dan tak jarang anggota B*STAR ini
di isukan menjalin hubungan dengan beberapa artis dan Trainee, terakhir Se
Jeong di kabarkan telah mempunyai anak dari hasil hubungan gelapnya dengan
seorang model di Thailand, tapi itu tak membuat popularitas Se Jeong padam, Se
Jeong makin terkenal dan ia akan di dapuk bermain drama korea dengan Park Shin
Hye, aktris cantik yang berperan sebagai dokter Yoo Hye Joong di drama Doctors
beberapa bulan yang lalu.
Lalu
ada Daniel Choi, pria blasteran Inggris-Korea ini adalah salah satu penyanyi
cilik yang di miliki Korea Selatan saat itu, Daniel terkenal dengan
dance-dancenya yang lincah, meski punya nama tenar, Daniel tak kalah dengan Se
Jeong yang di isukan oleh berbagai media di Korea, kabarnya Daniel adalah anak
dari pejabat pemerintahan Inggris yang mempunyai affair dengan ibunya, sampai
saat ini ibu Daniel tak pernah membenarkan hal itu, ibu Daniel hanya
menceritakan tentang ayah Daniel yang sudah meninggal saat Daniel masih di
dalam kandungan.
Yang
terakhir adalah Lee Ji Hoon, dia adalah adikku, meski bukan adik sekandung tapi
aku sangat menyayanginya, Ji Hoon lahir di Indonesia tapi ia tumbuh besar
bersama almarhum neneknya di Korea sampai menjadi Artis. Ketika neneknya
meninggal dunia, Lee Ji Hoon terpaksa mengikuti Trainee tanpa sang nenek,
padahal ia sangat ingin sekali neneknya membanggakannya sebagai seorang artis,
tapi Allah berkehendak lain, nenek Lee Jun Gi, Lee Chi Hoon dan Lee Ji Hoon
meninggal dunia saat Lee Ji Hoon mulai menapaki trainee sebagai artis.
Esok
hari, aku bingung karena aku harus pergi praktek dan bekerja sebagai Psikolog
di Rumah Sakit Ahmad Dahlan dan saat bersamaan Paman Jae Joon masih di rawat di
Rumah Sakit Ahmad Dahlan juga, aku takut ketahuan karena telah berbohong pada
Tante Jae Ha mengenai kepergianku untuk seminar di luar kota, tapi aku tetap
memutuskan untuk bekerja seperti biasa, aku menyerahkan semua pada Allah jika
aku harus ketahuan oleh Tante Jae Ha dan Ji Hoon.
Setelah
jam praktekku usai, aku ingin sekali mengunjungi paman Jae Joon tapi pasti ada
Lee Jun Gi, jujur aku takut dengan monster Tyrex itu, ia bisa melahapku kapan
saja, bahkan Jun Gi sudah berani memakiku kali ini, tapi entahlah, betapapun
hatiku terasa sakit, aku terus mencintainya, mencintai Oppa dan malaikat tanpa
sayapku yangada di dalam diri Lee Jun Gi, aku sangat berharap sekali Lee Jun Gi
bisa berubah menjadi Oppaku yangdulu, tapi itu mustahil akan terjadi, ia
membenciku karena saat Amanda meninggal aku tak bertakziah ke Australia atau
Indonesia waktu itu.
Aku
kembali berkunjung ke ruangan VIP tempat paman Jae Joon di rawat. Ternyata
benar, masih ada Lee Jun Gi disana, aku pura-pura tidak melihatnya dan aku
menghindarinya, di sana ada Tante Jae Ha juga, tante Jae Ha memberitahuku bahwa
ada 2 orang temannya yangbernama Rena dan Thalitha berkunjung dan ada satu
orang staff yangmembantuku bekerja di ruangan Psikologi, Tante juga mengetahui
bahwa hari ini aku berbohong. Hanya saja saat itu, Tante tak menanyakan lebih
lanjut mengenai kebohonganku hari ini, karena tiba-tiba paman kejang-kejang,
aku berlari ke kantor perawat, perawat dan dokter datang satu persatu, kami,
aku, Lee Jun Gi dan Tante Jae Ha menunggu di luar karena dokter dan perawat
melakukan observasi. Tak berapa lama mereka keluar dari kamar pasien dan dokter
menyatakan bahwa paman Jae Joon meninggal dunia. Ada kemungkinan Paman Jae Joon
Shock lalu kejang-kejang. Dokter menanyakan apakah ada kejadian yangmembuat
Paman Jae Joon shock kemarin?
Mungkin
Paman mendengar saat Lee Jun Gi memarahiku, memaki dan meneriaki aku, bukan hal
yang tidak mungkin jika Paman shock karena hal itu, Lee Jun Gi tak pernah
sekasar itu padaku, bahkan saat Lee Chi Hoon masih hidup, kita hanya tak pernah
bertegur sapa saat itu. Tapi kemarin malam Lee Jun Gi marah besar padaku hanya
karena hal sepele. Aku diam, aku tak berkata sepatah katapun tentang kejadian
kemarin malam, aku hanya fokus pada pemakaman Paman, menurut Tante Jae Ha,
Paman sudah muallaf sejak Amanda meninggal dunia, hanya saja tak ada yangmembimbingnya,
Paman Jae Joon punya karib seorang ustadz, awalnya paman dibimbing oleh
karibnya tersebut, tapi karibnya ini juga sakit dan akhirnya meninggal dunia,
sejak saat itu Paman Jae Joon hanya melaksanakan shalat wajib saja, tidak
dengan sunah-sunahnya dan hanya puasa Ramadhan tidak dengan puasa sunnahnya. Paman
di makamkan di sebelah makam Lee Chi Hoon, kekasihku.
Kita
pulang ke rumah dengan perasaan masih shock, Lee Ji Hoon tak henti-hentinya
menangis, kawan-kawannya dari B*STAR berdatangan juga dengan wartawan dari
media massa mereka berdatangan silih berganti, rumah kitamenjadi sorotan media,
mereka memberitakan kematian Paman, ayah dari Leader B*STAR, Lee Ji Hoon. Aku
menelepon Rendi, calon suamiku. Aku meminta dia agar setelah sampai dari Bandara,
dia langsung ke Rumah keluarga Lee. Rendi mengiyakan permintaanku.
Yang
terlihat tegar hanya aku dan Lee Jun Gi, aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak
menangis di hadapan Tante Jae Ha. Karena Paman seorang muslim yangselalu
menunaikan ibadah shalat di masjid dekat rumahnya, para tetangga yangmelayad
menyarankan untuk mengadakan tahlilan. Tante Jae Ha menyetujuinya, hanya aku
dan Lee Jun Gi yangmembereskan isi rumah, Lee Jun Gi mendadak membeli karpet
dan menggelarnya di ruang tengah, akhirnya ba’da Isya kita menggelar tahlilan
dengan mengundang 30 orang warga dan tetangga di sekitaran rumah kami. Lantunan
ayat-ayat suci Al-qur’an dan surah yassin di gemakan di rumah itu, rumah yangmayoritas
orang-orangnya menyembah dewa.
Lee
Jun Gi yangsaat itu duduk di sampingku terlihat menangis, aku menghapus air
matanya dan menepuk punggungnya.
“Jun
Gi, jangan menangis”
“diamlah”
Lee
Jun Gi masih sekasar dan sejudes itu padaku. padahal aku hanya mencoba
menghiburnya. Gelaran tahlilan selesai di laksanakan. Tahlilan akan
dilaksanakan sampai hari ke tujuh meninggalnya paman dan di laksanakan lagi
pada hari ke 40 meninggalnya paman. Hari ke dua paman meninggal, Rendi Gunadi
Khan, calon suamiku yang berdarah India-Indonesia datang ke rumah. Aku
mengantar Rendi untuk bertemu dengan Tante Jae Ha di kamarnya.
“Tante,
ada Rendi” ucapku.
“oh,
nak Rendi kemari nak”
“assallamu”alaikum
Tante, aku turut berduka cita atas meninggalnya paman”
“oh,
ya.. terima kasih nak, ayo silahkan duduk.”
Kita
berjalan dari kamar tante Jae Ha menuju ruang tamu, dan ada Lee Jun Gi di sana.
Rendi menghampirinya.
“hai
kak Jun Gi, aku turut berduka cita atas meninggalnya Paman.”
“oh,
ya terimakasih, Rendi”
Lee
Jun Gi terlihat sedang bersiap-siap ke kantor, apapun yangterjadi Lee Jun Gi
adalah CEO dari SmF atau Star Multi Fashion, ia harus masuk kerja saat karyawan
lain sedang libur, termasuk hari ini , hari ke 2 paman Jae Joon meninggal.
Sikapnya pada Rendi calon suamiku tak ada yangistimewa, Lee Jun Gi hanya
mengucapkan terimakasih pada Rendi yangtelah mengunjungi ibunya dan mengucapkan
bela sungkawa pada keluarga kecilnya.
Tapi padaku, Lee Jun Gi sangat kasar dan
semena-mena meskipun itu di hadapan Rendi calon suamiku.
“Heh,
bocah, aku mau pergi ke kantor, jaga Omma baik-baik sampai aku pulang, Lee Ji
Hoon dan B*STAR sedang melakukan Konfrensi Pers di hotel Djayakarta Dago, kamu
gak boleh pergi sebelum aku atau Lee Ji Hoon datang, Ngerti?”
Tante
Jae Ha dan Rendi menatap pada Lee Jun Gi, ia sengaja menyuruhku dan semena-mena
padaku. aku tak bisa melawan Lee Jun Gi apalagi di hadapan Ibunya dan untung
hari ini hari sabtu, aku libur praktek di rumah sakit tapi aku harus menjawab
semua telepon dari pasien-pasienku. Kebanyakan mereka mengucapkan turut berduka
cita atas meninggalnya ayah angkatku.
Setelah
Lee Jun Gi pergi, Rendi membantuku untuk menyiapkan segala sesuatu untuk
persiapan tahlilan hari ke dua, Rendi membantu menyapukan karpet-karpet yang sudah
di gelar oleh Lee Jun Gi, Rendi juga mencuci piring dan mengepel lantai teras
rumah. Aku hanya menemani Tante, aku membawa makanannya, menemaninya saat ia
sedang sendiri.
“Tante,
ini sudah takdir Allah yang harus kita terima, jalannya sudah begini”
“Lightly,
Pamanmu itu awalnya sehat, tapi setelah Amanda meninggal dunia, Pamanmu menjadi
murung, tak mau berbicara, lalu ia memeluk islam dan menunaikan
ibadah-ibadahnya di masjid, pernah ia menjadi kuat karena sahabatnya yang bernama
Ustadz Zakaria, beliau yang membingmbing paman dalam beribadah shalat dan
mengaji, tante tidak pernah melarangnya bahkan tante menyemangatinya untuk
terus mengaji, shalat dan berdzikir karena Allah dan Tante juga berpikir untuk
memeluk islam saat itu tapi baru niat belum tante lakukan, tiba-tiba kita
mendapat kabar bahwa Ustadz Zakaria meninggal dunia tiba-tiba saat bermain badminton
di lapang dekat rumahnya, ia meninggal dengan senyuman yang indah di wajahnya,
itu juga yang membuat pamanmu menjadi kuat untuk memeluk Islam.”
“Tante,
sabar ya, ini sudah ketentuanNYA, hanya Allah yangtahu sampai usia berapa
manusia di hidupkan dan usia berapa manusia di matikan.”
Beberapa
jam kemudian Lee Ji Hoon datang dengan 3 anggota B*STAR lainnya. Lee Ji Hoon
menangis memeluk ibunya, ia sudah kehilangan kakak kandung, kakak ipar dan
ayahnya dalam waktu berdekatan. Kim Ryu Wan mengambilkan air untuk Ji Hoon agar
ia bisa lebih tenang. Anggota B*STAR yanglain mengucapkan bela sungkawa padaku dan
pada Tante Jae Ha. Untunglah mereka membawa serta seorang Translater atau
penerjemah bahasa jadi aku bisa dengan nyaman berbicara dengan mereka. Kim Ryu
Wan dan Park Se Jeong tak bisa bahasa inggris, mereka hanya berbicara bahasa
Korea, sedangkan Daniel Choi, ia bisa berbahasa Inggris dan aku sedikit
mengerti, tapi tetap saja mereka juga lebih nyaman berbicara menggunakan
translater denganku.
Rena
dan Thalitha datang berkunjung, sahabat karibku itu mengunjungi aku dan Tante
Jae Ha, mereka berbela sungkawa atas kepergian Paman Jae Joon. Rena membawa
serta kekasihnya yangberwarga Negara India bernama Vikram Singh, Vic, biasa ia
dipanggil, juga adalah karib Lee Jun Gi, Vic adalah senior Lee Jun Gi saat
kuliah di Asian Fashion Design and Model Univercity, Singapore.
“
Lightly, turut berduka cita atas kepergian pamanmu”
“iya,
terimakasih Rena Thalitha, masuk yuk, aku kenalkan sama adikku”
Aku
membawa mereka masuk ke dalam rumah, di dalam rumah, aku memperkenalkan calon
suamiku Rendi Gunadi Khan yangjuga dokter anak yangdulu bekerja di klinik
Kumala Bunda bersama mereka.
“Rena
Thalitha, ini Rendi calon suamiku”
“Wow
Lightly, aku gak nyangka kamu berjodoh sama dokter anak tampan kita”
Thalitha
mengungkapkan kebahagiaanya padaku dan Rendi. Begitu juga dengan Rena dan Vic,
aku senang mereka banyak mensupportku walau akhir-akhir ini kita jarang
bertemu.
“halo
Rena Thalitha, hai Vikram, aku Rendi Gunadi Khan, aku calon suami Lightly”
“oh,
hai Dokter, I’m Vikram just call me Vic.”
Rendi
dan Vikram berkenalan, mereka berjabat tangan dan mengobrol satu sama lain.
“dokter,
aku gak nyangka Lho kalau Lightly akan berjodoh sama dokter, aku kira Lightly
bakal berjodoh sama orang Korea itu, eh.. die kawin duluan”
Rena
bermaksud membahas Lee Jun Gi. tanpa Rena sadari saat Rena berbicara seperti
itu, Lee Jun Gi ada di belakangnya.
“oooppss…
keceplosan” lanjut Rena lagi.
Rena,
memang muak pada Lee Jun Gi, Jun Gi yangmemberi harapan palsu padaku waktu itu,
membuat Rena benci sekali pada Jun Gi, bahkan ia berani menyindir Jun Gi di
rumahnya bahkan di hadapannya. Rena tahu rasanya di beri harapan palsu, sakit,
sangat sakit, ia pernah mengalaminya, maka dari itu ia sangat muak pada Lee Jun
Gi.
“maksud
kamu, orang Korea itu aku?” tanya Jun Gi pada Rena.
“situ
ngerasa? Gak ngerasa udah nyakitin orang?”
“eh..
yang sopan ya, aku lebih tua dari kamu, kamu seusia si bocah kan?”
“iyuuuhh..
bodo amat, mau sopan kek enggak kek, suka-suka eike”
Aku
meminta Rena berhenti melakukan sindiran-sindiran pada Jun Gi, bukan apa-apa,
keluarga kami masih dalam masa berkabung dan aku tak enak dengan Tante Jae Ha.
“Ren,
udah donk, malu nih”
Ucapku
pada Rena
“ah…
gini nih.. makanya kamu tuh tertindas terus”
Rena
mencoba membelaku tapi aku merasa tak nyaman, bukan hanya itu saja, ini rumah
keluarga Lee, rumah Lee Jun Gi, bukan rumahku. Setidaknya jika aku ingin
membantu, Tante Jae Ha harus merasa nyaman padaku.
“Eh
bocah, ikut aku”
Lee
Jun Gi kembali menarik tanganku dan membawaku ke kamar. Melihat itu Rena tak
diam, ia mengadu pada Rendi calon suamiku yang sedang mengobrol dengan Vic,
kekasihnya.
“dokter,
lihat Lightly, dia di tarik-tarik sama si Lee Jun Gi”
Sontak
saja, teriakan Rena membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada aku dan
Lee Jun Gi, Rendi menghampiri kami, dia heran kenapa sikap Lee Jun Gi padaku yangsangat
kasar.
“hey
Lee Jun Gi, kenapa kamu tarik-tarik calon istriku? Kamu bukan muhrimnya. Bisa
sopan sedikit? Lightly muslim, dia punya hak untuk menolak di sentuh oleh
laki-laki yang bukan muhrimnya.” Ujar Rendi menjelaskan.
“lalu
apa peduliku? Kamu calon suaminya? Aku walinya, sampai detik ini Lightly masih
jadi tanggunganku, tanggung jawabku, jadi mau di apakan saja dia, terserah
aku.”
Lee
Jun Gi memang keterlaluan, ia membuat Rendi marah besar.
“kurang
ajar”
Ujar
Rendi sambil berjalan menghampiri Lee Jun Gi dan hampir memukulnya.
“ahhh”
Aku
Rena dan Thalitha berteriak, kami semua terkejut melihat adegan Rendi yang mau
memukuli Lee Jun Gi, Lee Ji Hoon dan 3 anggota B*STAR lainnya mencoba melerai
perkelahian antara Lee Jun Gi dan Rendi, calon suamiku.
“stop..stop..
what happen to you Guys, please Respect for Lee Ji Hoon, his dad was past away”
Ucap
Daniel pada mereka berdua, ya Rendi dan Lee Jun Gi benar-bebar keterlaluan, di
hari berkabung seperti ini, mereka berkelahi dan hampir saling memukuli satu
sama lain. Mereka tak menghargai keadaan Tante Jae Ha yangsedang bersedih.
“kalian
kenapa?”
Ucap
Tante Jae Ha
“Tante,
maaf dengan segala hormat Tante, Rendi sebagai calon suami Lightly gak terima
kalau Lee Jun Gi memperlakukan Lightly dengan semena-mena, Lee Jun Gi menarik
tangan Lightly”
“Benar
begitu Lee Jun Gi?”
“omma,
mereka bilang aku menyakiti Lightly, aku gak terima Omma, Lightly yang menyakiti
aku, dia pergi ke Malaysia tanpa pamit sama aku, Omma ingat kan, waktu Amanda
meninggal, dia gak nunjukin batang hidungnya. Terus temen-temennya bilang kalau
aku yang menyakiti Lightly”
“sudah-sudah.
Lee Jun Gi, Ikut Omma, Lightly dan Rendi kalian juga ikut”
Aku,
Rendi dan Jun Gi, mengikuti Tante Jae Ha ke kamarnya, aku yakin aku tak salah,
kenapa? Karena memang Lee Jun Gi yangmenarik tanganku dan menyuruhku untuk ikut
dengannya.
“kalian
berdua, Rendi dan Jun Gi duduk di sofa, sedangkan Lightly duduk di samping
Tante”
Aku
menuruti perkataan Tante Jae Ha begitu pula Lee Jun Gi dan Rendi.
“kalian
kenapa berkelahi? Kalian tahu, makam suamiku tanahnya belum kering dan kalian malah mau berkelahi di sini? Apa
kalian gak malu, lihat ada B*STAR disana, kalian di lerai oleh Daniel, apa kata
mereka kalau kakak dari Lee Ji Hoon bertengkar dengan calon suami Lightly yang notabene
kakak perempuan Lee Ji Hoon dan dia adik
kamu Lee Jun Gi.”
“maaf Tante, Rendi gak bermaksud berkelahi dengan
Kakak ipar, tapi dia menarik tangan Lightly dan marah-marah sama Lightly, Rendi
gak terima, seburuk apapun Lightly, dia calon istri Rendi Tante”
“kamu,
Lee Jun Gi, kenapa kamu menarik tangan Lightly?”
“Omma,
aku udah bilang kan, Si Rena temennya Lightly tadi nyindirin aku, dia bilang
aku nyakitin Lightly, Omma, selama ini aku melakukan yang terbaik untuk
Lightly, tapi apa balasannya, dia pergi ke Malaysia tanpa pamit sama aku, saat
Amanda meninggal, dia gak dateng, padahal waktu Lee Chi Hoon meninggal, aku yang
nemenin dia, tiap hari aku antar jemput dia dari rumah ke tempat kerjanya dan
dari tempat kerja ke rumah, apa yang Lightly inginkan, aku kabulkan, tapi lihat
dia Omma, dia gak perduli sama aku.”
Wajah
Rendi kembali memerah. Dari tadi Rendi menahan Emosi yangbergejolak di dadanya,
Rendi tahu benar apa yangterjadi padaku 3 tahun yanglalu. Rendi tahu benar
bagaimana sakit yangaku terima karena pernikahan mendadak Lee Jun Gi dan
mendiang Amanda sepupu Rendi.
“apa
kamu bilang? Apa aku gak salah dengar? Lightly menyakiti kamu?"
Ucap
Rendi dengan wajah kesalnya. Dengan tangan yangmengepal dan siap memukuli Lee
Jun Gi, juga dengan fakta bahwa aku tak pernah menyakitinya.
“Rendi,
udah Ren, kamu gak boleh bertengkar lagi sama Jun Gi, gimanapun dia akan jadi
kakak iparmu nantinya dan kasian Tante Jae Ha”
Aku
mencoba menahan emosi Rendi yangsaat itu sudah meluap-luap dan Rendi siap untuk
membanting Lee Jun Gi dari Langit ke tanah seperti yangJun Gi lakukan padaku
dulu.
“sudah,
cukup. Jika kalian ingin bertengkar, bertengkar di luar, jangan di sini. Kalian
sama sekali tidak menghargai mendiang suamiku”
Tante
Jae Ha marah besar pada anaknya dan juga Rendi, calon mantunya. Aku mendekati
Rendi, aku bilang sudahlah, ini baru hari kedua Paman Jae Joon meninggal. Aku
mengajak Rendi untuk keluar kamar, Rena dan Thalitha meminta maaf atas
keributan yangmereka perbuat, aku memakluminya. Bagi Thalitha dan Rena, aku
adalah keluarga mereka, jadi sangat wajar jika Rena marah besar pada Lee Jun Gi
yang memberikan harapan palsu padaku.
Rendi
mengikutiku dari belakang untuk keluar rumah. Aku bermaksud untuk memberitahu
Rendi bahwa ia harus sabar menghadapi Lee Jun Gi, calon kakak iparnya. Tapi Lee
Jun Gi mengikuti kami dari belakang, ia memanggilku dan bersiap memarahiku
dengan muka ala anjing herder yang ia punya.
“Lightly”
Jun Gi berteriak memanggil namaku.
“Lee
Jun Gi, ada apa?” tanyaku
“eh
bocah, urusan kita belum selesai”
Rendi
membelaku, ia menghadapi Lee Jun Gi yangterlihat sangar.
“sampai
kapan kamu memanggil calon istriku ‘bocah’? dia bukan anak kecil lagi, usianya
sudah 26 tahun dan ia seorang psikolog.”
Lee
Jun Gi, tak memperdulikan Rendi yangmembelaku, Lee Jun Gi terus mendekatiku
hingga jarak 5 centimeter.
“Lightly,
berani-beraninya kamu memanggilku dengan sebutan nama? Dulu kamu memanggilku Oppa,
kamu Amnesia?”
“Lee
Jun Gi, maaf sekali aku gak mau ribut ini hari kedua paman meninggal bukankah
kita harus menghargai almarhum paman Jae Joon yangjuga ayah kamu. Aku juga
harus menghargai Tante Jae Ha yangjuga ibumu, maaf aku harus pulang”
“Lee
Jun Gi? aku sudah memberitahu kamu untuk memanggilku Oppa tapi kamu masih
memanggilku Lee Jun Gi. kurang ajar, aku membiayaimu setelah Lee Chi Hoon
meninggal, aku ada untuk kamu saat kamu down tapi apa yangaku dapat saat aku terpuruk
karena Amanda meninggal. Apa yangkamu lakukan saat aku membutuhkanmu?”
Aku
tak memperdulikan Lee Jun Gi, aku tinggalkan dia di teras sendirian, aku dan
Rendi bermaksud menaiki mobil yangdi parkir di depan gerbang rumah keluarga
Lee, tak lama terdengar suara Lee Jun Gi berteriak dan memakiku.
“Lightly,
kamu egois, dasar kamu gak tahu diri”
Mendengar
Lee Jun Gi memakiku, Rendi yangsudah masuk ke dalam mobil, keluar dari dalam
mobil dan berjalan cepat setengah berlari lalu aku mendengar suara “BUK”.
Kepalan tangan Rendi berhasil mendarat di pipi Lee Jun Gi. Aku berlari ke arah
Lee Jun Gi, bukan ke arah Rendi. Lee Jun Gi tersungkur, bibirnya berdarah dan
ada sedikit memar di pipinya.
Kegaduhan
yang di buat Rendi dan Lee Jun Gi membuat semua orang yangada di dalam rumah
keluar, ada yangmembantu Lee Jun Gi berdiri, ada juga yangmenenangkan Rendi.
“Lee
Jun Gi, kamu gak apa-apa?”
Ucapku
dengan khawatir. Tapi ia hanya menatapku sinis.
“kamu
bilang Lightly gak tahu diri, Lightly egois?”
Rendi
bersiap lagi memukul Lee Jun Gi tapi di tahan oleh Ryu Wan dan Se Jeong. Amarah
Rendi sudah tak bisa di tahan, Lee Jun Gi memakiku habis-habisan, tapi entah
kenapa aku membela terus si monster Tyrex ini daripada calon suamiku. Lee Ji
Hoon datang dari dalam rumah, ia awalnya bertanya pada Se Jeong tentang apa yangterjadi
denganku, Lee Jun Gi dan Rendi. Lalu Ji Hoon menghampiri kakaknya. Aku
mendengar pembicaraan mereka karena aku ada di samping Lee Jun Gi.
“Kak,
kenapa kakak sangat jahat pada Lightly?”
“aku?
Jahat? Heh Ji Hoon, apa kamu gak inget, waktu kakak iparmu meninggal dia gak
datang! Sementara waktu Chi Hoon meninggal, aku selalu ada untuknya”
“kak,
Lightly punya alasan kenapa dia gak bisa datang waktu itu, bukan hanya karena
dia sedang magang”
“lalu
apa? karena aku tolak cintanya mentah-mentah?”
“Kak,
Abang menitipkan Lightly bukan untuk kamu sakiti, tapi harusnya kamu jaga dia
baik-baik, harusnya waktu itu kamu menikahinya, meskipun kamu gak mencintainya,
hutang kita pada Lightly banyak”
Aku
tidak bisa diam saja melihat kakak beradik ini bertengkar. Aku mempunyai hutang
yangsangat besar pada Lee Jun Gi, hutang-hutang yang tak mampu aku bayar dengan
uang hasil kerja kerasku, hal yangdi ungkit Lee Jun Gi memang benar. Aku tak
ada untuknya saat ia membutuhkanku.
“Lee
Ji Hoon, cukup, kamu gak boleh bertengkar dengan kakakmu, aku mohon”
Aku
memohon pada Ji Hoon agar menyudahi pertengkarannya dengan Lee Jun Gi. tapi Ji
Hoon tak mendengarku, kali ini Lee Ji Hoon marah besar pada Lee Jun Gi, kakak
kandungnya.
“Lily,
aku sudah cukup berdiam diri membiarkan kamu sakit karena dia. Seharusnya aku
memberi tahu kakak sejak dulu kak, Lightly pergi karena kamu, kamu alasan
paling besar kenapa dia memutuskan pergi dengan Rendi. Lalu kamu menyalahkan
dia karena dia gak datang ke pemakaman istrimu, coba kamu pikir, perempuan mana
yangtahan melihat laki-laki yang sangat dia cintai bersedih untuk perempuan
lain? Kalau abang bisa bangkit dari kuburnya, dia pasti membunuh kamu”
Lee
Ji Hoon kemudian pergi meninggalkan Lee Jun Gi, kakaknya. Dengan seribu tanya,
Lee Jun Gi harus mencerna kata-kata Lee Ji Hoon yangpaling akhir. Ya, aku
sangat mencintainya hingga logikaku hilang. Perasaanku memakan Logikaku, Aku
tak pernah bisa berpikir kenapa aku sangat mencintai Lee Jun Gi?
Aku
pergi meninggalkan Lee Jun Gi dan Rendi mengantarku ke Appartement. Ingin
rasanya aku beristirahat tapi yangmerasa lelah hanya tubuhku, hatiku dan
pikiranku selalu tertuju pada Lee Jun Gi, aku mengingat lagi masa-masa suram
karena di tinggalkan Lee Chi Hoon yangberubah menjadi masa-masa indah karena
hidup dengan Lee Jun Gi atau biasa aku memanggilnya Oppa. Masa itu, masa-masa
aku jatuh cinta padanya, masa dimana aku bersandar terus di bahunya, masa
dimana kesedihan tentang Lee Chi Hoon berubah menjadi kekuatan yang diberikan
oleh Oppa. Dia malaikat tanpa sayapku, laki-laki yang selalu menuruti semua
keinginanku, laki-laki yangmencium keningku tanpa permisi dan dia Oppa, begitu
aku memanggilnya membuatku percaya dan jatuh cinta padanya.
Air
mataku jatuh lagi, tetes demi tetes hingga mengalir deras tanpa henti. Aku
merindukan Oppa dan malaikat tanpa sayapku, aku merindukannya, merindukan
kehadiran dan perhatiannya padaku. aku ingin di cintai lagi olehnya, meskipun
menurutnya itu bukan cinta. Cintaku yangbertepuk sebelah tangan dan aku masih
menginginkannya kembali. Oppa, malaikat tanpa sayapku hilang di telan bumi
setelah ia mengenal cinta dari Amanda, wanita cantik yangpintar dan berprofesi
sebagai seorang dokter. Ia menggadaikan cintaku demi kecantikan yangdi miliki
Amanda dan Ia melempar cintaku tanpa melihat betapa aku mempunyai TULUS dalam
cintaku.
Rendi
melarangku berkunjung lagi ke rumah keluarga Lee untuk beberapa saat, Rendi
hanya ingin Tante Jae Ha tenang dulu dan tidak lagi membebaninya.
Peretengkarannya
dengan Lee Jun Gi di hari ke dua Paman meninggal pasti meninggalkan sakit yangdalam
bagi Tante Jae Ha dan Rendi sangat memikirkannya.
Sejak
pertengkarannya dengan mantan Kakak Iparku hari itu, Lee Jun Gi menjadi musuh
bebuyutan bagi Rendi. Iklan pakaian Kemeja Laki-laki yangbaru di Launching oleh
SmF langsung di tolak oleh Rendi, ia tak mau lagi berurusan dengan Lee Jun Gi
kecuali dengan satu hal, surat pernyataan Lee Jun Gi yangdi tujukan kepada
hakim. Surat itu di perlukan sebagai tanda Lee Jun Gi setuju akan pernikahanku
dengan Rendi dan meminta hakim
menikahkanku dengan Rendi lalu memindahkan status waliku pada Rendi. Untuk
memiliki surat pernyataan itu, Rendi harus membujuk Lee Jun Gi habis-habisan,
apalagi setelah kejadian pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.
Tante
Jae Ha meneleponku, katanya ini sudah hari ke 29 paman meninggal dan aku belum
muncul lagi di hadapannya. Menurutnya, aku tak perlu khawatir akan Lee Jun Gi,
ia sudah jinak sekarang meskipun aku yakin sih dia masih memebenciku dengan
alasan yangsama. Karena aku tak hadir di pemakaman Amanda dan karena aku tak
ada di sampingnya saat hari-hari sulit yangJun Gi lewati tanpa Amanda.
Padahal
benar apa yangLee Ji Hoon katakan waktu itu, saat Lee Jun Gi di pukuli oleh
Rendi, aku tak akan sanggup melihat laki-laki yangaku cintai menangisi
perempuan lain. Aku tak bisa melihat Lee Jun Gi menangisi Amanda, bagaimana
rasanya jika Lee Jun Gi menjadi aku? Pasti ia juga tak akan kuat melihat
perempuan yangia cintai menangisi pria lain.
Aku
mengunjungi Tante Jae Ha setelah beberapa jam ia menelaponku, aku membawa
martabak asin untuk suguhan tahlilan yangtidak berhenti dari hari pertama Paman
meninggal sampai hari ke 29 hari ini.
Aku
sangat bersyukur pada warga komplek Buah Batu Indah Regency, tempat keluarga
Lee tinggal karena mereka sangat memperhatikan keluarga angkatku. Mereka secara
bergantian memasak untuk makan ibu angkatku dan kedua saudara angkatku juga
memasak untuk menjamu tamu-tamu yangdatang berbela sungkawa pada Tante Jae Ha
atas kepergian Paman Jae Joon.
Aku
kehilangan Pamanku, paman yangsudah aku anggap sebagai ayahku sendiri, Paman yangselalu
ada untukku. Bahkan saat aku akan pergi ke Malaysia, Paman masih memberiku uang
saku, katanya ini untuk jajanku di sana, jumlahnya tak besar hanya saja aku tak
bisa melupakan moment terakhirku bertemu dengannya sebelum ia sakit dan
meninggal dunia.
Aku
bertemu Lee Jun Gi, ia tak membahas lagi ketidak hadiranku di pemakaman Amanda
dan ketidak hadiranku saat ia down karena di tinggal mati istinya, dokter
spesialis anak Amanda Verenial Ghonshon. Tapi muka garangnya masih ia tunjukan
padaku. ia juga tak menegurku dan akupun sama. Jika di pikir memakai logika,
betapa sakit hatinya aku saat Lee Jun Gi menyebutku perempuan tidak tahu diri
tapi lagi-lagi perasaan membunuh logikaku, hatiku masih berdegup dengan kencang
sama seperti ketika aku pertama kali menyadari bahwa aku mencintainya 3 tahun
lalu.
Seperti
halnya malam ini saat kami membagikan hidangan kepada warga yangmenghadiri
tahlilan Paman Jae Joon di hari ke 31. Ia tak menerima hidangan yangaku
estafetkan padanya, ia menghindari hidangan yangaku estafetkan dan menerima
hidangan yangdi estafetkan oleh Kim Ryu Wan.
Oke,
baiklah aku salah karena tak menghadiri pemakaman Amanda, istrinya. Aku juga
tidak ada saat Lee Jun Gi menghadapi hari-hari beratnya tanpa Amanda. Sedangkan
ia selalu ada saat aku di tinggalkan oleh adiknya, calon suamiku saat itu, Lee
Chi Hoon. Tapi jika aku menagih hal yangsama padanya akankah dia menerima?
Kemana Lee Jun Gi saat aku jatuh cinta padanya? Apa yangLee Jun Gi lakukan
ketika Amanda merebut posisiku? Di mana Lee Jun Gi saat hatiku remuk
berkeping-keping olehnya?
Dia
muak padaku? aku juga sama, aku muak padanya. Tapi aku tak bisa menunjukannya,
aku masih punya cinta yangtulus untuknya. Yang lagi-lagi meredam semua emosiku.
Aku tak bisa seperti Lee Jun Gi yangmenunjukan kemuakannya padaku karena ada
cinta di hatiku yangmenahannya.
Lee
Jun Gi tak cinta padaku? aku tahu, tak perlu dia menggembor-gemborkan pada
semua orang dan membuat orang-orang mengasihaniku. Aku marah pada Lee Jun Gi,
marah sekali. Ia seperti tidak ikhlash membiayaiku setelah Lee Chi Hoon
meninggal. Padahal aku tak pernah meminta dia untuk menjadi waliku. Aku juga
tak pernah meminta dia untuk mencintaiku dan aku juga tak pernah membalas semua
hal yangia lakukan untuk menyakitiku.
Aku
selalu ingat kisah nabi Muhammad S.A.W, ia tak pernah marah jika ada orang yangmembencinya
bahkan ketika orang itu melemparkan batu dan kotoran yangmembuat sebagian
tubuhNYA luka dan kotor. Nabi Muhammad malah merasa kehilangan ketika orang
yahudi yangmelemparinya batu dan kotoran itu tidak ada. Beliau bertanya, kemanakah
orang yangselalu melempariku batu dan kotoran? Kemudian yanglain berkata orang
itu sedang sakit dan Nabi Muhammad menjenguknya. Kisah inspiratif yangbisa aku
contoh dari Nabiku.
Aku
memang tidak semulia nabi Muhammad S.A.W tapi aku mencoba untuk meniru pola
hidupnya yangsyarat akan makna dan ilmu bagi muslimah yangbelum bisa
mengamalkan apapun seperti aku. Begitu pun dengan kejadian Lee Jun Gi yangtiba-tiba
marah padaku, alasannya memang bukan alasan sepele tapi bukankah dia bisa
menanyakannya dengan baik-baik? Bukan marah-marah seperti ini.
Melihat
sikap janggal yangaku terima dari Lee Jun Gi, Tante Jae Ha memanggil aku dan
Lee Jun Gi untuk memperjelas masalah ini. Ia memintaku duduk di meja makan
beserta Lee Jun Gi. kami bertiga berbicara hal-hal aneh yangaku terima dari Lee
Jun Gi sejak pertama kali aku bertemu dengannya.
“Jun
Gi, omma mau bertanya, kenapa sikap kamu kasar sekali pada Lightly?”
Tante
Jae Ha memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang ia ajukan untuk Lee Jun Gi,
anaknya.
“Omma,
aku ga terima jika aku di tuding menyakiti Lightly, dia yangpergi
meninggalkanku waktu aku baru menikah dengan Amanda dan dia gak datang waktu
Amanda meninggal. Jika alasannya Lightly sedang magang aku bisa ngerti, tapi
gak bisakah dia izin untuk menjenguk saudaranya yangmeninggal? Atau minimal
datanglah saat dia libur kuliah, kalau gak bisa datang ke Australia datanglah
ke Indonesia. Tapi dia ga nunjukin batang hidungnya. Dia baru muncul setelah 2
tahun Amanda meninggal.”
“Lightly,
apa alasan kamu tidak datang saat Amanda meninggal? Tante juga kepingin tahu
alasannya”
“Jun
Gi dan Tante Jae Ha. Maaf kalau aku ga datang saat Amanda meninggal. Aku hanya
gak tega melihat kalian bersedih itu aja”
“Lightly,
kamu yakin hanya itu alasannya? Ga ada yang lain?”
“ada
sih Tante, tapi aku gak mau bicara disini.”
“gak
apa, bicara saja Lightly, Tante ingin dengar”
“hmm..
saat itu aku masih punya rasa yang special sama Oppa, jadi aku gak bisa lihat
dia sedih. Aku pasti marah sama diriku sendiri kalau aku membiarkan Oppa
menangis. Lagipula, ada atau gak ada aku kan sama aja Tante”
Aku
terdiam setelah menjelaskan perasaanku yangmenghalangi kedatanganku ke
pemakaman Amanda, Tante Jae Ha dan Lee Jun Gi pun sama. Air mataku kembali
berjatuhan tapi tak deras seperti kemarin. Aku menyusut air mataku dengan
tanganku, Tante Jae Ha mengusap bahuku. Sakit yangaku rasa 3 tahun yanglalu
muncul lagi. Dan ini pertama kalinya aku menangis di hadapan Lee Jun Gi. Tak
berapa lama Rendi Gunadi Khan, calon suamiku datang dan melihatku menyusut air
mata.
“Assallamu’alaikum,
Lightly, Tante”
Rendi
masuk ke dalam rumah dan menghampiri kami yangada di ruang makan. Aku memang
menyuruhnya menjemputku karena aku tak membawa mobil, mobilku sedang di service
di bengkel dan aku menggunakan Taxi dari Rumah Sakit menuju rumah Keluarga Lee.
“oh,
nak Rendi mari masuk dan duduk di sini”
Sahut
Tante Jae Ha, menyuruh Rendi untuk duduk bersama aku dan Lee Jun Gi. Tempat
duduk kami berhadap-hadapan. B*STAR juga ikut bergabung duduk bersama kami.
Mereka bertanya kenapa aku menangis lagi.
“Lightly,
kamu menangis? Kenapa?”
Sahut
Rendi padaku, ia melihatku menangis lagi setelah 2 tahun aku menghentikan
tangisanku di hadapannya. Selama 2 tahun di Malaysia, aku tak pernah meneteskan
air mata di hadapan Rendi. Aku juga tak pernah menyebut nama Lee Jun Gi di
hadapan Rendi, semuanya aku lakukan demi menghargai Rendi yangmencintaiku
dengan tulus.
“ah.
Aku Cuma sedih inget sama Paman Jae Joon”
“Bohong,
Lily menangis karena Kakak”
Ucap
Lee Ji Hoon.
“Benar
Lightly?”
Rendi
bertanya padaku, tapi aku tak menjawabnya aku hanya diam. Hanya diam yang bisa
aku lakukan sampai Rendi menanyai semua orang yang ada di sekitarnya.
“ada
apa dengan calon istriku? Kenapa dia menangis lagi?”
“nak
Rendi, ini bisa di jelaskan baik-baik. Anak Tante yang salah. Biar Tante yang menghukumnya”
“karena
Lee Jun Gi lagi? Calon istriku menangis lagi karena dia? Hey Lee Jun Gi, belum
puaskah kamu menyakitinya waktu itu? Sekarang kamu sakiti dia lagi”
“hhh..
coba jelaskan apa salahku pada Lightly? Rendi kamu calon suaminya, kamu tahu
siapa yangmembiayai Lightly setelah adikku meninggal? Aku. Aku yang membiayainya
dan aku selalu ada untuknya. Sekarang sebutkan apa salahku pada Lightly?”
Sembari
sinis, Lee Jun Gi mencoba membela diri di hadapan Rendi.
“
Fine, kamu membayar semua kebutuhan Lightly sejak Lee Chi Hoon meninggal hingga
Lightly berada di Malaysia bersamaku. Tapi tahukah kamu, Lightly gak pernah
menggunakan uang darimu sepeserpun. Sejak kamu menyakitinya dengan cara
menikahi Amanda tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Kamu menikahi Amanda 1
minggu setelah Lightly menyatakan cintanya dan kamu tolak cintanya
mentah-mentah. Kamu bilang Lightly masih kecil hingga kamu gak bisa
menikahinya. Lalu jika bukan kamu, siapa penyebab Lightly menderita Psikosomatis
selama 1 tahun lamanya?”
Lee
Jun Gi terperangah mendengar penjelasan Rendi calon suamiku. Rupanya ia baru
tahu jika aku mengidap Psikosomatisyangbaru hilang setelah aku mengalaminya
selama 1 tahun. Aku hanya diam tak berkomentar apapun. Biarlah, biar Lee Jun Gi
tahu bagaimana aku menghadapi cinta bertepuk sebelah tangan yangia berikan
untukku dengan cara memberiku harapan-harapan palsu.
“nak
Rendi, apa Tante gak salah dengar? Lee Jun Gi menikah tanpa memberitahu
Lightly? tapi waktu itu Jun Gi bilang dia sudah memberitahu semuanya termasuk
Lightly. Tante gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi? Lightly menyatakan cinta
pada anak Tante? Begitu maksudnya?”
“iya
Tante, Lightly pernah menyatakan cintanya pada Lee Jun Gi 1 minggu sebelum
pengumuman pernikahan Lee Jun Gi dan Amanda muncul di media massa dan media
social. Lightly gak tahu apa-apa. Waktu itu, Lightly sedang bekerja denganku di
klinik. Setelah cintanya di tolak, tubuhnya gak mau menerima makanan apapun.
Lalu satu minggu setelah cintanya di tolak, Lee Jun Gi mengumumkan
pernikahannya dengan sepupuku Amanda. Dan setelah itu Lightly mengidap Psikosomatis
atau penyakit pikiran. Setiap Lightly memikirkan Lee Jun Gi dan sakit hatinya
terulang kembali, Lightly pasti sesak nafas. Saksi Lightly mengidap sakit Psikosomatis adalah Lee Ji Hoon. Dan kenapa Lightly jatuh
cinta pada Lee Jun Gi? karena Lee Jun Gi memberi harapan palsu pada Lightly dan apa penyebab
Lightly pergi dari sini? karena Lightly juga gak mau satu rumah dengan Amanda”
Mengetahui
apa yang sebenarnya terjadi dari Versi aku dan Rendi 3 tahun lalu. Tante Jae Ha
memukuli Lee Jun Gi dengan kedua tangannya. Tak cukup dengan itu, Tante Jae Ha
juga berteriak dan mengancam membunuh Lee Jun Gi. Melihat Tante Jae Ha memarahi
Lee Jun Gi habis-habisan, aku tak bisa diam begitu saja. Aku tak mau hanya
karena aku, keluarga ini jadi pecah belah.
“kurang
ajar kamu Jun Gi, dasar bedabah. Kamu pikir kamu siapa? sampai hati kamu menolak
cinta Lightly. Andai Omma tahu waktu itu Lightly menyatakan cintanya sama kamu,
Omma gak akan merestui pernikahan kamu dengan Amanda. Omma pikir Lightly hanya
memendam rasa cinta biasa yang gak pernah dia ungkapkan sama kamu. Jun Gi,
memangnya kamu bisa seperti ini karena siapa? Kamu memang mendapat beasiswa
dari Asian Fashion Design and Model Univercity Singapore. Tapi disana kamu gak
punya tempat tinggal. Ibu Lightly yang mengusahakan agar kamu dapat tinggal di
Appartement milik sahabatnya dengan biaya murah. Kamu pikir dari mana Omma dan
Appa bisa mengirimi kamu uang untuk hidup disana selama hampir 3 tahun? Ibu
Lightly yang membantu Omma dan Appa. Kalau bukan karena dia kamu gak akan bisa
jadi seperti ini Lee Jun Gi.”
Tante
Jae Ha menangis, ia mengingat jasa ibuku. Lalu Tante Jae Ha memukuli Lee Jun Gi
lagi, kali ini dia malah melempar vas bunga kecil pada anaknya. Tapi aku
berhasil menghalanginya, menghalangi lemparan vas bunga kecil itu mengenai
tubuh Lee Jun Gi, aku menghalangi
lemparan vas bunga itu dengan badanku. Aku berhasil melindungi Lee Jun Gi dari
amukan ibunya sendiri dan vas bunga itu mengenai tubuhku lalu pecah jatuh ke
lantai.
“aww..
Tante sakit”
“Lightly
minggir, biar Tante bunuh dia, dasar anak kurang ajar”
“Tante
cukup, jangan pukulin Jun Gi lagi. Dia anak Tante. Lagipula aku juga salah
Tante, bukan salah Jun Gi sepenuhnya.”
“sampai
kapan kamu mau membela dia terus Lightly, dia anak kurang ajar”
“Tante
cukup. Aku mohon cukup. Aku yangsalah Tante, aku yangsalah, jangan pukulin lagi Lee Jun Gi Tante aku mohon”
Aku
menangis sejadi-jadinya, aku sedih. Sedih karena hanya Tante Jae Ha, Lee Jun Gi
dan Lee Ji Hoon satu-satunya keluarga aku di dunia saat ini. Aku tak punya
siapa-siapa lagi. Akan runyam jadinya jika mereka bermusuhan satu sama lain
hanya karena Aku.
Tante
Jae Ha pingsan, ia di angkat oleh Rendi dan Kim Ryu Wan ke kamar. Sedangkan Lee
Ji Hoon, Se Jeong dan Daniel menenangkanku dan Lee Jun Gi. Aku mengusulkan agar
Tante Jae Ha di rawat di rumah sakit karena beban yangsatu persatu muncul, dia
harus banyak istirahat.
“Ji
Hoon, bawa saja Tante ke Rumah Sakit. biar dia istirahat di sana. Dan jangan
ada lagi yangmembahas tentang aku dan Oppa 3 tahun yang lalu di hadapan Tante.”
Saranku
pada Ji Hoon
“iya
Lily, akupun berpikir seperti itu”
Lee
Ji Hoon setuju jika ibunya di rawat di rumah sakit sesuai saranku. Aku
memanggil 2 orang biang kerok pingsannya Tante Jae Ha. Rendi dan Lee Jun Gi.
“Rendi,
Lee Jun Gi ikut aku”
Aku
meminta mereka mengikutiku. Aku marah besar pada Lee Jun Gi juga Rendi, calon
suamiku. Aku membawa mereka ke kamar yangaku huni dulu. Kamar yangmenjadi saksi
sakitnya aku karena Lee Jun Gi. kamar yangsekarang sudah berubah fungsi menjadi
Gudang. Tempat barang-barang yang tak terpakai di simpan.
“Puas
kalian membuat ibu angkatku pingsan? Lihat apa yang kalian lakukan?”
Aku
memarahi mereka. Aku memarahi dokter spesialis anak terbaik di Asia dan aku
memarahi Fashion Designer terbaik dunia.
“Lightly,
aku hanya kesal pada Lee Jun Gi. maksudku, aku hanya memberitahu Lee Jun Gi,
apa yang terjadi waktu itu”
Bela
Rendi pada dirinya sendiri.
“kamu,
Lee Jun Gi, puas bikin ibu kamu pingsan kayak gini?”
“Lightly,
ini semua Rendi yang buat, kalau dia bermasalah sama aku, cukup kasih tahu aku
secara pribadi gak perlu di depan Omma”
Aku
menghela nafasku, mereka si biang kerok tak ada yang mau di salahkan dan mereka
membela diri mereka masing-masing.
“jangan
pernah ada lagi yangmembahas kisah cinta aku sama Oppa 3 tahun lalu di depan
Tante Jae Ha. Kalau sampai salah satu dari kalian ada yang membahas lagi
tentang aku dan Oppa di depan Tante Jae Ha, aku bunuh kalian. Ngerti!”
Lee
Jun Gi dan Rendi seperti shock melihat aku marah-marah. Siapa yangberani
marah-marah sama mereka selain aku? Aku tak pernah meluapkan emosiku seperti
tadi, sekalipun itu hal yangmembuatku sakit. Aku sangat kesal pada mereka
berdua. Hal yangharusnya bisa aku redam akhirnya meluap juga. Kali ini aku
gagal meniru Nabiku, Nabi Muhammad S.A.W dalam mengelola amarah. Ada penyesalan
setelah amarahku meluap, menyesal karena aku tak bisa mengendalikan emosiku dan
menyesal karena aku memarahi Lee Jun Gi
kakak angkatku dan Rendi, calon suamiku.
Tante
Jae Ha di bawa ke Rumah Sakit Ahmad Dahlan. Ia di rawat di kelas VIP ruang Dewi
Sartika. Sebetulnya Tante Jae Ha menolak untuk di rawat apalagi di rawat di
rumah sakit tempat suaminya, Paman Jae Joon meninggal. Tapi kita tidak punya
pilihan lain.
Rumah
Sakit paling dekat dari rumah adalah Rumah Sakit Ahmad Dahlan dan di Rumah
Sakit itu aku praktek sebagai psikolog. Jadi akan memudahkan bagiku untuk menjenguk
Tante Jae Ha bergantian dengan Jun Gi dan Ji Hoon.
Aku
berpamitan pulang pada Tante Jae Ha, Ji Hoon dan Jun Gi. Aku akan pulang ke
Appartementku di antar oleh Rendi. Tapi Tante Jae Ha memintaku untuk tinggal di
sana beberapa saat lagi. Aku menolak karena besok aku harus mengantar Rendi ke
Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Rendi akan pulang ke Malaysia. Dia akan praktek
lagi di sana sebagai dokter Anak di Rumah Sakit Penang, Malaysia.
“Lightly,
tinggalah beberapa saat lagi di sini. Tante ingin di temani sama kamu”
Ucap
Tante Jae Ha.
“Tante,
aku ingin sekali menemani Tante di sini, tapi besok pagi-pagi sekali aku harus
mengantar Rendi ke Bandara. Waktu cuti Rendi sudah habis, dia harus kembali
praktek di Malaysia.”
“oh,
baiklah. Tapi kamu janji ya, pulang dari Bandara ke sini lagi.”
“iya
Tante, aku janji.”
Aku
pun pergi meninggalkan Tante Jae Ha dengan dua anak laki-lakinya di rumah
sakit. Dan ada yangberbeda dari Lee Jun Gi, saat aku pamit padanya, ia
tersenyum manis padaku. Sangat manis, sampai jantungku tak berhenti bergetar.
Ah.. aku harus sadar, aku punya Rendi Gunadi Khan, si dokter Anak yang sangat
pintar dan kaya raya karena 3 pekerjaannya sekaligus. Aku yakin Rendi punya
rasa cinta yang lebih dari Oppa padaku. Meski kita jarang bertemu.
“Lightly,
kamu yakin, mau balik lagi ke Rumah Sakit besok?”
“iya
lah Ren, besok lusa aku praktek seperti biasa di sana, lagipula Tante Jae Ha di
rawat di Rumah Sakit Ahmad Dahlan, masa iya aku gak jenguk”
“tapi
Lightly, di sana ada Lee Jun Gi”
“terus
kenapa?”
Rendi
menepikan mobilnya ke pinggir jalan, kebetulan jalan Pelajar Pejuang, tak macet
seperti biasanya.
“Rendi,
kok berhenti?”
“Lightly,
aku gak bisa pura-pura gak tahu kalau Lee Jun Gi itu Oppa. Dia Malaikat tanpa
sayapmu”
“Ren,
Lee Jun Gi ya Lee Jun Gi, Oppa ya Oppa. Aku udah bilang sama kamu dari dulu,
dari sejak kita selesai tunangan. Oppa udah gak ada, dia udah mati. Bagiku dia
sudah mati di telan bumi setelah kenal dengan sepupumu, Amanda”
“Lightly,
tapi aku gak bisa nerima kamu terus ketemu Lee Jun Gi, ikutlah denganku lagi ke
Malaysia. Pindahkan praktekmu ke Rumah Sakit Penang, Malaysia. Kuliah S3 mu
juga pindahkan ke Sana.”
“Ren,
aku ke sini bukan untuk Lee Jun Gi, aku kesini untuk ibu angkatku. sudah satu
bulan pamanku meninggal. Dan sekarang Tante Jae Ha di rawat di Rumah Sakit.
Kamu pikir, kenapa Tante Jae Ha bisa di rawat di rumah sakit? itu karena kamu!
Bukankah kamu berjanji gak akan membahas lagi masalah ini ke permukaan. Lihat
apa yang kamu lakukan pada ibu angkatku? Dan karena kamu juga Lee Jun Gi jadi
tahu gimana sakitnya aku waktu itu.”
“ok,
Lightly, aku minta maaf soal itu. Tapi aku gak rela kamu bertemu dengan Lee Jun
Gi lagi”
“terus
aku harus gimana? Ibu angkatku adalah ibu Lee Jun Gi. Yang bisa aku lakukan
sekarang adalah menutup mata dan menghindari kenyataan bahwa Lee Jun Gi adalah
Oppa yang menyakitiku. Dia malaikat tanpa sayapku. Maaf Ren, aku melakukan ini
semua demi ibu angkatku. Aku gak bisa ikut kamu”
“udah
aku duga, kamu pasti gak bisa ninggalin Lee Jun Gi. pelan-pelan kamu pasti
jatuh cinta lagi sama dia”
“Ren..!!
aku tunangan kamu, 3 bulan
lagi kita menikah. sekarang sudah bulan desember.
Kita menikah bulan maret. Plase percaya sama aku”
“baiklah,
aku akan tetap ke Malaysia. Di sana aku akan meneleponmu sehari 3 kali. Dan aku
akan mengurus perpindahan praktekku dari Malaysia ke Indonesia. Dan jangan
coba-coba jatuh cinta pada Lee Jun Gi, kalau kamu berani jatuh cinta lagi
padanya. Lee Jun Gi taruhannya.”
Aku
menghentikan perdebatan panjang ini dengan cara mengiyakan semua keinginan
Rendi. termasuk keinginannya meneleponku sehari 3 kali. Rendi berubah total, ia
menjadi posesive setelah dia tahu aku bertemu lagi dengan Lee Jun Gi. Seperti
hari ini, Rendi mencoba mengaturku untuk tidak lagi bertemu Lee Jun Gi dengan
memintaku untuk kembali pindah ke Malaysia. Jujur, aku tak ingin meninggalkan
Indonesia saat ini. Yang aku khawatirkan hanyalah Tante Jae Ha. Ia baru
kehilangan suaminya lalu ia sakit dan terbaring di Rumah Sakit.
Esoknya,
Rendi pergi ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan jasa travel. Entahlah mungkin
dia marah karena aku harus bolak-balik Rumah Sakit menjenguk Tante Jae Ha dan
pasti bertemu Lee Jun Gi. Aku menyelesaikan Praktekku dulu baru mengunjungi
Tante Jae Ha.
Saat
aku membesuk Tante Jae Ha sore hari, Lee Jun Gi masih berada di sana. Dia setia
menemani ibunya. Lee Jun Gi hanya pulang untuk berganti pakaian dan kembali
lagi ke rumah sakit. Tante Jae Ha sedang tidur saat aku datang.
Lee
Jun Gi, ia menyambutku dengan senyuman hangat dan sapaan yang tak pernah Aku
lihat selama 3 tahun belakangan ini. Senyuman itu mengingatkanku pada Oppa,
Malaikat Tanpa Sayapku. Sekuat apapun aku menghindar dari kenyataan, aku tak
bisa berbohong pada hatiku. Lee Jun Gi adalah cintaku yang bertepuk sebelah
tangan. Ia adalah harapan kosong yang menyelimutiku dengan keyakinan bahwa Ia
mencintaiku. Ia malaikat tanpa sayapku. Sekarang ia ada di hadapanku.
“Lightly,
kamu udah datang.”
Sapa
Jun Gi padaku.
“oh,
ya Jun Gi, Gimana keadaan Tante Jae Ha?”
“Omma
baik-baik aja, kalau sakit kepalanya udah berhenti, Omma boleh pulang besok”
“
Allhamdullillah, mudah-mudahan Tante Jae Ha segera pulih lagi”
“Amiin,
Lightly aku mau bicara sebentar sama kamu boleh?”
“oh,
tentu boleh ada apa?”
“soal
kemarin maaf aku gak tahu kalau kamu pergi ke Malaysia karena aku”
“ah..
gak apa-apa Jun Gi, itu masa lalu. gak perlu di bahas lagi”
“Aku
menonton acara pertunanganmu dengan Rendi. selamat ya”
“oh
iya. Iya terimakasih”
“maaf
tapi kenapa kamu gak memanggilku Oppa? Dulu Kamu selalu memanggilku Oppa.”
“ah
aku minta maaf, aku gak bisa manggil kamu dengan sebutan itu lagi. Rendi akan
marah besar kalau aku memanggil kamu dengan sebutan itu. Jadi mohon
pengertiannya.”
“oh
ya gak apa-apa Lightly, aku ngerti.”
“terima
kasih Jun Gi”
Aku
mulai terbiasa memanggil dia hanya dengan sebutan nama. Selama Tante Jae Ha
sakit hampir setiap hari aku bertemu Jun Gi di rumah maupun di rumah sakit. Dan
di setiap pertemuan, hampir selalu ada pembicaraan. Termasuk pembicaraan
tentang perasaanku padanya 3 tahun lalu. Sebisa mungkin aku menghindarinya.
Tapi pertanyaan itu selalu muncul kalau aku sedang bersama Lee Jun Gi di
manapun kita berada.
“Lightly,
Tante ingin sekali jalan-jalan sama kamu”
Ujar
Tante Jae Ha padaku.
“iya
Tante, kalau Tante mau Lightly bisa antar Tante ke manapun Tante mau pergi”
“Lightly,
bagaimana kalau kita ke Lembang, Lee Jun Gi punya villa di sana. Tante ingin
sekali memetik buah harum manis yang di tanam di sana. Udah sekitar 2 tahun
Tante gak ke sana Lightly. Sejak Amanda meninggal”
Tante
Jae Ha memintaku untuk pergi ke Villa milik Lee Jun Gi yang ada di Lembang.
Dulu, aku juga pernah ke sana. Setelah bangun dari koma. Ya. Aku ingat, dulu
pertama kali aku jatuh cinta pada Lee Jun Gi di Villa itu. Di Villa itu juga
Lee Jun Gi menelepon lagi Amanda dan rasanya hatiku sakit. Rasa yang dulu aku
elak, kini datang lagi. Ahh.. aku bingung bagaimana mungkin aku menolak ajakan
Tante Jae Ha. Meski agak berat hati, aku iyakan saja ajakannya.
Kita
tak akan pernah tahu usia manusia, aku menerima ajakan Tante Jae Ha karena
pertimbangan itu. Jodoh, Mati, Rezeki itu hak Allah. DIA yang memberikan semua
itu tanpa campur tangan manusia. Begitu juga dengan usiaku atau dengan usia
Tante Jae Ha, aku tak tahu apakah ini permintaan terakhirnya? Jadi aku iyakan
saja ajakannya. Karena bagaimanapun Tante Jae Ha adalah ibuku. Aku harus
menomor satukan keinginannya.
Seperti
yang di ucapkan Nabi Muhammad pada seseorang yang bertanya “kepada siapakah
kita harus berbakti?” dan Nabi Muhammad berkata “yang pertama kita harus
berbakti kepada Ibu, yang kedua berbakti kepada Ibu dan yan gketiga berbakti
kepada Ibu. Setelah itu baru berbakti pada Ayah”
Nabi
Muhammad menomor satukan seorang ibu. Dan itu yang aku lakukan saat ini pada
Tante Jae Ha. Meskipun Tante Jae Ha bukan ibu kandungku, tapi ia segalanya
bagiku. Aku harus menomor satukan beliau di atas segala-galanya. Dan ia akan
tetap menjadi ibuku meskipun aku tidak menikah dengan Anaknya.
Aku
Whats App Lee Jun Gi, ini pertama kalinya aku menghubungi dia setelah
bertahun-tahun aku tak menelepon dan tak berkirim Whats App dengannya.
“Jun
Gi, Tante Jae Ha ingin liburan ke Villa Lembang. Gimana?”
Tapi
Whats App itu hanya di Read tak di balas. Aku juga mengirim pesan Whats App
pada Lee Ji Hoon. Pesan yang sama seperti yang aku kirimkan pada Lee Jun Gi dan
Lee Ji Hoon membalasnya.
“aku
siap kok Lily, B*STAR gak ada Tour bulan ini. ini akhir tahun. Kita gak terima
Job tahun baru”
Begitu
isi pesan Lee Ji Hoon padaku. Tapi Lee Jun Gi, sudah 3 jam aku menunggu pesan
whats app ku di balas. Tapi pesan itu hanya di Read. Jengkel karena aku harus memberi tahu
keputusan Lee Jun Gi pada Tante Jae Ha. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon
Lee Jun Gi.
“hallo
Lightly”
“hallo
Jun Gi, kenapa sih aku Whats App gak di bales. Di Read doang. Aku harus ngasih
tahu Tante Jae Ha soal liburannya ke Villa. Kamu kan yang punya Villa itu.”
Lee
Jun Gi terkekeh-kekeh. Aku mendengarnya dengan jelas dia tertawa.
“Lightly,
aku kangen kamu ngomel-ngomel. Dunia aku tuh sepi banget tanpa omelan kamu”
“eh
Jun Gi, jangan macem-macem. Aku bisa laporin ini sama Rendi, tiap hari Rendi
neleponin aku. Kalau aku bilang kamu godain aku, bisa mati kamu di tangan dia”
“coba
aja kamu laporin sama dia. Aku rela mati kok demi kamu.”
“iiihhh..
Lee Jun Gi, awas ya kalau ketemu aku bejek-bejek kamu nanti.”
Lee
Jun Gi terus menggodaku. Dia seakan lupa dosa apa yang ia buat padaku. sakit
apa yang dia beri untukku. Aku tak pernah membahas kesalahannya dan rasa
sakitku. Aku terus berpikir asalkan dia bahagia aku rela jadi bahan olokannya. Ya..
mungkin aku masih mencintainya, masih ingin memilikinya. Meski rasanya itu tak
mungkin. Tak mungkin karena pernikahanku dengan Rendi Gunadi Khan, calon
suamiku akan segera di gelar. Meski Lee Jun Gi akhirnya jatuh cinta kepadaku,
aku tak akan pernah bisa memilikinya.
Jatuh
cinta? Rasanya Lee Jun Gi tak mungkin jatuh cinta padaku. Karena tetap saja
standar perempuan yang ia sukai adalah mendiang istrinya. Amanda Verenial Ghonshon.
Yang aku dengar dari Tante Jae Ha, ada
banyak perempuan yang mendekati Lee Jun Gi dari gadis hingga janda. Memang
sepeninggal Amanda, Lee Jun Gi jadi incaran nomor satu bagi perempuan-perempuan
di dunia. Siapa yang tak mau bersanding dengan Lee Jun Gi. Pemilik Perusahaan
Star Multy Fashion yang ada di 5 negara. Fashion Designer ternama dunia yang membuat
khusus baju-baju panggung para artis dunia seperti Lady Gaga, Taylor Swift,
AgnezMo hingga Justin Bieber. Itu belum seberapa, Lee Jun Gi meluncurkan produk
baru dari mulai pakaian anak-anak, pakaian Laki-laki seperti kemeja dan Pakaian
wanita. Dari mulai pakaian anak-anak ABG, dewasa sampai ibu hamil.
Brand
pakaian itu berlabel SmF, Brand yang telah mendunia dan outletnya menyebar di
penjuru asia. Iklan Brand SmF untuk pakaian laki-laki, ditawarkan pada calon
suamiku. Rendi Gunadi Khan. Tapi Rendi menolak mentah-mentah tawaran itu
meskipun bayarannya lumayan.
Rendi
tak mungkin mau bekerja sama dengan Lee Jun Gi, musuh bebuyutan Rendi adalah
Lee Jun Gi. Meskipun setelah aku dan Rendi menikah nanti dan Lee Jun Gi menjadi
kakak iparnya, akan ada kemungkinan Rendi tak akan menganggapnya. Rendi tahu
benar rasa sakit yang aku rasakan saat itu dan dia tahu bagaimana usaha kerasku
untuk move on dari Lee Jun Gi. Aku menerima pinangan Rendi tanpa berpacaran,
kami melakukan Ta”aruf. Selama di Malaysia, aku jarang bertemu Rendi karena
kesibukannya sebagai dokter dan artis. Ia harus bolak-balik Malaysia dan
Indonesia. Kadang ia juga harus bolak-balik Malaysia-Australia untuk menjenguk
Paman dan Tantenya yang juga orangtua dari Amanda.
Dalam
1 bulan, aku hanya bisa bertemu dengan Rendi 1 kali. Karena itulah kita tak
pernah berpacaran. Setelah Lee Jun Gi menyakitiku, aku tak pernah jatuh cinta
pada pria lain termasuk pada Rendi. Rendi mengungkapkan keinginannya untuk
meminangku setelah gelar profesornya ia raih dengan nilai cumlaude.
Aku
menyetujui pinangannya karena satu hal, Rendi pria yang baik dan ia menjalankan
perintah Allah dengan shalat 5 waktu, mengaji, puasa, Umrah dan Berhaji. Aku
yakin cinta pasti mengikuti jika kita sudah hidup bersama. Itu keyakinanku saat
itu, saat aku belum bertemu Lee Jun Gi malaikat tanpa sayapku.
Tapi sekarang keadaannya berubah. Aku bertemu
lagi dengan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Aku bertemu dengan malaikat
tanpa sayapku. Dan kita sudah bisa berkomunikasi lagi dengan baik.
Tanggal
yang di setujui oleh Lee Jun Gi untuk berlibur bersama ibunya adalah tanggal 28
Desember 2016. Tiga hari setelah perayaan natal. Lee Ji Hoon dan anggota B*STAR
lainnya juga ikut berlibur bersama kita.
Aku
menagambil cuti tahunanku 2 hari dari 12 hari. Hari rabu tanggal 28 desember
2016 aku masih bekerja. Pikirku aku akan pulang dulu ke Appartement untuk membereskan
semua barang-barangku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan kerjaku.
“tok..tok..tok”
“iya
masuk, Lho Jun Gi?”
“Lightly,
ayo kita pergi ke Lembang.”
“Lho
aku kan janjian sama Ji Hoon”
“Ji
Hoon pergi sama B*STAR dan Omma”
“aku
kok gak di ajak?”
“kamu
ikut sama aku, kita pergi pake motor”
“tapi
aku harus ke Appartement dulu. Ada mobilku kok, pakai mobil aja, aku gak biasa
pake motor”
“pake
motor aja. Aku tunggu di luar ya.”
Antara
bingung dan senang. Akhirnya setelah 3 tahun tak bertemu dan tak pernah pergi
bersama, Lee Jun Gi, malaikat tanpa sayapku menjemputku. Ah tapi aku tak mau GR
dulu. Aku tak mau berharap dan di beri harapan palsu lagi oleh Lee Jun Gi.
Aku
kira, Lee Jun Gi hanya bercanda tapi ternyata Lee Jun Gi benar-benar membawa
motor ke Rumah Sakit. Motor balap merk Honda RC213V.
“Jun
Gi, aku bawa mobil. Pakai mobilku aja ya?”
Ucapku
membujuk Jun Gi untuk memakai mobil saja ke Lembang. Karena jujur aku tak biasa
memakai motor apalagi perjalanan jauh.
Terlebih
aku akan pergi dengan Lee Jun Gi yangbukan muhrimku. Dengan Rendi saja aku
belum pernah bepergian menggunakan motor.
“Ke
Appartement kamu dulu kan? Aku ngikutin dari belakang”
Ucapnya.
Akhirnya
aku menyetujuinya, Lee Jun Gi akan mengunjungi Appartementku untuk pertama
kalinya. Ketika sampai di Appartement, aku meminta Lee Jun Gi untuk menungguku
di Lobby. Aku takut terjadi Fitnah jika Lee Jun Gi ikut masuk ke Appartemenku.
Entahlah, aku tak bisa menolak ajakannya untuk pergi ke Lembang menggunakan
motor, rasanya jantung ini berdegup dengan kencang. Lee Jun Gi, dia Oppa dan
dia malaikat tanpa sayapku. Sekarang dia sedang menungguku di Lobby Appartement.
Aku
turun ke bawah, aku menemui Lee Jun Gi dan masih membujuknya untuk menggunakan
mobilku.
“Jun
Gi, pakai mobil aja.”
“gak
perlu, kita pergi pakai motor aja.”
Dia
melemparkan helmnya untuk aku pakai. Sekali lagi aku tak bisa menolak
ajakannya. Akhirnya aku dan Lee Jun Gi pergi menggunakan motor. Di parkiran,
aku mencoba naik motor tanpa memegang pada Lee Jun Gi, umumnya orang yangdi
bonceng berpegangan pada pinggang sopir yang menjalankan motornya. Tapi aku tak
melakukannya. Tanganku tak berani menyentuh bagian tubuh Lee Jun Gi.
“Lightly,
kamu harus pegangan nanti kamu jatuh”
“aku
gak bisa pegang kamu, kamu bukan muhrimku”
“Lightly,
ini untuk keselamatan”
Lee
Jun Gi memegang tanganku dan melingkarkannya ke bagian pinggangnya. Aku
memegang bagian tubuh Lee Jun Gi. ah.. ini mengingatkanku pada 3 tahun yang
lalu. Setiap kita pergi jalan-jalan ke Mall atau hanya untuk sekedar makan di
Restoran, Lee Jun Gi selalu memegang tanganku. Menggenggamnya dengan erat
hingga aku tak bisa melepaskannya. Aku hanya bisa melepaskannya jika aku
memintanya, itu pun jika aku ingin ke toilet. Jika bukan ke toilet, Lee Jun Gi
tak akan melepaskan genggamannya. Begitupun jika kita sedang menonton film di
bioskop. Matanya melihat ke layar lebar itu tapi tangannya tetap menggenggamku.
Jun Gi seolah ingin berkata “jangan jauh-jauh dariku”.
Tapi
kali ini aku tak akan tertipu lagi, aku tak mau salah paham lagi. Aku
melepaskan tanganku yangmelingkar di sekitar pinggangnya dan Lee Jun Gi masih
melaju kencang dengan motornya. Hingga kita menghabiskan waktu satu jam
perjalanan dan kita sampai di Villa milik Lee Jun Gi. aku di sambut sapaan
ceria dari 2 anggota B*STAR Se Jeong dan Daniel juga penterjemah bahasa yang mereka
sewa, mereka sedang berjalan-jalan di sekitar area halaman Villa.
“hai
Lightly”
Ucap
Daniel
“hai
Daniel, Se Jeong. Mana Lee Ji Hoon?”
“
Ji Hoon ada di belakang. Sedang memerah susu sapi”
Ucap
Se Jeong dengan bahasa korea yangdi translate oleh penterjemahnya.
Aku
menuju tempat memerah susu sapi yangdi miliki oleh pabrik susu pasteurisasi di
Lembang, dulu aku juga sempat memerah susu sapi di sini. Tapi itu dulu, sebelum
Amanda datang dalam kehidupan Lee Jun Gi.
Villa
ini mengingatkanku pada semua kenangan yang aku punya bersama Lee Jun Gi,
meskipun waktu itu aku hanya menghabiskan waktu 2 malam 3 hari, tapi itu sangat
berkesan untukku. Kolam berenang, tempat aku dulu dan Jun Gi berenang tanpa
membahas Amanda. Aku bermain dengan kuda peliharaan Lee Jun Gi yangbernama
Jigly. Lalu aku memerah susu sapi bersama Jun Gi. Itu dulu, dulu sekali. Tanpa
terasa air mataku berjatuhan. Terus berjatuhan karena sakit yang aku simpan
dalam-dalam akhirnya muncul lagi. Setelah lelah berkeliling dan lelah mengenang
masa lalu, aku memasuki kamarku. Kamar yangdulu pernah aku huni saat Jun Gi belum
jatuh ke pelukan Amanda.
Rendi
Gunadi Khan, calon suamiku. Membuktikan perkataannya tentang telepon sehari 3
kali. Macam obat anti biotic yangharus aku makan sampai habis, telepon Rendi
pun harus aku angkat tanpa peduli aku sedang sibuk atau tidak. Aku
menyembunyikan air mataku dan tidak memberitahu Rendi tentang keberadaanku di
Villa bersama B*STAR dan Lee Jun Gi.
“Hallo
Assallamu’alaikum Lightly”
Ucapnya.
“
Walaikum salam Ren, apa kabar?”
“aku
baik Lightly, kamu sehat? Lagi dimana?”
“aku
sehat, aku lagi nemenin Tante Jae Ha jalan-jalan”
“sama
Lee Jun Gi?”
“enggak,
berdua aja”
“oh
ya syukurlah. Aku sedang mengurus perpindahan praktekku dari Malaysia ke
Indonesia, bagaimana menurutmu?”
“oh,
baguslah. Kita jadi bisa sering ketemu untuk diskusi tentang pernikahan. Ren,
aku pergi dulu ya nanti aku telepon lagi”
Aku
menutup telepon dari Rendi. aku beralasan jika aku sedang pergi keluar dengan
Tante Jae Ha. Padahal aku belum bertemu dengan Tante Jae Ha sejak aku datang ke
Vila ini.
Jam
menunjukkan pukul 17.45 dan adzan magrib berkumandang. Aku bersiap untuk shalat
magrib. Aku melakukan ibadahku dan berdo’a dalam luapan emosi dan cucuran air
mata. Air mata yangtak bisa lagi aku bendung karena sakitnya hati tak bisa aku
sembunyikan lagi.
“Ya
Allah ya Tuhanku yangMaha dari segala Maha. Aku memohon padamu Ya Allah, jika
Lee Jun Gi itu bukan jodohku jauhkanlah aku darinya Ya Allah. Jika Lee Jun Gi
bukan jodohku, hentikanlah debaran di hatiku jika aku bertemu dengannya. Aku
Mohon Ya Allah, dengar do’a ku. Amin Ya Rabbal A’lamiin”
Saat aku melipat-lipat mukena yangtadi aku
gunakan untuk shalat. Tiba-tiba ada yangmengetuk pintu kamarku dan memanggil
namaku.
“Lightly..
Lightly.. ayo makan”
Suaranya
suara Lee Jun Gi, orang yangtadi aku sebut namanya dalam do’a. Aku membuka pintu kamarku. Dan benar saja,
dia Lee Jun Gi.
“oh.. Jun Gi ada apa?”
“Lightly,
kamu nangis? Kamu kenapa?”
“oh
gak apa-apa kok, tadi aku baru beres shalat dan berdo’a makanya aku nangis”
“kamu
berdo’a apa?”
“berdo’a
apa ya? Hehe ada deh”
“hmm..
ayolah turun. Juru masaknya udah dateng dan makanannya udah siap. Kamu harus
makan malam ya”
“oh.
Baiklah. Sebentar lagi aku turun”
Aku
menutup pintu kamarku dan bersiap untuk turun ke bawah. Karena cuaca Lembang
hari ini sangat dingin. Aku menggunakan Sweaterku. Sweater yang di belikan
Rendi. Sweater berwarna Pink muda dan kerudung warna putih untuk menutupi
rambutku.
Saat
turun ke bawah, B*STAR sudah menungguku di meja makan begitu juga dengan Tante
Jae Ha, mereka menunggu makanan di antarkan oleh juru masak yangdi sewa oleh
Lee Jun Gi.
Wangi
tumisan bawang merah dan bawang putih ini menusuk indra penciumanku. Dari
aromanya saja sudah wangi sekali. Apalagi makanannya. Sambil menunggu makanan
itu datang, aku mengobrol dengan Daniel sementara Ji Hoon ngobrol dengan
ibunya, Tante Jae Ha. Kim Ryu Wan dan Se Jeong sedang asik dengan gadgetnya. Yangtak
aku lihat hanya Lee Jun Gi. entahlah dia ada dimana? Sejak dia turun dari
kamarku. Aku tak melihatnya lagi.
“Lily,
Ji Hoon sering menceritakan tentangmu”
Ujar
Daniel padaku dengan menggunakan bahasa Inggris yang di Translate oleh
penterjemah yang mereka sewa.
“oh
ya? Ngobrol apa?”
“banyak,
salah satunya tentang kamu yang memacari kakak Ji Hoon”
“oh,
Lee Chi Hoon. Iya, aku pernah pacaran sama Chi Hoon. Tapi takdir berkehendak
lain. Chi Hoon meninggal karena tabrakan beberapa hari sebelum pernikahan kita.
Karena aku juga gak punya siapa-siapa akhirnya ibunya Lee Chi Hoon yang juga
ibu dari Ji Hoon mengangkatku sebagai anaknya”
Ucapku,
menjelaskan pada Daniel.
“tapi
yang aku dengar dari beberapa media, yang kamu pacari itu bukan Lee Chi Hoon
tapi Lee Jun Gi. Fashion Designer kita”
“ah..
masa sih? Aku gak pernah pacaran sama Lee Jun Gi”
Semua
tiba-tiba menjadi hening. Entah siapa yang menyebarkan gossip tentang aku dan
Lee Jun Gi berpacaran. Karena aku tak pernah berpacaran dengan Lee Jun Gi.
meskipun aku sangat menyukainya. Bahkan sangat mencintainya. Aku tak mungkin
bisa menjadi Amanda, wanita yangdi cintai Lee Jun Gi.
“Lightly,
gak pernah pacaran sama Lee Jun Gi, tapi dia naksir berat sama Lee Jun Gi,
bener kan Lily?”
Celetuk
Lee Ji Hoon.
“oh..
itu dulu, sekarang aku udah punya Rendi, aku mau nikah sama Rendi bulan maret
2017 nanti. Kalian datang ya”
Ucapku.
“tapi, sampai saat ini kamu masih punya rasa
padanya kan?”
Ujar
Se Jeong, pertanyaannya sungguh membuat aku mengingat lagi masa-masa indahku dengan
Lee Jun Gi dulu.
“iya
dulu sih, 3 tahun yang lalu. Aku pernah menyukainya. Bahkan sangat menyukainya.
Aku berharap padanya. Harapan ingin menjadi kekasihnya. Aku biasa memanggilnya
Oppa..Oppa. Dia malaikat tanpa sayapku. Dia baik banget. Semua yang aku mau dia
pasti kabulkan. Dia menjadi wali resmiku, menggantikan Lee Chi Hoon, adiknya
sekaligus calon suamiku. Oppa, memberikan semua yang dia punya. Termasuk perhatian
dan rasa sayangnya sama aku. Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Kemana-mana, aku selalu sama dia. Jalan-jalan, nonton ke bioskop, makan di
café. Oppa tahu tanggal aku datang bulan, Oppa juga tahu merk pembalut yang sering
aku gunakan. Aku sangat suka Steak saus jamur, tapi aku payah dalam memotong
steak dan sebelum aku makan steak, Oppa pasti motong-motong dulu steak yang mau
aku makan. Dan kemanapun kita pergi dia selalu memegang erat tanganku. Semua yang
dia lakukan membuat aku yakin, bahwa dia juga mencintaiku sama seperti aku
mencintainya. Nyatanya, Duniaku berhenti saat aku tahu ternyata Oppa mencintai
perempuan lain yang bukan aku. Hatiku hancur berkeping-keping. Saking hancurnya
aku sampai mengidap Psikosomatis. Aku pasti sesak nafas jika mengingat kejadian
itu. Dalam hal ini, aku yang salah. Semua salahku. Aku gak berkaca, siapa aku?
Sampai aku berani jatuh cinta sama dia. Iya siapa aku? Aku gak secantik Amanda,
aku juga gak sepintar Amanda. Tapi aku punya tulus di dalam cinta yang mati-matian
aku pendam. Amanda seorang dokter, dia juga pintar memasak. Dia tahu makanan
kesukaan Oppa dan dia juga tahu club bola favoritnya Oppa, Barcelona. Hal yang
selama ini aku gak tahu tentang Lee Jun Gi, Amanda tahu semuanya.”
Aku
kembali menangis sesegukkan dan Lee Ji Hoon menghampiriku, ia membawakan aku
tissue untuk menghapus air mataku. Lalu Se Jeong, ia mengambilkanku air minum.
Tante Jae Ha mengusap punggungku.
“Lightly,
ini bukan kesalahanmu”
Ucap
Tante Jae Ha padaku
“ini
salahku Tante, andai waktu itu aku tahu diri. Gak akan kayak gini jadinya
Tante, tapi sudahlah. Bagiku Oppa sudah meninggal. Ia hanya hidup di hatiku
bersama dengan kenangan-kenangan indah. Bagiku Lee Jun Gi sekarang bukan Oppa.
Itulah kenapa Rendi sangat benci sama Lee Jun Gi. dia tahu bagaimana aku
mencintai Lee Jun Gi. Rendi juga tahu gimana susahnya aku move on dari Lee Jun
Gi. Tapi satu hal yang Rendi gak tahu. Rendi gak tahu kalau aku sangat menyayangi
Lee Jun Gi hingga saat ini. Saat ini aku Cuma bisa menutup mata, menutup mata dan
menganggap Lee Jun Gi bukan Oppa. Dia bukan malaikat tanpa sayapku. Dia Lee Jun
Gi, si Monster tyrex yang bisa memakanku kapan aja. Aku menyimpan uang yang dia
transfer untukku selama aku di Malaysia dan aku juga sudah mengganti biaya
perawatanku selama aku koma di rumah sakit. Aku menyimpan uang itu dan akan
mengembalikannya nanti setelah aku menerima gajiku bulan depan”
Air
mataku deras keluar dari pelupuk mata tak ada yangbisa menghentikannya dan Tante
Jae Ha memelukku.
“maafkan
anakku Lightly. Dia memang kurang ajar”
“Jun
Gi gak salah Tante. Aku yang salah.”
Saat
aku masih menangis, Makanan di antarkan ke atas meja. Makanan yang siap di
santap oleh aku, Tante Jae Ha dan B*STAR.
Menunya adalah nasi putih, sayur capcay, oseng tempe dengan cabai hijau,
ayam goreng, lalaban, sambal terasi dan air teh manis yang di sediakan oleh
pelayan di Villa itu.
Aku
menghapus air mataku, aku tak mau Lee Jun Gi melihat pipiku yang basah oleh air
mata. Para pelayan membagikan piring kepada 4 anggota B*STAR dan Tante Jae Ha.
Aku tak di beri piring oleh pelayan.
“pak,
maaf piring punya Aku mana?”
“maaf
neng, makanan punya neng Lightly di masak dan di antarkan langsung oleh tuan
Lee”
Hah,
makananku di masak dan di antar oleh Lee Jun Gi? tak mungkin. Lee Jun Gi bukan
type orang yang mau melayani orang lain, tak lama Lee Jun Gi datang dengan baki
yang di atasnya terdapat satu buah hotplate.
“Lightly
ini makananmu, Steak Saus Jamur”
“wow
Oppa terimakasih”
Saking
senangnya, aku menyebut Lee Jun Gi dengan sebutan Oppa. Semua orang melihat ke
arahku. Ya aku tak menyadari bahwa aku memanggilnya dengan sebutan Oppa. Kata yang
tak pernah aku sebut selama 3 tahun. Dan aku melihat ke arah Lee Jun Gi.
Lee
Jun Gi bukan type orang yang cengeng. Ia sangat tegar dan tak pernah berputus
asa terhadap apapun. Aku akan mudah menebak jika Lee Jun Gi sudah menangis.
Seperti malam ini, saat ia mengantar makanan favoritku Steak Saus Jamur, mata
sipitnya sembab dan bagian putih matanya berwarna merah. Pipi putih mulusnya
berubah warna menjadi agak pink dan dahinya terdapat banyak keringat yang mengucur
ke bagian wajahnya.
“Lee
Jun Gi, terimakasih sudah mau masakin aku
Steak”
Ucapku
sambil memakan Steak Saus Jamur buatan Lee Jun Gi yang sudah ia potong-potong.
“sama-sama
Lightly, dulu Amanda memasak untukku. Katanya makanan yang kita masak itu
menunjukan rasa cinta kita pada seseorang yang siap memakan hasil masakan kita.
Apapun rasanya, akan terasa enak jika kita memasaknya memakai cinta. Itu juga yang
di lakukan Amanda padaku selama ia menjadi Istriku, selagi ia sehat, Amanda
terus memasak untukku. Alasannya simple dia menunjukan rasa cintanya padaku
melalui masakannya. Dan hari ini aku melakukannya untuk kamu Lightly.”
Garpu
dan pisau yang sedang aku pegang jatuh seketika ke dalam hot plate yang panas
itu. Kata-katanya bermakna dia mencintaiku. Ah tak mungkin, aku pasti salah
dengar. Ya aku pasti salah dengar. Jantungku berdebar dengan hebatnya. Rasanya
seperti akan copot dari bagian dalam tubuhku. Aku mengingat semua kenanganku
dengan Lee Jun Gi dulu. Saat pertama kali aku jatuh cinta padanya di Villa ini,
saat aku berharap cintaku berbalas dan saat hatiku pecah karena luka yang Jun
Gi berikan padaku, aku mengingat cintaku yang dulu bertepuk sebelah tangan.
Aku
mengingat Amanda, bidadari yang turun dari surga untuk mengambil malaikat tanpa
sayapku dari kehidupanku. Aku mengingat semua yang Lee Jun Gi lakukan padaku. Harapan
kosong yang Jun Gi berikan membuatku jatuh cinta padanya. Dan aku mengingat
saat ia menolak cintaku karena alasan usia yang jauh berbeda lalu satu minggu
kemudian, Lee Jun Gi menikahi Amanda. Aku ingat semuanya.
Sakit,
hatiku kembali sakit, pisau berkarat itu menghujam jantungku. Rasa tak nyaman
menerpaku. Psikosomatisku kambuh setelah satu tahun lamanya aku tak mengalami
hal itu. Aku sesak nafas, sangat sesak. Dadaku menyempit rasanya.
“Lee
Ji Hoon.. Ventolin.. ambilkan aku Ventolin”
Semua
panik melihatku “ngap-ngapan” seperti ikan yang lompat ke darat. Nafasku
terengah-engah. Terdengar bunyi “Ngik-ngik-ngik” dalam nafasku. Lee Ji Hoon
berlari ke kamarku, ia mencari Ventolin. Tante Jae Ha berteriak
“Ji
Hoon cepat ambil obatnya”
dan
Lee Jun Gi, ia memegang tanganku, ia duduk di sebelahku.
“Lightly,
kamu kenapa?”
ucap
Lee Jun Gi.
ini
pertama kalinya sesak nafasku kambuh di hadapan Lee Jun Gi setelah dua tahun
aku menyembunyikannya.
Ji
Hoon datang dengan berelari-lari dari lantai 1 ke Lantai dasar. Ji Hoon tak menemukan Ventolin yang setiap
hari aku bawa meskipun Psikosomatisku sudah tak kambuh sejak satu tahun yang lalu.
Ji Hoon menyarankan agar aku di bawa ke rumah sakit terdekat di Lembang.
“Lily,
kamu harus ke rumah sakit, Kakak bawa Lily ke Rumah Sakit”
Pinta
Ji Hoon pada Lee Jun Gi.
“Lightly,
ikut Oppa ke rumah sakit ya”
Aku
menolak, aku tak mau di bawa ke rumah sakit. Ini bukan sakit fisik. Ini sakit
hati yang menjalar pada Fisik. Aku meminta Lee Jun Gi pergi, tapi dia tak mau
dengar.
“Lee
Jun Gi, pergi dari sini”
Aku
memohon agar dia pergi.
“Lightly,
aku gak bisa ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini. ayo ikut Oppa ke rumah
sakit”
Dia
terus membujuku agar aku ikut dengannya. Aku sudah memintanya pergi berulang
kali tapi Jun Gi tak mau mendengarkan permintaanku.
“Lee
Jun Gi, aku mohon pergi. Jangan muncul lagi di hadapanku”
Aku
berteriak pada Lee Jun Gi, emosiku meluap. Amarah yang aku tahan bertahun-tahun
akhirnya muncul ke permukaan, Aku tak mengingat lagi kisah nabi Muhammad S.A.W
tentang cerita kesabarannya .
“Ji
Hoon antarkan aku pulang ke Appartement sekarang”
“Lily,
ini udah malem. Banyak begal di jalan Raya.”
Ucap
Ji Hoon.
Tante
Jae Ha menyuruhku untuk duduk di kursi sofa di ruang tamu. Aku duduk di sana.
Badanku, aku baringkan di sofa itu. Tante Jae Ha memijit-mijit kakiku. Ia
menangis, air matanya keluar sembari memijit kakiku. Lee Jun Gi, ia membawakan
aku air minum. Tapi aku tak menyambutnya, air minum itu aku tolak.
“Lightly,
kamu kenapa? Kamu sakit?”
Tanya
Lee Jun Gi padaku. aku tak menjawabnya. Aku hanya diam seribu bahasa. Aku
marah, sangat marah pada Lee Jun Gi.
“Psikosomatis
Lily kambuh Kak, jika dia sesak nafas berarti dia sedang kecewa, marah dan
merasa tidak nyaman dengan kehadiran kamu di sini”
Ji
Hoon menjelaskan penyakit pikiranku.
Aku
bangun dan berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarku di lantai satu. Lee
Jun Gi mengikutiku. Aku membanting pintu tepat di hadapannya. Lee Jun Gi kemudian
membuka pintu itu. Aku duduk di kursi sofa yang ada di kamarku. Dan Lee Jun Gi
berlutut di depanku.
“Lightly,
aku minta maaf. Aku gak tahu kalau kamu sakit hati karena pernikahanku dengan
Amanda. Aku gak tahu kalau kepergianmu ke Malaysia karena aku. Berulang kali
aku bertanya sama kamu waktu itu, apakah kamu baik-baik saja? tapi Kamu gak
pernah jawab pertanyaan itu. Lightly, bunuh aku jika kamu mau. Aku gak tahu
kamu sesakit ini”
“benarkah
kamu gak tahu? Kamu ingat, satu minggu sebelum kamu menikahi Amanda, aku
menyatakan cintaku sama kamu. Hari itu malam-malam bahkan larut malam, aku
menunggu kamu yang sedang berkencan dengan Amanda. Kamu bilang aku masih anak
kecil. Kamu gak mungkin menerima cintaku karena aku masih kecil. Tapi satu hal yang
kamu gak tahu, aku punya tulus dalam cinta yang aku pendam bertahun-tahun.”
Aku
menceritakan perasaanku yang sebenarnya pada Lee Jun Gi dengan nada rendah dan
perasaan yang sakit lagi. Aku menangis sejadi-jadinya, menangis di depan orang yang
menyakitiku.
“Lightly
maafkan aku. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membalas sakit yang aku
buat untuk kamu. Aku akan melakukannya”
“aku
Cuma mau tanya satu hal, sebelum Amanda datang dalam hidupmu, apa arti aku
untuk kamu?”
“Lightly,
kamu sangat berarti buat aku. Sangat Lightly”
“bohong,
kamu bohong. Bagi kamu, aku hanya seorang anak kecil bukan? Bocah. Anak ingusan
yang jatuh cinta pada pria dewasa seperti kamu. Kamu bohong, jika aku sangat
berarti buat kamu, Amanda gak akan begitu mudahnya masuk dalam kehidupanmu.
Kamu memberiku harapan palsu. Kamu buat aku jatuh cinta. Lalu setelah kamu tahu
aku memiliki rasa, kamu pergi dengan perempuan lain. Mencampakkanku. Kamu
memperlakukanku seperti seorang kekasih. Kamu kabulkan semua yang aku inginkan,
kamu genggam tanganku setiap kita pergi, kamu tahu tanggal haidku dan merk
pembalut yang biasa aku pakai. Kamu datang tepat waktu saat aku benar-benar
membutuhkanmu. Lalu tiba-tiba kamu bilang, kamu mencintai Amanda! Saat itu
hatiku hancur. Kamu bawa perempuan lain ke rumah tanpa menjelaskan perlakuan
apa yang kamu lakukan padaku. Sebelum Amanda datang dalam hidupmu, aku seperti
ratu yang ada di hatimu. Aku satu-satunya perempuan yang kamu perlakukan
special. Tapi Amanda datang tanpa permisi, dia merebut kamu dariku. Kamu
memperlakukannya seperti kamu memperlakukanku dulu. Kamu kabulkan semua
keinginannya, kamu ajak dia jalan-jalan, nonton, makan, belanja. Semuanya. Dan
kamu membuangku. Aku pergi ke Malaysia karna aku gak tahan harus hidup serumah
sama kalian. Aku akan mentransfer uang sejumlah 4,2 milyar rupiah ke
rekeningmu. Uang itu adalah uang yang kamu transfer selama aku ada di Malaysia.
Aku juga mengganti uang perawatanku selama aku koma di Rumah Sakit. Sekarang
aku gak punya hutang apa-apa lagi sama kamu”
Lee
Jun Gi menangis, baru kali ini aku melihatnya menangis secara LIVE. Saat Lee
Chi Hoon meninggal, dia tak mengeluarkan air mata setetespun. Lalu saat ayahnya
meningal, Jun Gi hanya sesekali menangis. Dan sekarang saat aku menyebut satu
persatu kesalahannya, ia terisak. Menangis, air matanya membanjiri pipinya.
Ia
menghapus air matanya perlahan-lahan dengan kedua tangannya. Lee Jun Gi terus
menerus meminta maaf padaku. Aku memaafkannya. Tapi berat bagiku untuk
menerimanya kembali dalam hidupku, walaupun statusnya hanya sebagai Kakak
angkat.
Aku
meminta di antar pulang pada Lee Ji Hoon saat itu juga. Tante Jae Ha kemudian
berteriak pada Lee Jun Gi.
“Jun
Gi, Lightly mau pergi. Cepat susul dia”
Aku
mendengar suara hentakan kaki dari lantai atas. Lee Jun Gi menyusulku ke luar,
tepatnya ke halaman depan Villa.
“Lightly
tunggu”
Ucap
Jun Gi.
Aku
berhenti sejenak.
“ada
apa lagi”
Ujarku
ketus.
“aku
gak bermaksud nyakitin kamu. Aku gak tahu kalau kamu benar-benar cinta sama
aku. Lightly, aku sayang sama kamu”
“sayang?
Kamu sayang sama aku? Sayang seperti apa? sayang yang bagaimana? Aku sudah di
lamar Rendi dan tiga bulan lagi kami menikah. lalu dengan mudahnya kamu bilang
kamu sayang sama aku? Ya kamu pasti sayang sama aku, aku adikmu. Aku calon
istri dari adik kandungmu yang meninggal. Aku calon Istri Lee Chi Hoon. Aku
adik iparmu. Mana mungkin kamu gak sayang sama aku!”
“Lightly,
aku sayang sama kamu sebagai seorang wanita. Aku cinta sama kamu. Maaf karena
aku baru menyadarinya. Aku minta maaf karena aku lebih memilih Amanda waktu
itu.”
Lee
Jun Gi, si monster tyrex ini mengucurkan air mata saat ia menyatakan cintanya
padaku. Lee Jun Gi mencintaiku. Akhirnya cintaku bersambut. Malaikat tanpa
sayapku akhirnya mengambil cintaku yang aku pendam dalam-dalam. Tapi itu
sungguh tak berguna. Rasa sayangnya tak akan mempengaruhi rencana pernikahanku
dengan Rendi.
“kamu
cinta aku?”
“iya
Lightly, aku mencintaimu. Aku gak pernah ngasih kamu harapan palsu. Saat itu
aku memang menganggapmu special. Kamu cinta pertamaku Lightly. Aku sudah
menyukaimu sejak usiaku 17 tahun. Waktu itu usiamu masih 7 atau 8 tahun. Kamu
cantik sekali. Lucu. Imut-imut. Tapi kamu lebih memilih bermain dengan Lee Chi
Hoon, adikku. Cintaku berkembang seiring dengan pertumbuhan kamu dari anak
kecil yang lucu imut, menjadi gadis cantik. Tapi sekali lagi kamu lebih memilih
Lee Chi Hoon.”
Benarkah,
Lee Jun Gi mencintaiku saat aku masih berusia 7 tahun? Sebetulnya apa maunya?
Dia menyatakan cintanya yang ia pendam sejak SMA kelas 3 padaku. Dia menyatakan
cintanya padaku yang 3 bulan lagi dinikahi laki-laki lain.
“apa
kamu bilang? Kamu menyukaiku sejak aku berusia 7tahun? Pembohong. Aku lebih
memilih bermain dengan Chi Hoon karena usianya tak terlampau jauh denganku.
Perbedaan usia kita hanya 2 tahun. Saat usiaku 7 tahun, usia Lee Chi Hoon 9
tahun. Jangan mengada-ada Lee Jun Gi. Kalaupun benar, cintamu itu ada untukku.
Itu gak akan berpengaruh padaku. Aku akan menikah dengan Rendi Gunadi Khan,
sepupu mendiang istrimu.”
“Lightly,
saksinya adalah ibumu, dia tahu bagaimana aku naksir sama kamu yang masih kecil
waktu itu. Tak terasa bukan, waktu yang membuktikan jika kamu tak berjodoh
dengan adikku. Tiba-tiba dia meninggal dan kesempatan aku mendapatkanmu terbuka
lebar. Jika kamu merasa kamu adalah satu-satunya di hatiku 3 tahun yang lalu,
itu benar Lightly. Jika kamu merasa kamu sangat special untukku, itu benar
Lightly. Dan jika kamu merasa aku sayang sama kamu waktu itu, itu benar
Lightly. Aku menyayangimu. Aku memanfaatkan kematian adikku untuk
mendapatkanmu. Tapi di tengah jalan, Amanda datang. Dia menemaniku saat kamu
koma. Dia juga mencintaiku Lightly. aku tergoda oleh Amanda. Jujur, memang
kecantikan Amanda yang memikatku pertama kali. Aku melupakanmu saat aku
mengenal Amanda dan itu salahku. Itu salahku Lightly. Maaf jika waktu itu aku
gak milih kamu, aku gak tahu kamu cinta sama aku. Aku juga gak tahu kalau kamu
sakit hati saat aku menikahi Amanda. Bukankah waktu itu aku bertanya sama kamu
berulang kali. Apa kamu marah sama aku? Kamu jawab enggak. Dan aku percaya itu
Lightly. aku percaya bahwa kamu baik-baik saja. Perhatikan dengan seksama
wajahku. Aku mirip dengan mendiang kekasihmu bukan? Aku mirip Lee Chi Hoon kan?
Aku mengira kamu jatuh cinta sama aku karena hal itu.”
Ah..
aku menangis sejadi-jadinya. Aku sudah tak mau lagi melihat Lee Jun Gi lagi. Ya
Allah tolong aku. Keluarkan aku dari situasi ini.
“
Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus melihat kalian bermesraan di hadapanku
setiap hari? Waktu itu aku gak punya pilihan lain selain menjawab ‘tidak
apa-apa’. Aku gak punya pilihan lain selain berkata ‘aku baik-baik saja’,
pilihanku saat itu hanya satu. Pergi ke Malaysia bersama Rendi. Lee Jun Gi,
pergilah. Pergi dari hidupku. Aku akan menikah dengan Rendi. 3 bulan lagi aku
akan menjadi istrinya. Percuma jika kamu masih menyatakan perasaanmu. Aku gak
bisa menerima Amanda sebagai kakak iparku. Aku juga gak bisa menerima kamu
mencintai Amanda waktu itu. Tapi aku harap, kamu bisa menerima Rendi sebagai
keluarga karena aku gak punya keluarga lagi selain kalian.”
Aku
pergi dengan air mata yang bercucuran. Aku keluar dari halaman Villa itu, aku
menaiki ojek pangkalan untuk sampai ke jalan raya dan bisa menaiki taxi disana.
Aku pulang menuju Appartementku yang berada di jalan Setiabudhi Bandung. Aku
meninggalkan barang-barang milikku. Termasuk handphone yang tertinggal di kamar
villa. Biarlah, paling hanya Rendi yang akan mengomeliku.
Rasa
sakit itu akhirnya muncul lagi. Aku mengenang perjalanan cintaku bersama Lee
Chi Hoon. Pria yang aku cintai sejak aku duduk di bangku SMP dan cinta itu
bersambut, aku menjadi kekasih Lee Chi Hoon saat duduk di kelas 2 SMA. Sampai
akhirnya dia melamarku di hadapan orang tuanya.
Bahagia
sekali rasanya. Tapi kebahagiaan itu berakhir dengan duka. Lee Chi Hoon
meninggalkanku untuk selamanya. Dia terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil
truck yang menabraknya tiba-tiba dari arah yang berseberangan.
Hidupku
menjadi runyam, hampa dan tak tahu arah ketika Lee Chi Hoon pergi. Kehadiran
Lee Jun Gi di dalam hidupku memang menjadi rasa yang tak bisa aku lupakan. Lee
Jun Gi mantan kakak iparku, ia menjagaku, merawatku dan ia bisa menjadi
Malaikat tanpa sayapku. Aku mencintai Lee Jun Gi, sejak aku pertama kali bangun
dari koma. Aku mendengar dari beberapa suster yang merawatku, bahwa Lee Jun Gi
menemaniku setiap saat. Ia menungguku setiap pagi, siang dan malam. Kantornya,
tiba-tiba pindah ke ruang VIP tempat aku di rawat. Dan saat itu pula Lee Jun Gi
jatuh cinta pada Amanda. Amanda si bidadari yang turun dari surga. Aku patah
hati di saat yang bersamaan. Aku patah hati dan jatuh cinta pada Lee Jun Gi, di
saat bersamaan.
Lee
Jun Gi kemudian menikahi Amanda, selang satu minggu setelah aku menyatakan
cintaku padanya. Lalu Lee Jun Gi membawa Amanda pulang. Hancur, hanya kata itu yang
bisa mengungkapkan perasaanku saat aku tahu Lee Jun Gi menikahi Amanda dan
membawanya pulang ke Rumah.
Aku
kemudian memutuskan untuk ikut dengan Rendi, laki-laki yang pernah bertemu
denganku di dunia NoName dan Rendi juga menyakitiku tapi rasanya tak sesakit ini.
Keputusanku saat itu tak bisa di ganggu gugat. Aku mengikuti program S2 di
Malaysia Medical Univercity. 2 tahun tinggal di sana, aku tak pernah melihat Lee
Jun Gi mengunjungiku. Hanya Lee Ji Hoon, adik angkatku yang biasa mengunjungiku.
Aku dilamar Rendi Gunadi Khan, laki-laki yang belakangan menaruh rasa cinta
padaku. Aku menerima lamarannya karena mempertimbangkan beberapa hal. Salah
satunya, Agama Rendi, ia beragama muslim dan menjalankan perintah-perintah
Allah. Aku tak pernah ragu untuk menerima lamarannya meskipun aku jarang
bertemu dengannya.
Lalu
aku pulang ke Indonesia setelah 2 tahun mengenyam Ilmu di sana. Aku memutuskan
untuk mengikuti program S3 di Universitas Padjajaran dan program itu di buka
bulan Juni 2017.
Aku
mendaftarkan diriku dulu di program S3 itu di bulan November 2016. Lalu tiba-tiba
aku bertemu Lee Jun Gi. Awalnya dia marah-marah karena aku tak menghadiri
pemakaman Amanda, istrinya.
Tapi setelah Rendi membuka alasanku pergi ke
Malaysia, karena Jun Gi. Tiba-tiba di menjadi laki-laki baik. Dia berubah
menjadi malaikat tanpa sayapku. Dan tiba-tiba dia menyatakan cintanya padaku. Dia
menyatakan cinta pada calon istri orang lain. Dia menyatakan cintanya saat
pernikahanku hanya tinggal hitungan hari. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Malaikat tanpa sayapku menyatakan cintanya pada upik abu macam diriku.
Sudah
lima hari sejak aku berdebat dengan Lee Jun Gi tentang perasaan cinta yang tiba-tiba
muncul di hatinya untukku. Aku tak pernah menghubunginya sejak saat itu, terlebih,
karena handphoneku tertinggal di villa waktu itu dan sampai sekarang Lee Jun Gi
belum mengembalikannya padaku. aku lalui hari-hariku setelah Lee Jun Gi
menyatakan cintanya padaku dengan haru biru, tak jarang aku menangis tiba-tiba.
Aku menjalankan praktek seperti biasa di Rumah Sakit Ahmad Dahlan. Hari itu itu
ada seorang ibu muda yang sedang konsultasi denganku mengenai anaknya berusia 3 tahun yang hyperaktif.
Ada yang mengetuk pintu ruangan Praktekku, Aku
permisi kepada pasienku untuk membuka pintu. Dan setelah aku membuka pintu,
ternyata Rena yang datang untuk menemuiku.
“Rena,
tunggu ya. Aku lagi ada pasien”
“oh.
Ok aku tunggu di luar”
Ucap
Rena.
Tak
biasanya Rena datang mengunjungiku di Rumah Sakit. Dia juga tak memberi kabar
tentang kedatangannya mengunjungiku. Pasien ibu muda yang bernama Lisa, aku
persilahkan pulang karena aku sudah memberikan solusi untuk anaknya yang hyperaktif
“Rena,
ayo masuk”
Aku
menyuruh Rena masuk ke dalam Ruangan.
“Rena,
tumben-tumbenan datang ke Rumah Sakit”
“iya
nih, aku mau ngembaliin ini”
Rena
mengeluarkan handphoneku yang tiba-tiba ada di tangannya.
“kok
handphoneku bisa ada di tangan kamu Ren?”
“iya,
3 hari yang lalu Lee Jun Gi mampir ke Klinik, dia nitipin ini sama aku, dia
juga ketemu sama Vic. Kita banyak ngobrol sih pas ketemuan kemaren.”
Aku
mengambil handphoneku, aku cek semua panggilan yang masuk, sms, whatsapp dan
Instagram.
“Lho,
tumben banget kamu mau ngobrol sama dia? Kamu kan kekih banget sama dia”
“iya
sih, dulu aku kekih banget sama Lee Jun Gi, tapi sekarang aku kasian sama dia”
“kasian?
Kenapa? Dia udah gede, udah mapan. Dia tinggal cari pengganti Amanda, beres kan”
“kalau
kamu yang jadi pengganti Amanda, Gimana?”
“eh,
gak mungkinlah.. aku udah di lamar sama Rendi. Gak mungkin aku mau di lamar
orang lain”
“Rendi
belum mengucapkan ijab Kabul dan kamu masih sayang kan sama Lee Jun Gi?”
Pernyataan
Rena membuat aku menghentikan aktivitasku yang sedang mengisi status pasien
Lisa.
“Ren,
kalaupun aku masih punya rasa sama Lee Jun Gi, itu gak akan menghentikan aku
untuk menikah dengan Rendi. Dia bilang apa aja sama kamu?”
“Ly,
jujur ya. Dulu waktu aku ngeliat kamu nangis-nangis sama Lee Jun Gi, aku tuh
benci banget sama dia. Tapi kemarin waktu dia ketemu sama aku di Klinik. Dia
tuh berubah banget Ly, dia wise banget. Beda sama Lee Jun Gi yang aku lihat pas
ayahnya meninggal. Ly, aku tahu kamu masih nyimpen rasa sama dia kan? Kasian
lho Ly, dia kehilangan istrinya dan dia juga kehilangan kamu”
“terus?”
Aku
hanya menjawabnya singkat.
“Ly,
kamu boleh bohongin semua orang tentang perasaan kamu sama dia. Tapi kamu ga
bisa bohongin diri kamu sendiri. Pake logika deh, kamu cinta sama Lee Jun Gi,
tapi kamu menikah dengan Rendi. kalau Lee Jun Gi nya gak merasa Cinta sama kamu
sih gak apa-apa. Tapi dia udah punya rasa sama kamu sekarang. Apa kamu gak
pengen cinta kamu berbalas?”
“Ren,
aku gak bisa nerima Lee Jun Gi. sekalipun dia cinta sama aku. Aku gak bisa
nerima dia mencintaiku sekarang. Aku senang, cintaku berbalas sekarang. Tapi
apa gunanya? Aku akan menikah dengan Rendi 3 bulan lagi. Pernikahanku udah di
depan mata.”
“Lightly,
tapi gimana sama perasaan kamu? Kamu gak bisa terus-terusan bohong sama diri
kamu sendiri. Lama kelamaan Rendi pasti tahu isi hati kamu”
“Rena.
Sejak kapan Lee Jun Gi perduli sama perasaanku? Sejak Amanda meninggal? Aku gak
pernah minta dia ngebales cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan kan?
Terus kenapa kemarin dia ribut nyatain cintanya sama aku? Waktu dia kenal
Amanda, pernah gak dia inget sama aku?”
“Lightly,
Aku tahu itu. Coba sekarang jujur deh sama aku. Pernah gak kamu ngerasa Lee Jun
Gi gak akan tergantikan sama yang lain? Pernah gak kamu ngerasa kangen banget
sama dia?”
Tiba-tiba
suasana jadi hening. Aku diam, semua pertanyaan Rena, aku merasakannya. Merasakan
Rindu yang tak pernah ada ujungnya. Dan Rendi tak pernah bisa menggantikan Lee
Jun Gi.
“Ren,
aku harus gimana? Liat cincin ini. Rendi sudah melamarku. Pernikahan kita akan
di gelar 3 bulan lagi Rena.. Terus tiba-tiba Lee Jun Gi datang. Dia datang di
saat yang gak tepat. Dia bilang, Dia cinta sama aku. Dia sayang sama aku. Terus
aku harus gimana? Waktu aku mau mempertaruhkan segala yang aku punya demi dia,
Dia pergi sama Amanda.”
“Lightly,
kalau aku jadi kamu. Aku akan terima Lee Jun Gi apapun resikonya.”
“
Aku gak mungkin bisa berbuat seperti itu. Kalau Lee Jun Gi benar-benar cinta sama
aku, dia akan buktikan semuanya Ren. Lagipula Lee Jun Gi beragama Budha. Dia
gak akan bisa bawa aku ke Jenjang pernikahan. Dan kenapa aku memilih Rendi?
Rendi seorang muslim yang taat. Dia menjalankan shalat 5 waktunya. Ia juga
mengerjakan puasa ramadhan beserta sunnah-sunnahnya. Aku gak cinta sama Rendi,
tapi ia satu aqidah denganku. Cinta bisa menyusul kemudian Rena. Aku yakin,
Rendi akan membawaku ke JannahNYA. Kita akan beribadah sama-sama dengan cara
membina rumah tangga dan menuju surga yangdi Ridhoi Allah. Aku muslimmah,
agamaku Islam. Aku dilarang keras menikahi pria non muslim”
“Aku
tahu, tapi Lee Jun Gi cinta sama kamu sekarang yang penting itu dulu Lightly.
Dia cinta sama kamu. Kalau aku jadi kamu aku pasti terima Lee Jun Gi apa
adanya”
“dalam
surah Al-Baqarah ayat 221. Di sana Allah menerangkan ‘ Dan Janganlah kamu
nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya perempuan
beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan
janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman)
sebelum mereka beriman. Mereka mengajak ke neraka sedangkan ALLAH mengajak ke
surga dan ampunan dengan izin-NYA. (ALLAH) menerangkan ayat-ayatNYA kepada
manusia agar mereka mengambil pelajaran’. Kurang lebih begitu dalil qur’annya.
Itulah alasan aku gak berani menjawab cinta Lee Jun Gi. Aku takut berhadapan
dengan Allah jika aku berta’aruf atau menikah dengannya. Lagipula dulu Lee Jun
Gi pernah menolakku karena kehadiran Amanda dan Rendi pasti membunuh Lee Jun Gi
jika dia tahu, Jun Gi punya hati sama aku Ren”
“Lightly,
Lee Jun Gi sudah menganut islam. Dia muslim Lightly, Lee Jun Gi muslim. Dia menganut Islam sejak
ayahnya meninggal. Tapi dia belum tahu apa itu Islam. Saat Lee Jun Gi
marah-marah sama kamu waktu itu, Lee Jun Gi sudah memeluk islam. Tapi dia masih
di taraf belajar.”
Aku
shock. Aku tak tahu Lee Jun Gi sudah memeluk islam. Dia tak pernah berkata
apapun tentang agamanya. Bahkan saat kita dalam situasi sengit di Villa waktu
itu. Pertengkaran sengit itu berakhir karena aku memutuskan pergi dari Villa
menuju Appartement.
“Ren,
kamu jangan bercanda soal agama. Lee Jun Gi gak mungkin menganut Islam. Aku
tahu agamanya Buddha. Dia gak mungkin masuk Islam Rena”
“Lightly,
Lee Jun Gi. Dia memeluk islam
karena dia melihat sendiri jenazah adik kandungnya Lee Chi Hoon yang juga calon
suami kamu waktu itu, Jenazah Chi Hoon tersenyum. seperti menandakan bahagia.
Lalu Gaza Lee, dia melihat jenazah ayahnya dan ia juga melihat senyuman yang bahagia
dalam raut wajah ayahnya yang sudah memeluk islam. Lalu dia banyak bertanya
pada ustadz-ustadz di daerah rumahnya. Dia juga bertanya pada karyawannya yang memeluk
islam. Cita-citanya dia ingin meninggal dalam keadaan tersenyum. Lalu Vikram,
mengenalkan Lee Jun Gi pada seorang ustadz yang mau mengajarinya shalat,
mengaji dan puasa.”
“Lalu
jika Lee Jun Gi muslim, apa aku tetap harus menerima cintanya yang mendadak
datang setelah Amanda meninggal? Aku cinta sama Lee Jun Gi, aku sayang sama dia
sejak 3 tahun lalu sampai hari ini. Sejak aku bangun dari koma dan sampai detik
ini. Rasanya sama sekali gak berubah Meskipun Lee Jun Gi berkali-kali nyakitin
aku Rena. Tapi apa karena dia sekarang seorang muslim jadi aku harus melupakan
sakitnya di khianati sama dia? Aku bersyukur, Lee Jun Gi seorang mualaf
sekarang tapi itu gak berarti aku bisa nerima cintanya Ren”
Aku menangis lagi. Allah memberiku lagi
cobaan. Bagiku cinta Lee Jun Gi yang datang padaku dengan tiba-tiba itu
musibah. Musibah bagi rencana pernikahanku dengan Rendi. Aku berpamitan pada
Rena, aku harus pulang. Aku harus mencari souvenir untuk pesta pernikahanku
nanti. Di perjalanan aku menangis sambil menyetir mobilku. Aku sedang di
perjalanan menuju Jalan Cibadak, tempat toko-toko aneka souvenir pernikahan di
jual.
Aku
memarkirkan mobil di Jalan Cibadak. Lalu aku menyusuri jalan-jalan yang menjajakan
souvenir pernikahan, seperti kipas, gelas, gantungan kunci, boneka sampai
squishy huruf alphabet. Andai aku menikah dengan Lee Jun Gi, aku pasti bahagia
sekali, aku pasti bisa bahagia seumur hidupku. Andai aku menikah dengan Lee Jun
Gi, aku tak akan menderita seperti ini lagi. Andai aku menikah dengan Lee Jun
Gi, cintaku yang aku simpan diam-diam akan berkembang pada orang yang benar.
Andai-andai…. Aku terus berandai-andai. Andai Lee Jun Gi memilihku waktu itu.
Aku tak akan sesakit ini. ah… Andai cintanya padaku saat itu kuat, mungkin Lee
Jun Gi tak akan mudah tergoda oleh kecantikan Amanda.
Aku
menghapus air mataku ketika aku membeli souvenir unuk pesta pernikahanku dengan
Rendi Gunadi Khan. Aku memilih Gelas bertuliskan namaku dan nama Rendi, aku
membeli sebanyak 800 buah sesuai dengan undangan yang di persiapkan oleh Rendi
dan Aku. Hatiku semakin sakit ketika aku
menyadari bahwa aku hanya ingin menikah dengan Lee Jun Gi. laki-laki yang menyakitiku
habis-habisan. Aku ingin menjadi bidadari bagi malaikat tanpa sayapku. Aku
tetap mencintainya meskipun dia berubah menjadi Anjing Herder yg siap
memangsaku. Aku tetap menyayanginya meskipun dia meninggalkanku sendirian dan
pergi bersama Amanda. Keinginanku semakin kuat setelah tahu Lee Jun Gi memeluk
agama Islam, keyakinan yang sama denganku. Mengagungkan ALLAH dan Rassul Nabi
Muhammad SAW.
Hati
kecilku memberontak keinginanku untuk menikah dengan Lee Jun Gi, hati kecilku
terus mengeluarkan suara aneh. Suara yang terus menggenderangkan kejahatan Lee
Jun Gi padaku. Hati kecilku rasanya ingin kembali pada saat 3 tahun yang lalu. yang
sangat menginginkan Lee Jun Gi tanpa halangan apapun kecuali Amanda. Ya, rasa
sakit ini memang sudah tak bisa di sembunyikan. Kali ini air mataku tak
mengalir. Aku hanya ingin hatiku berbalik, berbalik arah dari condong kepada
Lee Jun Gi menjadi condong ke Rendi. Hanya Allah yang maha membolak-balikan
hati. Aku harus lebih giat lagi berdo’a agar Allah membalikkan hatiku pada
Rendi Gunadi Khan.
Sesampainya
di Appartement, Rendi meneleponku. Ya seperti biasa, dia meneleponku sehari
tiga kali, macam obat anti biotic yang setiap hari harus aku minum untuk
menghilangkan bakteri yang ada di tubuhku.
“Assallamu’alaikum
Lightly, Apa kabar? Gimana aktivitasmu hari ini?”
“walaikumsallam
Rendi, Allhamdullillah aku baik. Kamu gimana? Hari ini ya biasa aja, masuk
kerja seperti biasa”
“Lightly,
aku mau tanya. Kamu tinggal serumah dengan Lee Jun Gi? maksudku, kamu pindah ke
rumahmu yang lama?”
“enggak
kok Ren, kenapa?”
“beberapa
hari yang lalu, aku telepon kamu ke nomor yang ini, tapi yang angkat Lee Ji
Hoon”
“oh,
ia hp ku ketinggalan waktu aku jenguk tante Jae Ha”
“kamu
jenguk Tante Jae Ha di Villa?”
“hah?
Oh, iya kebetulan Tante Jae Ha lagi liburan di sana, aku di anterin sama Lee Ji
Hoon ke sana pake mobil. Bolak balik sih, siang dateng ke sana, malamnya pulang
lagi”
“kalau
Lee Ji Hoon ada di Villa, berarti Lee Jun Gi juga ada di sana? Mana mungkin Lee
Jun Gi gak ada, dia pemilik Villa paling mewah di Lembang itu kan?”
“Ren,
udah deh. Aku gak mau bahas lagi Lee Jun Gi”
“siapa
yang bahas? Aku Cuma tanya, waktu kamu ke Villa ada Lee Jun Gi?”
“gak
ada, puas?”
“aku
percaya kamu Lightly, tapi kalau kamu bohong, Lee Jun Gi taruhannya”
“aku
gak ngerti kenapa kamu bisa se posesive ini Rendi”
“aku
Cuma gak mau kehilangan kamu Lightly, aku gak bisa tutup mata kalau Lee Jun Gi
masuk lagi ke kehidupan kamu.”
“Rendi,
aku gak bodoh. Lee Jun Gi sudah menghancurkan aku berkali-kali. Aku gak mungkin
lari dari kamu apalagi tujuannya Lee Jun Gi. percayalah.”
“aku
percaya kamu Lightly, tapi jika kamu berani jatuh cinta sama Lee Jun Gi lagi
dan jika Lee Jun Gi berani menyatakan cintanya sama kamu, Aku akan bunuh Lee
Jun Gi. Tanpa segan-segan Lightly”
Firasatku
tentang Rendi Khan benar, ia sudah berani mengancamku. Keputusanku untuk tidak
menceritakan pada Rendi tentang pernyataan cinta Lee Jun Gi padaku memang
benar. Rendi, calon suamiku berani mengancamku. Tujuannya, agar Lee Jun Gi tak
merebutku darinya. Agar Lee Jun Gi tak memberikanku lagi harapan palsu. Aku mengerti maksudnya tapi aku yakin masih
ada cara lain untuk mengingatkanku tentang Lee Jun Gi, aku tak akan semudah itu
bagi Lee Jun Gi.
Hari-hariku
mulai kembali seperti biasa tanpa kehadiran Lee Jun Gi, tak ada telepon
darinya, tak ada Whatsapp, BBM dan SMS. Hari ini tanggal 5 januari 2017. Pergantian
tahun sudah aku lewati selama lima hari dan selama itu pula aku tak mendengar
lagi kabar dari Lee Jun Gi. Rindu? Aku sangat merindukannya, sangat. Amat
Sangat.
Aku
sudah memilih dan mengunjungi Wedding Orginaizer yang akan kita pakai untuk
mempersiapkan dan melaksanakan pernikahanku dengan Rendi Gunadi Khan. Sang
Dokter muda yang sangat tampan berwajah bagai actor India ini yang akan menjadi
suamiku pada bulan maret nanti. Saat aku berdiskusi dengan owner Wedding
Orginaier tersebut tentang tema pernikahanku, Tante Jae Ha meneleponku. Ia
minta di temani di rumah karena Lee Ji Hoon sedang latihan dance di Jakarta
bersama B*STAR dan Lee Jun Gi, tak ada di rumah. Sudah berhari-hari Jun Gi tak
pulang.
“Tante,
Lee Jun Gi kemana? Kok tante sendirian di rumah?”
“Lightly,
nanti tante akan ceritakan. Tapi temani tante dulu di rumah. Bisa?”
“bisa
Tante, tenang aja. Pulang dari Wedding Orginaier aku kesana”
“baiklah,
Tante tunggu ya Lightly”
Aku
memutar balikan mobilku dari rumah sakit menuju Komplek Buah Batu Indah
Regency. Tempatku tinggal dulu saat aku berusia 19 tahun sampai usia 22 tahun.
Sebelum aku terbang ke Malaysia untuk menghindari Lee Jun Gi dan mendiang
istrinya, Amanda Verenial Ghonshon dengan alasan Study Beasiswa S2 Ilmu
Psikologi.
Ketika
aku sampai ke rumah, Tante Jae Ha menyambutku di teras halaman sambil menyirami
tanaman. Aku mencium tangannya, hal yang biasa aku lakukan sejak aku masih
berusia 5 tahun. Hal yang di ajarkan oleh ibuku tentang sopan santun dan
menghormati orang yang lebih tua.
“Lightly,
kamu sudah sampai?”
“iya
tante, di rumah ada siapa?”
“gak
ada siapa-siapa Lightly. Ji Hoon sedang ke Jakarta dan Jun Gi sedang ke kota Garut”
“Garut?
Lee Jun Gi ke Garut?”
“iya
Lightly, Jun Gi pergi ke Garut untuk pesantren. Ia mondok di Pesantren milik
kawannya semasa SMA. Kamu ingat, dulu Lee Jun Gi sekolah di Bandung
International High School. Sekolah yang menerima orang-orang asing macam kami
waktu itu. Di sana Lee Jun Gi bertemu Akhmad Syahrul, Syahrul adalah anak dari
Kiyai Haji Amir Hafinudin. Yang punya pesantren Darul Ikhsan di Garut. Syahrul
itu dulu nakal sekali. Lee Jun Gi pernah di tawari narkoba dan rokok-rokok oleh
Syahrul. Sampai akhirnya Syahrul di pindahkan ke Garut. Ke Pesantren milik
Ayahnya. Beberapa tahun kemudian Lee Jun Gi bertemu lagi dengan Syahrul,
Syahrul sekarang sudah menjadi hafidz Qur’an. Ia juga berdakwah di mana-mana.
Lee Jun Gi, ingin seperti Syahrul. Mualaf yang bisa menjadi Hafidz. Lee Jun Gi
sekarang seorang muallaf Lightly. ia memeluk islam sejak Pamanmu meninggal.
Satu hal yang ia mau. Ia ingin meninggal dalam kondisi tersenyum”
Lee
Jun Gi, malaikat tanpa sayapku. Sebetulnya ia mempunyai kesempatan besar untuk
menikahiku. Ia Mualaf. Mualaf yang benar-benar mualaf. Menjalankan ibadah
seperti muslim yang lahir dengan agama Islam. Lee Jun Gi atau sekarang namanya
berganti menjadi Gaza Lee, ia menjadi seorang santri di salah satu pondok
pesantren di Garut, Jawa Barat. Aku senang dan bahagia. Andai Lee Jun Gi masuk
islam 3 tahun yang lalu. ah.. tapi jika Jun Gi masuk Islam waktu itu, dia tetap
akan mencintai Amanda, rasanya pasti sama saja
.
“Lightly,
kok kamu melamun terus?”
“ah..
gak apa-apa Tante”
“Lightly,
diminum Teh nya, mumpung masih hangat.”
“iya
Tante, makasih banyak. Jadi repotin”
“ah
tak apa Lightly. oh iya. Lightly, temani Tante disini ya. Tante kesepian,
biasanya kamu yang nemenin Tante”
“Tan,
aku akan usahakan untuk setiap hari mengunjungi tante.”
“menginaplah
di sini Lightly. Tante akan senang jika kamu tinggal lagi di rumah ini”
Tanpa
berpikir panjang. Aku langsung menyetujui permintaan Tante Jae Ha. Aku membawa
pakaianku dari Appartement, make Up dan alat mandi. Hampir semuanya aku bawa.
Macam orang pindahan rumah. Aku membawa separuh barang-barangku. Karena kamarku
berubah fungsi jadi gudang. Akhirnya Tante Jae Ha menyuruhku untuk istirahat di
kamar Lee Jun Gi. Kamar di rumah itu memang hanya ada tiga. Kamar Tante Jae Ha
dan mendiang Paman Jae Joon. Kamar yang di huni Lee Jun Gi saat ini, sebetulnya
itu kamar Lee Chi Hoon juga. Sebelum aku pindah rumah ke rumah ini, kamar Lee
Chi Hoon adalah kamarku. Lee Ji Hoon, ia tak mempunya kamar sendiri karena dulu
ia menetap di Korea. Jika Lee Ji Hoon pulang, ia lebih senang tidur di kursi
sofa ruang tv yang berada tepat di depan kamarku. Dan sekarang, aku tidur di
kamar Lee Jun Gi, kamar mewah yang dulu sempat menjadi saksi bagaimana Lee Jun
Gi memperlakukanku seperti bidadarinya sebelum Amanda datang. Dulu aku lebih
sering menonton tv di kamarnya karena nyaman. Sebelum Amanda datang, aku malah
sering tidur berdua dengan Lee Jun Gi di kasur ukuran King Size ini. Kenangan
itu muncul lagi, ketika aku masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang mewah ini, kini
di hiasi dengan foto pernikahan Amanda dengan Lee Jun Gi. Foto itu menggantikan
fotoku yang sedang mencium bunga mawar putih favoritku. Foto yang di ambil Lee
Chi Hoon di taman Bunga Bougenvile Lembang. Ya, aku tahu. Aku sudah tak berarti
baginya. Perkataannya tentang aku yang sangat berarti baginya itu ‘BULLSHIT’.
Sangat
jelas, Amanda memang wanita satu-satunya yang di cintai Lee Jun Gi. Pernyataan
cintanya padaku itu hanya omong kosong. Iya omong kosong. Ia hanya memberiku
harapan palsu lagi. Ia hanya mengangkatku ke atas awan lalu ia siap
membantingku ke tanah. Lee Jun Gi, ia tak berubah sedikitpun. Ia masih
mempermainkanku layaknya anak kecil yang sedang di beri kotak hadiah yang bagus
dan isinya katak yang siap melompat ke wajahku.
Lee
Jun Gi, haruskah aku marah padamu? Haruskah aku memberimu pelajaran? Haruskah
aku meninggalkanmu lagi? Haruskah aku membalas semuanya? Sekuat apapun aku
marah padamu, Lee Jun Gi. Hatiku tetap berkata ‘aku mencintaimu’. Lagipula aku
memahami Al-Qur’an tentang wajibnya saling memaafkan. Meskipun aku sempat
marah-marah pada Lee Jun Gi kala itu. Aku selalu ingat, Allah Subhanahu
Wata’ala mengajarkanku tentang wajibnya memaafkan seperti yangtertulis di ayat
suci Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199 yang menyebutkan “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengajarkan yang makruf, serta jangan
pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Ya,
aku memaafkannya demi Agamaku. Aku memaafkannya karena aku patuh pada Allah.
Sekalipun hawa nafsuku berkata ‘balaslah perbuatannya, agar ia merasakan apa
yang kamu rasakan.’
Tapi
aku tak memperdulikannya. Aku hanya patuh pada apa yang Allah ajarkan dalam
Al-Qur’an. Sekalipun Iblis mengelilingiku untuk membalas dendam pada Lee Jun
Gi, Iblis akan kalah dengan kalimat Astaghfirullahal’adzim
yang selalu aku bacakan jika aku sedang memendam amarah pada Lee Jun Gi.
Hari-hariku,
aku habiskan untuk menemani Tante Jae Ha di rumah. Kadang aku menemaninya
berbelanja kebutuhan sehari-harinya dan berbelanja bahan membuat roti. Toko
ChocoLee Bakery masih melayani pelanggannya. Toko itu hanya tutup satu minggu
setelah Paman Jae Joon meninggal. Jika ada waktu luang aku membantu Tante Jae
Ha untuk membuat roti.
Ini sudah akhir bulan Januari tepatnya tanggal
20. Tapi Lee Jun Gi belum memperlihatkan dirinya di hadapanku. Rendi meneleponku,
kali ini dia menggunakan Video Call. Saat itu aku sedang makan dengan
kawan-kawanku di sebuah Restoran khas makanan Sunda. Saat aku menerima Video
Call darinya, aku di suraki oleh kawan-kawanku. Mereka menyurakiku hingga
terdengar jelas oleh Rendi. Aku hanya tersenyum pada mereka. Seperti biasa
Rendi menanyakan kabarku yang hampir setiap hari pasti di tanyakan olehnya.
Sebetulnya aku bosan. Bosan terus-terusan di telepon oleh Rendi, meskipun ia
calon suamiku. Tak seperti calon pengantin wanita lainnya yang bahagia di
saat-saat akhir masa lajangnya, aku malah cenderung bersedih karena sebentar
lagi Rendi akan mempersuntingku.
Seharusnya
aku meminta pada Allah dengan melaksanakan Shalat Istikharah. Memilih antara
Lee Jun Gi laki-laki yang sebetulnya aku cintai meskipun ia berkali-kali
menghancurkanku ataukah Rendi Gunadi Khan yang sepertinya ia sangat
mencintaiku. Kadang ragu itu menghampiriku, terlebih setelah aku tahu Lee Jun
Gi memeluk Islam dan namanya berganti menjadi Muhammad Gaza Lee Al-Thafariz.
Tapi aku terlanjur sakit hati oleh Lee Jun Gi. Aku hanya ingin membuktikan
padanya bahwa akupun bisa mendapatkan Laki-laki yang lebih baik darinya.
Layaknya dia mendapatkan Amanda waktu itu.
Rendi
sebetulnya hanya memberitahuku tentang keluarganya dari India yang ingin
bertemu dengan keluargaku. Karena aku tak punya keluarga selain Tante Jae Ha,
Lee Jun Gi dan Lee Ji Hoon akhirnya aku memberitahukan berita ini pada Tante
Jae Ha. Dari Restoran Khas Sunda itu, aku langsung pulang ke rumah. Harusnya
aku mengunjungi rumah sakit dulu untuk absensi pulang tapi karena terlanjur
malas akhirnya aku memilih pulang ke rumah.
Saat
aku pulang, aku melihat Lee Jun Gi. Ia sedang duduk di kursi sofa dan sedang
memegang Al-Qur’an. Lee Jun Gi sedang membaca Al-Qur’an. Pakaiannya pun
berubah. Dulu ia sering memakai kaos jika di rumah tapi saat ini, aku melihat
Lee Jun Gi memakai baju kemeja koko. Baju koko yang sedang hits di Indonesia.
Ia pun memakai kopiah, Lee Jun Gi yang aku lihat sekarang bukan Lee Jun Gi yang
aku lihat saat aku bertengkar dengannya di Villa Lembang.
“Lee
Jun Gi”
Gumamku.
“Assallamu’alaikum
Lightly”
“walaikum
sallam Lee Jun Gi. oh Tante Jae Ha mana?”
“Omma
lagi pergi ke Toko Roti Lightly, Omma tadi aku antar ke Braga katanya dia mau
melayani pelanggan”
Lee
Jun Gi, berbicara sangat lemah lembut padaku. Lebih lemah lembut dari saat dia
menjadi malaikat tanpa sayapku. Ah.. caranya berbicara membuat hatiku meleleh.
“Lightly,
ada apa?”
“oh..
ya, ehm.. Jun Gi, karena kamu waliku. Aku bicara sama kamu aja ya”
“oh
ya boleh, ada apa?”
“
keluarga Rendi dari India akan datang berkunjung ke Indonesia. Mereka ingin
berkenalan dengan keluargaku. Aku hanya punya Tante Jae Ha yang sudah aku
anggap sebagai ibuku. Kamu sudah aku anggap sebagai kakak kandungku dan Lee Ji Hoon, dia adikku. Aku gak punya
keluarga lain selain kalian jadi Keluarga Rendi akan mengunjungi kalian, bisa
kan?”
Lee
Jun Gi, ia menunduk setelah aku menceritakan keinginan keluarga Rendi yang akan
berkunjung ke Indonesia. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan aku melihat
matanya berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh dan ia mengucapkan:
“iya,
tentu boleh Lightly”
“terima
kasih Lee Jun Gi”
Lee
Jun Gi kemudian masuk ke kamarnya yang juga kamarku. Aku berpikir untuk pindah
lagi ke Appartement karena Tante Jae Ha sudah ada yang menemani. Entah apa yang
Lee Jun Gi rasakan saat aku memberitahunya bahwa keluarga Rendi dari India akan
mengunjungi keluargaku di Indonesia. Air mata seperti ia tahan untuk keluar
dari pelupuk matanya. Aku mengetuk pintu kamar Lee Jun Gi karena
barang-barangku ada di kamar itu. Aku bermaksud untuk berganti pakaian. Dengan
pakaian yang biasa aku pakai di rumah.
“tok..tok..tok
Jun Gi, maaf aku mau masuk bisa? ada pakaianku di sana”
Lee
Jun Gi kemudian membuka pintunya.
“oh
iya Lightly, silahkan masuk dan berganti pakaian aku akan menunggu adzan
Maghrib di ruang tv”
Aku
memasuki kamar itu dan berganti pakaian. Tak lama adzan maghrib berkumandang.
Aku membuka pintu kamarku dan melihat Lee Jun Gi sedang berdiri sambil
mengangkat tangannya. Ia berdo’a. Berdo’a seperti ummat muslim lainnya.
“Jun
Gi, apa yg sedang kamu lakukan?”
Tanyaku.
“aku
sedang berdo’a, do’a yg di panjatkan setelah adzan dan sebelum iqamah
berkumandang itu lebih di dengar dan lebih di ijabah oleh Allah”
“oh..
kamu berdo’a apa?
Jujur
aku kepo atau banyak ingin tahu tentang do’anya.
Bersambung ke part 3